4 Maret 2024
11 / 100

Dimensi.id-Wakil Presiden Ma’ruf Amin bicara tanggung jawab keagamaan para kiai saat berkunjung ke Ponpes Muqimus Sunnah, Palembang. Ma’ruf mengatakan banyak orang modern yang meninggalkan agama. “Pertama, saya pertemuan dengan ulama itu membahas masalah-masalah yang lebih luas yaitu tanggung jawab ulama, ada dua yang harus dilakukan,” kata Ma’ruf di Ponpes Muqimus Sunnah, Palembang, Sumatera Selatan (detiknews.com, 7/7/2023).

 

Pertama itu tanggung jawab keagamaan saya nyebutnya masuliyah diniyah, karena memang di zaman modern ini banyak kecenderungan orang sudah meninggalkan agama. Contohnya, misalnya orang, kita bisa, we can, tidak pernah menyebut, insyaallah, nggak ada insyaallah, Allah-nya nggak hadir, hanya kita saja yang ada,” kata Ma’ruf.

 

Yang kedua itu tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan, karena ulama itu, tanggung jawab kebangsaan itu melekat pada tanggung jawab ulama karena ada prinsip yang kita anut bahwa hubbul wathon minal iman, cinta tanah air bagian dari iman, konsekuensinya ya kita harus punya, bertanggung jawab terhadap masalah bangsa ini, siapapun yang berkuasa, siapapun yang memimpin bangsa ini. Maka, ulama harus bagian daripada yang harus menjaga negara dan bangsa ini itu saya kira itu tanggung jawab besar,” ujarnya.

 

Dalam pertemuan itu Makruf mengatakan masyarakat harus memiliki pemikiran moderat tidak tekstual atau sempit. Tapi juga jangan yang liberal tapi yang moderat bagaimana kita membangun moderat, ini tanggung jawab ulama. Jangan sampai melupakan Allah sebagai bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa dan kemudian juga menjaga umat dari paham-paham yang menyimpang.

 

Ulama Hari ini Dalam Pusaran Kepentingan 

 

Apa yang dikatakan Ma’ruf Amin memang ada benarnya. Bangsa ini, bahkan kaum Muslim di dunia ini telah menjadi ” manusia modern yang meninggalkan agama”. Semua jelas ada penyebabnya. Yaitu ketika hukum-hukum Islam dicampakkan dan diganti dengan hukum manusia. Jadi, yang sebenarnya, kata modern itu lebih pas jika dikaitkan kepada manusia yang berhukum dengan hukum Allah SWT. Sebab, selain itu adalah kemunduran.

 

Allah SWT berfirman yang artinya, “Demikianlah Kami wahyukan ruh (Al Qur’an) kepadamu dari sisi Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (TQS. Asy-Syura : 52).

 

Alquran adalah cahaya yang siapa saja menjadikannya sebagai penerang hidup maka ia mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. Dan ulama adalah orang terpenting, pewaris para nabi yang dengan keilmuannya memberikan cahaya ilmu, tsaqofah dan pengetahuan bagi manusia. Sayangnya, hari ini banyak ulama yang terjebak dalam pusaran kepentingan segelintir orang. Wapres kita contoh nyatanya. Ia dipilih ” rakyat” menjadi pendamping presiden bukan tanpa alasan.

 

Kaum Muslim yang bergelora semangatnya, masih menginginkan pemimpin Muslim yang Hanif dan faham dengan derita umat, diambil lah dari kalangan ulama ,sehingga terkesan aspirasi kaum Muslimin telah terakomodasi. Perkara bagaimana kiprahnya, biarkan waktu yang menjawab. Bergantung pula siapa yang berbisik. Hingga hampir tiba masa pemilu lagi, bangsa Indonesia belum sekalipun melihat seorang ulama panutan kemudian memberikan dorongan bagi kaum Muslimin untuk mengambil Islam secara keseluruhan.

 

Tak ada lagi jejak fatwa-fatwanya yang bermanfaat bagi kaum Muslim sebagaimana saat beliau menjadi ketua MUI. Bahkan tak ada pembelaannya terhadap ulama-ulama yang dipersekusi tanpa pembuktian yang jelas kesalahannya apa. Moderasi Islam yang dibangun benar-benar kebablasan, hingga jika ada ulama yang menyerukan khilafah, jihad, Islam Kaffah dan lainnya yang semua itu masih jelas bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dianggap sebagai musuh negara. Beliau bungkam.

 

Begitupun ulama yang lain, seolah pondoknya lebih penting, santrinya, jaringan komunitasnya hingga lupa, bahwa sejatinya ulama dan masyarakat tidak sedang baik-baik saja, arus sekulerisme liberal kian menghujam dalam ke jantung-jantung kaum Muslim dan ada kewajiban mengembalikan kaum Muslim kepada khittahnya yaitu “Khairu Ummah” umat yang terbaik, dari umat apapun di dunia ini.

 

Hanya Islam Solusi Persoalan 

 

Islam Tak sekadar pengatur ibadah, namun juga pengatur seluruh urusan umat di berbagai aspek. Sebuah peradaban yang telah cemerlang, ditulis dengan tinta emas dalam sejarah dunia. Menjadi mercusuar bagi negara-negara di sekitarnya. Memiliki banyak ulama (ilmuwan) yang tak hanya menguasai lima bidang ilmu pengetahuan , atau yang diistilahkan sebagai polymatch. Mereka juga ahli hadis, fikih dan tsaqofah Islam dan lainnya.

 

Sebut saja Ibnu Sina, yang sangat dikenal dalam bidang sains dan pengobatan. Ibnu Sina juga memiliki kemahiran tinggi dalam bidang agama, falsafah, dan sebagainya. Al-Farabi adalah seorang jenius yang menguasai 89 bahasa dan guru besar Muslim dalam bidang fiqih, filsafat, sains, kedokteran, musik, dan puisi. Al-Khawarizmi, menciptakan pemakaian secans dan tangens dalam trigonometri dan astronomi. Juga menciptakan sistem penomoran yang sangat penting hingga digunakan pada zaman sekarang.

 

Dan masih banyak lagi, mereka terlibat dalam politik, namun bukan politik praktis sebagaimana hari ini, yang hanya sekadar digunakan sebagai kantong suara, penyeimbang konstituen Muslim. Saat Islam memiliki institusi negara, Khilafah, para ilmuwan ini banyak berpolitik dengan sumbangsihnya keilmuannya kepada maslahat umat.

 

Dengan demikian, tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan, semestinya bukan sekadar siapa pemimpin bangsa ini, namun juga harus menjadi pertimbangan ulama hingga seluruh kaum Muslim dengan apa pemimpin itu memimpin. Jika dengan demokrasi kapitalisme jelas harus ditolak. Bukankah ulama adalah mereka yang berilmu dan pemegang teguh ajaran agama? Lantas bagaimana jika agamanya melarang menggunakan hukum selain hukum Allah?

 

Kemudian ia mengajarkan kepada muridnya sekaligus umat demokrasi yang kita tahu bukan sekadar cara memilih pemimpin tapi memaksa kaum Muslim yang berakidah Tiada Tuhan selain Allah berhukum pada hukum buatan manusia. Nauzubillah.

 

Dalam kitabnya Ihya’ UlumidDin, Imam al-Ghazali menyatakan “Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa. Rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Siapa saja yang terpedaya oleh kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil. Lalu bagaimana pula dia hendak melakukan pengawasan terhadap penguasa dan perkara besar?” (Al-Ghazali, Al-Ihyâ’, 2/357). Wallahu a’lam bish showab. [DMS].

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.