4 Maret 2024
Kamuflase Moderasi Beragama Yang Menyesatkan
74 / 100

Dimensi.id-Moderasi beragama kembali diaruskan oleh penguasa. Sosialisasi terus digencarkan ke tengah masyarakat. Hal ini dilakukan karena moderasi beragama dianggap sebagai solusi keberagaman yang ada di negeri ini sekaligus sebagai instrument yang dipandang mampu menyatukan keberagaman yang ada.

Mencuatnya stigma radikalisme yang bergema di seantero dunia, tidak terkecuali di tanah air ini, menjadi satu tarikan napas dengan kebijakan dan berbagai agenda untuk membendung intoleransi. Sudah mafhum rasanya ketika menyimak rentetan pemberitaan di media mainstream bahwa opini masyarakat tengah tergiring pada kondisi darurat intoleransi.

Intoleransi oleh opini global selalu dikaitkan dengan radikalisme dan tindak kekerasan yang dituduhkan pada umat Islam. Sikap intoleransi ini bak sudah dimiliki oleh tuannya yaitu umat Islam tersebut. Mereka dianggap sebagai kelompok yang paling tidak toleran dengan penganut keyakinan lainnya.

Bila kita detili lebih dalam, benarkah dengan moderasi agama dapat menyatukan umat yang dianggap bercerai berai atau ada kepentingan lain di balik semua ini?

Tidak bisa kita pungkiri bahwa ada skenario besar diaruskannya wacana moderasi oleh musuh Islam yang ingin mempertahankan hegemoninya di dunia. Mereka ingin sistem kapitalis neoliberalis tetap bercokol terutama di negeri-negeri Islam.

Setelah umat merespon negatif strategi mereka tentang terorisme dan radikalisme, mereka merancang strategi moderasi agama sebagai senjata baru untuk menyerang Islam dan menjauhkan mereka dari Islam kaffah. Proyek baru ini merupakan kelanjutan dari proyek-proyek jahat sebelumnya. Sayangnya proyek jahat ini berhasil memukau sebagian kalangan termasuk ulama dan cendikiawan, karena mereka menarasikan Islam dengan istilah Islam ramah dengan jalan tengah (moderat) tidak ke kiri atau liberal dan tidak ke kanan atau radikal.

Proyek ini pun memaksa kaum muslimin menilai dan mendefinisikan Islam dengan sudut pandang Barat. Yakni Islam yang kompromi dengan nilai mereka, tidak menyerang dan toleransi terhadap pandangan hidup mereka serta siap meninggalkan syariat atas nama modernitas, kesetaraan dan perdamaian dunia. Padahal jelas barat ingin menjauhkan umat dari dari identitas hakikinya sebagai umat terbaik. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Bahaya Moderasi Beragama Bagi Akidah Umat Islam

Moderasi beragama menjadikan umat meragukan ajaran Islam, tidak bangga dengan agamanya, dan sinkretisme dengan pemikiran di luar Islam. Sebut saja tradisi Perayaan Hari Besar Agama Bersama yang dianggap untuk menyuburkan kerukunan umat beragama atau membangun toleransi, akan tetapi itu malah menyuburkan kemunafikan.

Demikian juga dengan kata wasathiyah yang kerap dihubungkan dengan moderat yang sudah jelas berbeda maknanya. Tafsir Jalalain (1/149) menyebutkan bahwa makna ‘ummat[an] wasatha’ dalam QS al-Baqarah ayat 143 adalah ‘khiyar[an] wa ‘udul[an] ’ (umat terbaik dan adil).

Jadi, ummat[an] wasatha bukanlah umat moderat sebagaimana pengertian Barat. Dengan demikian istilah moderasi Islam lebih pada upaya mengubah ajaran Islam ke arah liberal.

Karena itu tidaklah mengherankan, atas nama moderasi, ajaran Islam yang dipandang membahayakan sekularisme/kapitalisme/liberalisme maupun sosialisme/komunisme kemudian dihilangkan, atau diarahkan sesuai dengan pandangan idelogi kapitalisme ataupun komunisme tersebut.

Menyamakan persepsi moderasi adalah menyamakan persepsi untuk merusak Islam

Penanaman nilai toleransi berbasis paham sekularisme dan pluralisme atas nama moderasi juga membuat ajaran Islam terkebiri dari jati dirinya yang asli yaitu sebagai petunjuk dan solusi dari problema hidup, bukan hanya untuk umat Islam sendiri tapi umat manusia secara keseluruhan sebagai rahmatan Lil alamin.

Namun ketika umat tidak memahami Islam sebagai pandangan hidup (mabda), menjadikan mayoritas ulama tidak mampu menangkap penyesatan di balik moderasi. Akhirnya mereka mudah terbawa arus. Padahal sejak masa Rasul Saw dan para sahabat tidak dikenal istilah moderasi. Seharusnya ulama sebagai pewaris nabi membimbing umat agar berislam sebagaimana Islam yang dibawa Nabi.

Ketika ada wacana menyamakan persepsi moderasi agama artinya mereka sedang menyamakan persepsi tentang merusak Islam. Karena moderasi adalah senjata baru Barat yang mengarahkan Islam sejalan dengan nilai kapitalisme sekuler. Dengan cara itu Barat berupaya mengamankan posisinya dan menancapkan imperialismenya dalam waktu yang lebih panjang.

Baca Juga : Gelombang Panas Melanda Dunia Butuh Solusi Tuntas

Moderasi Beragama Bagian dari Strategi Penjajahan Barat

Narasi bahwa ancaman terbesar bagi kemanusiaan adalah radikalisme dan intoleransi terus dilemparkan ke tengah umat. Maka satu-satunya solusi hakiki adalah menderaskan moderasi Islam. Ide ini lantas masuk dalam berbagai ide-ide sekuler liberal pluralis. Misalnya ide demokratisasi, HAM, rekontekstualisasi ajaran Islam, toleransi, dialog antaragama, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, pluralisme, dan sejenisnya. Seakan-akan moderasi Islam adalah segala-galanya.

Pertanyaan yang kemudian terbersit di benak kita, mengapa terhadap aturan agama Islam, pemerintah saat ini begitu alergi? Seolah aturan Islam sebagai biang keladi permasalahan intoleransi di negeri ini sehingga memberikan kesan bahwa umat Islam begitu anarkis dan arogan.

Ternyata dasar perbuatan mereka adalah semata-mata ingin mengikuti langkah agenda Barat supaya dukungan terhadap kekuasaan mereka tetap terawat. Pasalnya, monsterisasi terhadap aturan agama Islam ini datang dari propaganda Barat yang digawangi oleh Amerika Serikat, yang melabeli Islam sebagai biang terorisme. Umat Islam dijauhkan dari penerapan aturan agamanya sendiri karena jika terlalu dalam mempelajari Islam dinilai akan terjebak dalam radikalisme dan merupakan bibit-bibit awal terorisme.

Pengarusan moderasi memang dilandaskan pada asumsi yang dipaksakan bahwa agama Islam yang dipahami dengan pola pikir radikal hanya akan menjadi ancaman. Masalahnya, ancaman buat siapa?

Terlebih, tidak bisa ditutupi bahwa narasi terorisme dan radikalisme adalah ciptaan Barat untuk menghalangi kebangkitan ideologi Islam. Tidak bisa menafikan pula bahwa proyek moderasi Islam adalah rekomendasi sekaligus proyek global Barat untuk menjauhkan umat dari modal kebangkitan.

Dokumen-dokumen lama RAND Corporation jelas menunjukkan, ada hubungan erat antara penyebarluasan Islam moderat di negeri muslim dengan agenda liberalisasi ekonomi. Ada kaitan pula antara pembentukan jaringan muslim moderat ini dengan kepentingan nasional Amerika di kancah politik internasional.

Oleh karena itu, alangkah naifnya jika umat Islam turut berpikir bahwa proyek moderasi Islam adalah proyek yang baik untuk mereka. Apalagi mereka turut mendukung, bahkan mau menjadi eksekutor lapang untuk menyukseskan target global pengukuhan penjajahan Amerika.

Baca Juga : Sudahlah Pengangguran Tertimpa Kemiskinan Pula

Islam Menyatukan Umat

Bagi umat Islam yang peka, moderasi beragama tidak bisa dianggap biasa. Selain ada sisi politis yakni melanggengkan penjajahan juga menyasar hal-hal yang sangat prinsip dalam Islam. Sampai kapan mereka terus membodohi umat, bahkan para ulama dan cendikiawanpun diperalat. Padahal kunci kebaikan dan solusi kehidupan ada pada agama, yaitu Islam Ideologi yang sempurna. Kemulian sejati hanya ada pada Islam.

Sejarah justru mencatat syariat Islam yang diterapkan secara kaffah oleh Daulah Islam menjadi kunci sukses penyatuan berbagai bangsa, ras, bahasa dan agama di dunia. Daulah Islam menjadi satu-satunya negara di dunia yang mampu mewujudkan toleransi hakiki. Hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk agama dan kultur yang berbeda-beda selama berabad-abad lamanya. Semoga para ulama ideologi dan para pengemban dakwah tetap istiqamah dalam perjuangannya walau tantangan semakin berat. Hingga berharap kemenangan Islam hakiki segera terwujud.

Kembalilah Kepada Islam Kaffah

Dengan demikian, berbagai upaya untuk memoderasi agama justru berpotensi besar menyimpangkan agama. Yang terbentuk dari upaya moderasi ini tidak lain adalah muslim liberal karena ciri-ciri moderat ternyata sama dengan dengan liberal.

Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi menyimpulkan jawaban dari salah satu peneliti RAND Corporation atas pertanyaannya bahwa orang modern itu adalah orang liberal, serta orang liberal itu orang moderat. Dengan demikian, pada hakikatnya moderasi beragama itu liberalisasi beragama sehingga harus ditinggalkan dan kembali pada Islam sebagaimana ajaran dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Ciri khas seorang mukmin adalah bertakwa dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan seluruh larangan Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan kata lain, wajib untuk menerapkan syariat Islam kafah (menyeluruh) sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 208,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” Wallahu a’lam bi ash shawwab. [Dms]

Penulis : Sabrina Nusaiba

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.