21 April 2024
11 / 100

Dimensi.id–Sudah 4 hari kita memasuki tahun baru, 2024. Tentunya hari-harinya masih sama namun peristiwa yang terjadi sudah berbeda. Perbincangan tentang perayaan malam tahun Baru juga masih menghangat. Berbagai destinasi wisata menyajikan berbagai paket acara agar kesan yang tercipta tak berlalu begitu saja.

 

Sudah bisa dibayangkan, betapa macetnya beberapa destinasi wisata yang sudah menjadi ikon pariwisata mancanegara maupun lokal. Manusia membludak dan pasti yang ditunggu adalah pesta kembang api. Semua bersuka ria, tahun baru identik dengan harapan baru. Pasangan muda mudi melepaskan nafsu mereka dengan alasan demi kebahagiaan yang sempurna.

 

Lonceng berdentang, kembang api menyala dan setiap orang menari persis seperti ritual keagamaan sekte pemuja berhala, dan memang begitulah asal perayaan tahun Baru sebagai budaya yang diadopsi Nasrani agar lebih memikat banyak orang untuk meyakini agamanya. Hingga kaum muslim pun larut bercampur baur tanpa ilmu yang memadai terkait ada atau tidaknya ajaran itu dalam agamanya.

 

Muslim Sejatinya Satu Tubuh

 

Pada malam itu, pedihnya penderitaan saudara seakidah tak lagi ada di ingatan. Padahal gegap gempita perayaan tahun baru sudah pasti tak bisa dirasakan warga Palestina. Mereka berharap di tahun 2024 bisa kembali ke tanah air dan menjalani kehidupan normal. Namun apa yang terjadi?

 

Israel makin beringas menyerang warga Palestina di Jalur Gaza. Laporan terbaru menyebut pasukan Israel memaksa masuk ke area tengah dan selatan Gaza pada Sabtu (30/12) waktu setempat.

 

Menurut penuturan warga sekitar, serangan Israel dilancarkan menggunakan artileri berat. Sebelumnya, Israel menyatakan perang masih akan berlanjut hingga berbulan-bulan.

 

Serangan terbaru difokuskan di al-Bureij, Nuseirat, Maghazi, dan Khan Younis. Pesawat tempur Israel secara intens menyasar beberapa rumah sakit di Gaza dan melukai pasien Palestina.

 

Laporan Reuters dari informasi otoritas Hamas mengatakan bombardir Israel menewaskan 165 orang di Gaza selama 24 jam terakhir. Selain itu, ada 250 orang yang mengalami luka parah (cnbcindonesia.com, 31/12/2023).

 

Belum lagi dengan adanya pengusiran pengungsi Rohingya oleh mahasiswa di Aceh, menyisakan trauma dan ketakutan, hingga mereka berkata “Kami kira akan mati di sini”. Bukankah seharusnya umat Islam ibarat satu tubuh? Ketika ada satu bagian tubuh terluka, maka bagian tubuh yang lain akan merespon dengan muncul demam tinggi misalnya. Namun di pergantian tahun ini nampak nyata paradoks kaum muslim dalam bersikap. Pesta kembang api di tengah berkecamuknya perang di Gaza, jumlah korban perang meningkat dan penderitaaan muslim Rohingya adalah satu bentuk abainya kaum muslim terhadap urusan umat.

 

Paradoks Sikap Muslim Apa Sebabnya?

 

Di sisi lain, seiring waktu, sikap umat mulai kendor dalam menyuarakan pembelaan terhadap Palestina, juga pemboikotan produk mulai melonggar. Umat juga terpecah dalam mensikapi muslim Rohingya. Apalagi makin kuatnya pembungkaman oleh Meta pada akun yang menunjukkan pembelaan terhadap Palestina. Inilah buah Nasionalisme yang memupus ukhuwah.

 

Hingga memudahkan kekuatan global barat menyerang setiap tubuh yang lemah, karena kaum muslim terus menerus minum racun yang ditawarkan. Ya, racun nasionalisme yang hanya fokus pada kepentingan negara sendiri, terbatas oleh teritorial. Padahal, teritorial ini adalah penetapan penjajah, kafir barat benar-benar menghapus ukhuwah Islamiyah dan menggantinya dengan cara pandang mereka yang sempit, bahkan menghancurkan Islam sebagai akidah dan politik dalam benak setiap kaum muslim.

 

Islam Pemersatu Manusia di Bumi Allah

 

Umat harus terus menyadari bahwa umat Islam adalah satu tubuh, sehingga wajib menunjukkan pembelan, pertolongan dan sikap yang nyata. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,”Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mencintai dan saling menyantuni di antara mereka adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian dari tubuh itu menderita sakit maka seluruh badan turut merasakan sakitnya dengan tak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).

 

Lebih tegas lagi Rasulullah saw. Menyatakan bahwa kesempurnaan iman seorang Muslim hanya dapat tercapai dengan mencintai saudara seiman seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sabda beliau: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”(HR Muttafaq ‘alaih).

 

Sungguh hal ini bukan perkara sepele, sebab Rasulullah menyandingkan dengan kesempurnaan iman seseorang. Artinya, jika cinta kepada saudara seiman mampu menggeser iman menjadi tidak sempurna, lantas dengan hujjah apa kita kelak menghadap Allah ?

 

Maka, tak ada cara lain untuk menjadikan umat kembali bersatu, membela saudara seakidah dan bukan bertekuk lutut di hadapan kaum kafir, yaitu mencampakkan sistem sekuler ini, yang setiap aspeknya selalu memisahkan agama dari kehidupan. Umat butuh Khilafah untuk menjaga agar setiap muslim tepat dalam bersikap mengamalkan hadis Nabi tersebut.

 

Hanya khilafah jualah yang mampu menyelamatkan kaum muslim yang tertindas di bumi manapun. Hanya khilafah yang mampu memobilisir tentara guna berjihad menumpas kezaliman. Hanya khilafah pula yang menjadikan pemimpin tak sekadar cakap dan pintar, namun juga bertakwa dan berkomitmen tinggi menerapkan syariat. Rasulullah saw. Bersabda, “ Sungguh Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikan dia sebagai pelindung “.(HR Muslim). Wallahualam bissawab. [DMS] . 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.