20 Februari 2024

Dimensi.id-Bagaikan jatuh tertimpa tangga, mungkin peribahasa itu pun belumlah tepat untuk menggambarkan kondisi kaum marginal dalam menghadapi kesulitan hidup akibat wabah virus Corona. Wabah virus Corona dan lambannya pemerintah dalam menyelesaikannya, sungguh sangat berdampak pada rakyat kecil dan menengah. Kehidupan mereka yang sebelumnya pas-pasan bertambah berat ketika dihadapkan dengan kondisi ekonomi sekarang yang makin terpuruk.

Di DKI Jakarta, 162.416 pekerja dirumahkan dan kena PHK. Sementara Disnakertrans Jawa Barat mendata 1.476 perusahaan terdampak wabah. Akibatnya sekitar 53.465 pekerja dirumahkan hingga kena PHK. Tidak mustahil kelompok  “nyaris miskin”  pun turut terjerembab dalam kemiskinan kembali. Januari 2020 lalu laporan Bank Dunia berjudul Aspiring Indonesia-Expanding the Middle Class menilai masyarakat Indonesia yang sudah keluar dari garis kemiskinan masih rentan untuk kembali miskin. Mereka mencapai 45% dari penduduk Indonesia atau sebanyak 115 juta orang.

Gelombang PHK akibat terpuruknya perekonomian negara, ditambah berlakunya kebijakan PSBB disebagian wilayah membuat rakyat miskin kian miskin, sehingga himpitan hidup yang sulit ini mengakibatkan depresi. Hal ini ditunjukan dengan bertambahnya jumlah pengemis dan orang gila. Sebagaimana dilansir SuaraJabar.id – Makin banyak orang gangguan jiwa atau orang gila di Jawa Barat. Ini karena mereka di-PHK karena dampak virus corona.

Kadinkes Jabar Berli Hamdani mengatakan peningkatan orang gila di tengah wabah corona ini terlihat dari banyaknya kunjungan ke beberapa rumah sakit jiwa (RSJ) yang ada di Jabar.

“Pastinya ada (peningkatan), walaupun belum ada datanya. Tetapi kunjungan ke RSJ semakin naik,” kata Berli saat dihubungi via pesan singkat, Jumat (17/4/2020).

 Bagaimana tidak, terpuruknya perekonomian negara akibat Corona membuat tanggungan hidup kian berat. saat golongan di bawahnya mendapatkan keringanan. Seperti sejumlah pelanggan listrik non subsidi 900 VA dan 1300 VA yang mengaku tagihan listrik bulanan mereka naik, ketika PLN memberikan keringanan tarif listrik kepada pelanggan subsidi 450 VA dan R1T 900 VA. Kebutuhan pulsa telepon seluler mereka juga membengkak akibat anak-anak mereka harus terhubung internet saat menjalankan BDR (belajar di rumah) atau mengikuti kuliah daring.

Mau mengharapkan uluran tangan pemerintah? Pemerintah jelas makin mumet. Tanpa kondisi krisis saja, kinerja ekonomi rezim hari ini morat-marit, apalagi saat ini.

Sekalipun Joko Widodo mengeluarkan Perppu untuk menambah alokasi belanja APBN 2020 sebesar Rp110 triliun untuk jaring pengaman sosial (social safety net/SSN) melalui kartu sembako, kartu prakerja, dan subsidi listrik, bisa dipastikan, tak semua rakyat yang “harus jatuh miskin” bakal mendapat kebutuhan mendasarnya.

Karena tatanan kapitalisme mengharamkan negara untuk menanggung kebutuhan hidup seluruh warga, sekalipun dalam kondisi krisis. Mereka “harus miskin” dulu untuk mendapatkan jaminan kebutuhan. Itu pun sementara, sehingga disebut jaring pengaman sosial.

Dana Rp 110 triliun digunakan untuk Program Keluarga Harapan (Rp37,4 triliun), Kartu Sembako (Rp43,6 triliun), Paket Sembako (Rp25 triliun), pemberian gratis dan diskon tarif listrik, dan insentif perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) 175 unit rumah. Sehingga dapat dipastikan tidak semua kalangan marginal akan mendapat jaminan kesejahteraan dari pemerintah.

Demikianlah cerminan negara gagal. Gagal memenuhi kebutuhan kalangan terdampak Covid-19. Jangankan memenuhi seluruh kebutuhan primer, mencukupi sembako selama wabah saja tak akan sanggup. Padahal kebutuhan pokok kalangan marginal hari ini tak cuma makan, tapi juga bayar kontrakan rumah, energy (listrik, gas, dan bahan bakar motor),  dana pendidikan anak-anak, hingga pulsa. Pemerintah tidak mampu mencukupinya karena hajat hidup publik tidak berada di tangannya. Tetapi telah diserahkan sebagian atau keseluruhan pada swasta, untuk menjalankan privatisasi milik umum sebagai “amanah” lembaga rente dunia.

Mirisnya, untuk mendapatkan subsidi atau jaminan kebutuhan publik secara gratis, warga negara harus melalui serangkaian prosedur untuk sekadar membuktikan bahwa mereka miskin. Belum lagi keluhan dalam realitasnya penyaluran bantuan tersebut tidak tepat sasaran. Inilah kezaliman luar biasa, yang menyebabkan hidup begitu sempit karenanya banyak diantara kaum miskin yang menjadi gila.

 Berbeda dengan Islam, yang memberikan riayah (pengaturan) terbaik bagi rakyat. Dalam Islam, seorang pemimpin mengetahui betul bahwa kehidupan rakyat dengan segala kebutuhan asasinya merupakan tanggung jawabnya. Landasan akidah dan idrak silabillah akan mencetak seorang pemimpin yang peka dan pantang bermain-main dengan rakyat. Karenanya sahabat sekelas Umar bin Khatab, tak sungkan jika harus memanggul gandum untuk memberi makan seorang janda miskin yang kelaparan.

Dalam kondisi krisis, Khalifah Umar mendirikan darul daqiq atau rumah tepung, dimana siapapun yang butuh makan dapat mengambil dari situ secara cuma-cuma. Beliau mengetahui bahwa kepemimpinannya akan dipertanyakan kelak di akhirat, hingga beliau tak kuasa menahan tangis saat menyaksikan masih ada rakyatnya yang kelaparan.

Disamping itu sebagai umat Islam penting membangun keimanan dengan jalan rasionalitas (aqliyah), Syaikh Taqiyuddin An Nabhani pernah memperingatkan hal ini, bahwa terdapat bahaya ketika beriman hanya dengan “wijdan” (perasaan) yang berisiko jatuh pada kesesatan dan kebodohan. Saat ada kesenjangan antara aktivitas berpikir, keimanan, dan tingkah laku kita sebagai muslim, maka sesungguhnya kita belum beriman seutuhnya.

Karenanya dalam menghadapi hantaman wabah Corona juga keterpurukan ekonomi akibat gagalnya sistem kapitalis sekuler dalam menjamin kesejahteraan disaat wabah diperlukan keimanan berdasarkan proses berpikir yang membawa kita kepada keimanan yang hakiki, sehingga kondisi ini tidak membuat kita terpuruk bahkan depresi.

Tetapi semestinya kondisi ini, membuat keimanan kita tetap kuat dan produktif, tidak kehilangan rasionalitas, sekaligus tidak kehilangan nyali untuk terus berikhtiar. Semoga kondisi ini membuat keimanan kita tetap kuat dan produktif, tidak kehilangan rasionalitas, sekaligus tidak kehilangan nyali untuk membuktikan pada dunia bahwa umat Islam tangguh menghadapi corona dengan imannya! Wallahu A’lam bishshawab

Penulis : Rina Tresna Sari, S.Pd.I (Pendidik Generasi Khoiru Ummah dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.