21 April 2024
58 / 100

Oleh Azizah

Kasus bunuh diri pada anak makin memprihatinkan. Masih segar dalam ingatan apa yang dilakukan AKA, 10, salah satu siswa SD di Pekalongan, Jawa Tengah, kini menjadi sorotan publik dan pemerintah setempat. AKA diketahui mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar, pada Rabu (22/11) lalu.Penyebabnya, konon, bocah yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu merasa kecewa usai ditegur orang tuanya karena terus-terusan main HP
Seorang remaja ditemukan tewas tergantung di BTN Bumi Indah Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (10/11). Belum diketahui motif CC (16) nekat mengakhiri aksinya tersebut.

Dari fakta di atas dapat kita lihat bahwa makin hari kasus bunuh diri makin banyak khususnya di Indonesia. Mirisnya kasus tersebut kini juga dilakukan oleh pelajar yang notabene anak-anak. Lalu, apa kira-kira sebabnya?

Disadari atau tidak, gempuran pemikiran liberalisme kian masif digaungkan. Dampaknya pemikiran banyak orang mulai teracuni oleh ide-ide tersebut yang dimasukkan dalam kehidupan sehari hari. Termasuk di berbagai media.

Sayangnya hal tersebut tidak diiringi dengan pemahaman yang benar mengenai bagaimana melakukan interaksi yang baik dengan orang lain. Dampaknya banyak orang yang justru mendapatkan efek buruk dari bermedia sosial, salah satunya adalah mental illness.

Mental illness ini membuat orang sekarang layaknya bermental stroberi yang lemah sehingga membuat mereka lebih memilih mengakhiri hidupnya apabila menemui suatu permasalahan hidup. Mirisnya lagi hal tersebut mulai dilakukan oleh para remaja bahkan anak di bawah umur. Mereka dengan mudahnya berfikir untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri hanya karena masalah yang sebenarnya sepele. Bahkan diusia mereka yang masih belia mereka sudah mengenal berbagai cara bunuh diri.

Bagaimanapun masalahnya Islam tetap melarang bunuh diri dengan cara apapun itu,bahkan dalil larangan tersebut telah jelas tercantum dalam surat An-Nisa ayat 29:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa apapun masalah dalam hidup kita bunuh diri bukanlah sebuah solusi. Bunuh diri hanyalah lari dari suatu masalah dan kita ketahui sendiri bahwa hal tersebut bukanlah ciri seorang muslim sejati. Seorang muslim akan selalu bersabar menghadapi setiap masalah yg ada dalam hidupnya. Seorang muslim akan selalu menyadari bahwa setiap permasalahan dalam hidup kita pasti bisa diselesaikan dan pasti ada solusinya. Kita harus ingat bahwa Allah selalu bersama kita, selain itu sesungguhnya Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemampuannya. Allah Swt. berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

Untuk menghentikan kasus bunuh diri atau mental illness juga memerlukan solusi yang komprehensif. Keimanan seseorang memang menjadi kuncinya. Namun, pembentukan sistem pendidikan dan sistem lainnya yang sesuai dengan Islam juga harus dilakukan. Sebab, mental illness merupakan dampak dari penerapan sistem sekuler yang jelas bertentangan dengan fitrah manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.