20 Februari 2024

Dimensi.id-Pulang kampung berbeda dengan mudik kini menjadi dua kata yang diperbincangkan manusia sedunia maya dan nyata. Berawal dari penjelasan Presiden Jokowidodo terkait arti kedua kata tersebut dalam sebuah wawancara dengan wartawan senior Najwa Shihab (23/4/2020).

“Kalau itu bukan mudik. Itu namanya pulang kampung. Karena bekerja di Jabodetabek. Di sini mereka sudah tidak punya pekerjaan ya mereka pulang karena anak dan istri ada di kampug,” ujar Jokowi.

Di sisi lain, pemerintah sudah menegaskan akan melakukan larangan mudik lebaran di tengah pandemi corona (Covid-19). Beberapa langkah akan dilakukan, salah satunya dengan menutup akses jalan tol terutama yang menjadi pintu keluar masuk zona merah.

Namun demikian, Sigit Irfansyah selaku Direktur Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), menegaskan bila tidak ada penutupan jalan tol saat pemberlakukan larangan mudik di terapkan (Kompas.com, 24/4/2020).

“Jadi yang sesuai arahan itu tidak ada penutupan jalan tol, tapi hanya penyekatan dalam upaya pembatasan. Seperti diketahui, jadi mobil logistik untuk barang itu masih bisa lewat, jadi pembatasannya itu nanti bila bukan logisitik akan dilakukan pelarangan,” kata Sigit.

Untuk urusan yang masyarakat setiap tahun mengadakannya saja kembali pemerintah menunjukkan sikap ambigunya. Dengan membolehkan masyarakat dari kota besar pulang ke kampungnya, bukankah kemungkinan penyebaran Corona semakin besar? Sebab kita tidak tahu siapa yang menjadi Carieer atau pembawa virus, yang wajib diperhatikan adalah kota dimana masyarakat itu sebelumnya tinggal, adalah daerah-daerah yang menjadi epidentrum penularan terbesar.

Alangkah bijak jika pemerintah dengan tegas melarang mudik ataupun pulang kampung selama masa pandemi ini. Silahturahmi bisa diganti melalui elektronik. Tak mengurangi essensinya sedikitpun. Bahkan hal ini menjadi penting, mengingat Rasulullah juga melarang kita membahayakan saudara kita yang lain. Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Dalam riwayat al-Hâkim dan al-Baihaqi menambahkan,” Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allâh akan menyulitkannya.”

Dharar (bahaya) adalah lawan dari manfaat. Makna hadits tersebut tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh menimbulkan madharat  (bahaya) tanpa alasan yang dibenarkan dalam syariat. Ada juga yang mengatakan, dharar ialah memudharatkan orang lain yang tidak pernah melakukan hal yang sama padanya, sedang dhirâr ialah  membuat kemudharatan terhadap orang lain yang pernah melakukan hal yang sama padanya dengan cara yang tidak diperbolehkan.

Sangatlah jelas, Islam menjelaskan bagaimana cara berkasih sayang  dalam versi yang lebih luas dan universal. Bisa menjangkau setiap dimensi kehidupan manusia, apapun suku bangsa, agama dan budaya. Yaitu dengan saling mengingatkan dan menjaga agar tak saling merugikan. Dan kapitalis gagal dalam mewujudkan hal ini.

Sebab, dalam pandangan kapitalis, segala sesuatu harus memiliki keuntungan materi. Lihat saja bagaimana PSBB dilakukan ,setiap wilayah konsentrasi penuh menghadapinya, baik dari sisi keamanan, dana dan tenaga kesehatannya. Namun ternyata di sisi lain, mudik dilarang pulang kampung tidak. Keselamatan rakyat ternyata berada di urutan kesekian dibanding dengan pemasukan secara finansial dari migrasi tahunan penduduk Indonesia yang bernama pulang kampung.

Tak takutkah dengan azab Allah yang siap menanti ketika amanah kekuasaan tidak ada pada orang yang tepat?  Menghadapi situasi darurat ini tak hanya butuh pemimpin yang jenius namun juga yang bertakwa. Sebab ditangannyalah tumpuan pengaturan masyarakat secara keseluruhan . Wallahu ‘ lam bish showab.

Penulis : Rut Sri Wahyuningsih

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.