21 April 2024
81 / 100

Dimensi.id-Banjir kembali hadir. Bahkan hingga saat ini, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah. Salah satunya di Kecamatan Karanganyar, Demak, Jawa Tengah. (detik.com, 18/02/2024) Banjir tidak hanya membawa duka secara psikologis melainkan juga kerugian secara materiel. Masih di lokasi yang sama, banjir yang telah merendam area pasar juga membuat lima ton beras membusuk. Kerusakan infrastruktur juga dapat terjadi akibat banjir. Lantas, mengapa banjir kerap hadir dalam masyarakat? Adakah solusi tuntas untuk mengatasi banjir?

Banjir dan Penyebabnya

Memang benar, penyebab banjir bisa beragam. Mulai dari curah hujan tinggi, sistem drainase yang kurang baik, kurangnya lahan untuk daya serap air, dan lain-lain. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa di antara semua penyebab itu termasuk ada ulah tangan manusia yang turut memperparah kondisinya.

Ya, beberapa ulah manusia yang tak kunjung dihentikan masih menjadi penyebab utama munculnya banjir. Tak terkecuali di wilayah yang memiliki sistem drainase yang baik. Berikut ini adalah penyebab bencana alam ini akibat ulah tangan manusia :

Pertama, pengambilalihan fungsi lahan. Sebagian wilayah negeri sebenarnya memiliki fungsi lahan dengan tingkat daya serap air yang tinggi. Seperti lahan gambut dan lahan pantai yang berpasir. Sayangnya, akibat swastanisasi dan kapitalisasi lahan, banyak lahan gambut yang beralih menjadi lahan kebun sawit atau yang lainnya. Walhasil, ketika curah hujan tinggi, air tak dapat diserap dengan baik dan menyebabkan banjir.

Kedua, pembangunan pemukiman dan infrastruktur yang tak terkendali. Tak dapat dimungkiri, pembangunan yang terus meningkat telah menyebabkan area kebun dan persawahan semakin menipis. Ketika area pertanian dan perkebunan beralih fungsi menjadi pemukiman, pabrik, jalan raya dan sejenisnya, maka daya serap air dalam tanah akan terhambat dan naik ke permukaan.

Ketiga, tata kelola sampah yang tidak baik. Sekalipun sebuah wilayah memiliki sistem drainase yang baik, jika kebiasaan buang sampah sembarangan masih menjadi kebiasaan masyarakat, maka banjir akan kerap menghampiri. Termasuk ketika sampah tidak dikelola dengan baik. Sampah yang menggunung akan menjadi sarang penyakit dan penyebab banjir yang tak terelakkan.

Keempat, penggundulan lahan. Hutan yang rimbun merupakan penyerap air yang baik yang telah Allah siapkan untuk kemaslahatan manusia. Nahasnya, akibat kerakusan manusia, hutan kini tak terjaga dari tangan-tangan jahil yang menjadikannya sebagai sumber mencari keuntungan. Tak hanya banjir, bencana tanah longsor pun tak dapat dihindari akibat penggundulan hutan dan lahan produktif.

Banjir Bukan Sekadar Bencana Alam

Bencana alam yang kerap terjadi ini sejatinya bukan sekadar bencana alam. Ini merupakan dampak dari ulah tangan manusia. Allah Swt. berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْن

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum : 41)

Akibat penerapan sistem sekularisme, pembangunan yang bersifat kapitalistik marak terjadi. Hal ini menyebabkan keseimbangan alam tidak terjadi karena alih fungsi lahan secara masif. Oleh karena itu, banjir merupakan teguran dari Allah Swt. ketika alam tidak dikelola sesuai syariat-Nya.

Islam memandang bahwa alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terlebih negara untuk dijaga eksistensi dan ekosistemnya. Negara tidak boleh menjual atau menyerahkan lahan kepada para kapitalis baik individu tertentu, swasta, maupun asing.

Lahan seperti hutan, kebun, dan sejenisnya tidak boleh dieksploitasi secara besar-besaran sehingga mengubah fungsi lahan tersebut. Begitu juga dengan tata kelola ruang hidup harus diatur untuk kemaslahatan masyarakat. Industri yang ada dalam suatu negara juga ditentukan dan dikelola dengan baik. Tidak boleh ada kerusakan alam yang terjadi akibat pendirian industri.

Baca juga : https://dimensi.id/kekerasan-seksual-islam-solusinya/

Banjir dan Peran Negara

Bencana alam dan segala kerusakan yang ditimbulkannya merupakan risiko yang harus ditanggung oleh manusia. Akan tetapi, ketika bencana itu melanda maka perlu penanganan yang tepat agar tidak terulang. Di sinilah peran semua elemen masyarakat dan negara berperan. Negara harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang apa saja yang boleh dilakukan dan tidak terhadap lingkungan.

Aturan negara juga harus jelas, tegas, dan mengikat semua anggota masyarakat. Negara tentu harus terikat dengan hukum syarak dalam menjalankan roda pemerintahan. Sebagai penanggung jawab rakyat, jika ada bencana alam atau musibah terjadi, negara memiliki peran untuk mengatasi dan menanggulangi agar kejadian serupa tidak terulang. Seperti memberikan bantuan kepada korban bencana, melakukan pencegahan, dan menyelesaikan masalah di lapangan.

Mengatur tata kelola ruang, sistem drainase yang baik, pengelolaan sampah yang baik, melakukan reboisasi, dan beberapa tindakan lain jelas harus dilakukan. Pemberian sanksi tegas sesuai syariat bagi para perusak alam juga tidak boleh luput dari tugas negara. Tentu saja semua itu butuh pemimpin yang beriman, amanah, tanggung jawab, dan bertakwa kepada Allah Swt. Sebab semua kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.

Wallahu A’lam Bishawab. []

 

1 thought on “Banjir : Akibat Pembangunan Kapitalistik?

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.