20 Februari 2024

Dimensi.id-Pandemi COVID-19 telah melumpuhkan dunia. Dampak yang ditimbulkan akibat wabah tersebut bukan hanya sebatas nyawa, tapi juga menghancurkan ekonomi. Mulai dari skala keluarga, negara hingga dunia. Tidak hanya itu mentalitas masyarakat yang tak siap menghadapi wabah semakin menambah rumitnya dampak wabah ini.

Dari sisi ekonomi, berdasarkan data dari Kemenaker, 212.394 pekerja dari sektor formal terkena PHK. Pekerja formal yang direncanakan PHK  sebanyak 1.205.191 orang. Di sektor informal, Kemenaker mencatat sekitar 282.000 orang tak memiliki penghasilan.

Angka angka itu bisa jadi lebih sedikit dibanding jumlah sebenarnya. Pasalnya, di Tanah air banyak warga yag bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima, pedagang keliling dan sebagainya. Masa Pagebluk ini membuat banyak warga kesulitan mencari nafkah, terbelit utang, serta terancam kelaparan. Mereka yang semula punya mata pencaharian menjadi terjepit. Yang sudah sulit makin terbelit.

Kebijakan sosial distansing tidak berfungsi optimal karena minimnya kecukupan kebutuhan pokok yang disiapkan oleh negara bagi warganya. Akibatnya   masih banyak warga yang harus tetap keluar mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya.

Minimnya kebijakan politik informasi , semakin menambah masalah yang muncul di tengah masyarakat. Banyaknya penolakan warga terhadap pemakaman jenazah COVID-19, terlebih yang ditolak itu adalah tenaga medis yang telah mengorbankan nyawa untuk menjalankan tugas kemanusiaan membuktikan bahwa politik informasi yang ada tidak mampu mengedukasi warga bagaimana mensikapi  wabah dengan benar.

Di tingkat dunia, buruknya penerapan sistem Kapitalis sekuler menyebabkan negara besar manapun yang ada di dunia ini tak berdaya menghadapi wabah corona. Henry Kissinger, Sekretaris Penasehat Keamanan Negara dan Nasional, pada The Nixon and Ford Administration mengatakan bahwa sekarang kita hidup di suatu periode yang penting, tantangan sejarah bagi para pemimpin untuk menata krisis ini sambil membangun masa depan. Kegagalan dapat membawa dunia terbakar. Simpulan pernyataannya dalah bahwa wabah corona akan mengubah tatanan dunia selamanya (the coronavirus pandemic will forever alter the world order).

Tatanan dunia seperti apa? Tentu ini menarik untuk dianalisis. Pada Desember 2004, National Inteligent Council (NIC) merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future. Dalam dokumen tersebut, NIC memperkirakan bahwa ada empat skenario yang akan terjadi tahun 2020-an yakni : Pertama. Dovod World; kebangkitan ekonomi Asia dengan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.

Kedua Pax Americana, di mana dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS. Ketiga A New Chaliphate; kebangkitan kembali Khilafah Islam. Yakni Pemerintahan global Islam yang menjadi tantangan nilai-nilai Barat. Keempat, Cycle of Fear; muncul lingkaran ketakutan (phobia). Yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia. Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan.

Menghadapi semua itu, sebagai seorang muslim sudah seharusnya mengoptimalkan takwa, mempersiapkan diri dan membekali diri dengan ikhtiar maksimal baik di level individu, keluarga maupun masyarakat agar wabah yang terjadi menghantarkan berkah untuk kemenangan Islam. Sebagaimana pernyataan Ibnu Khaldun bahwa “wabah penyakit bukan hanya ketentuan Allah atau fenomena acak dari alam tapi wabah merupakan komponen integral dari keruntuhan peradaban.”

Di level individu kita harus menguatkan keyakinan bahwa apapun yang menimpa umat Muhammad saw adalah ketetapan dari Allah swt. Allah swt berfirman :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ                                                                                                           

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman” (QS At Taubah ayat 51).

Bertawakkal dan  menjaga kesehatan dengan memilih makanan sehat serta berolah raga harus dilakukan.  Menjaga jarak secara fisik dan mengenakan masker jika keluar rumah. Juga memperbanyak taubat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Bisa jadi musibah itu datang karena banyaknya dosa dan maksiat yang dilakukan untuk menjadi peringatan bagi manusia agar kembali menapaki jalan yang benar. Dan yang tak kalah penting adalah menjadikan dalil-dalil syariat sebagai filter dalam informasi dan panduan amal, sebab dalam kondisi apapun hisab terhadap apa yang kita lakukan tetap berjalan.

Di level keluarga bisa dilakukan dengan memupuk keyakinan bahwa segala ujian berasal dari Allah swt. Semua kehendak Allah pasti akan memberikan kebaikan bagi orang-orang yang beriman. Membangun keyakinan akan rizki dari Allah swt sehingga ketakutan akan kemiskinan atau kesulitan ekonomi tidak akan mengganggu keharmonisan keluarga. Allah swt berfirman:

 أَوَ لَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ   

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”. (QS az Zumar ayat 52)

Di level masyarakat bisa dilakukan dengan cara menghilangkan kultur individualis dan tidak peduli  terhadap lingkungan meski ditengah suasana social distancing. Justru kesempatan ini bisa digunakan secara optimal untuk membina masyarakat agar lebih dekat dengan Islam. Bukan hanya sebatas membina ibadah mahdhoh tetapi memahamkan masyarakat dengan Islam kaffah. Kenyataannya saat ini masih banyak umat Islam yang belum faham Islam kaffah. Belum faham konsep politik Islam, politik ekonomi Islam, politik pendidikan Islam, politik kesehatan Islam dll.

Syaikh  Muhammad Mutawalli asy-Sya’rowi rahimakumullah saat ditanya oleh orientalis :”Mengapa Allah jadikan orang-orang kafir berkuasa atas kalian, padahal Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang yang beriman (mukminin).” (TQS an-Nisa’: 141). Beliau menjawab, “Karena kami masih muslimin belum mukminin”. Orientalis itu bertanya lagi, “Lalu apa bedanya mukminin dan muslimin?”.

Beliau menjawab : “Kaum muslimin, hari ini menunaikan seluruh syiar Islam, dari shalat, zakat, haji, puasa Ramadhon serta ibadah lainnya. Namun mereka sangat gersang! Mereka gersang ilmu,ekonomi, sosial, militer dan lainnya”. Orientalis itu bertanya kembali, “Lantas apa yang membuat mereka dalam kegersangan semacam ini?”Beliau menjawab, “Al-Quran telah menerangkannya, karena kaum muslimin belum meningkat hingga level mukminin”.

Kegersangan ini tidak lain akibat penerapan sistem sekuler yang menjauhkan umat dari beriman yang benar terhadap seluruh ajaran Islam hingga kaum muslimin tidak mengenal Islam selain ibadah mahdhoh saja, kehilangan pemikiran produktifnya yaitu pemikiran politik.

Jika Kissinger mengatakan bahwa wabah corona akan mengubah tatanan dunia, seharusnya sebagai seorang muslim wajib optimis bahwa tatanan dunia yang menggantikan tatanan kapitalis sekuler adalah tatanan Islam. Peluang kemenangan itu akan tercipta dalam sebuah pertarungan jika lawan kita lemah. Kenyataannya saat ini memang demikian, industri Barat tidak berjalan, rantai pasok makanan terputus, gagal menangani wabah. Di samping itu kita harus yakin bahwa kemenangan Islam adalah janji Allah.

Tapi tatanan Islam itu akan bisa menggantikan tatanan kapitalis saat umat Islam mengimani konsep Islam kaffah dan merealisasikan dalam kehidupan nyata. Disinilah relevansi peran kita untuk mengedukasi umat dengan Islam kaffah. Menjelaskan tentang konsep politik Islam, konsep ekonomi Islam, konsep politik kesehatan Islam, konsep pemerintahan Islam dll.

Bukan hanya mengedukasi umat tapi juga menjalin ukhuwah antar komunitas dengan solidaritas global sebagai umat Nabi Muhammad saw. Moment Ramadhan adalah moment yang tepat untuk ini, dimana syuur umat Islam tengah disatukan oleh perasaan yang sama, mendekatkan diri pada Allah swt. Hal ini bisa kita lakukan dengan memanfaatkan revolusi teknologi 4.0. Dengan berbekal telpon seluler, kita bisa bergerak —  meski di rumah —  mengedukasi umat, menjalin ukhuwah di seantero dunia.

Kita juga bisa bergerak bersama komunitas menasihati pemilik otoritas jika kebijakannya menyimpang dari Islam dalam ibadah maupun dalam meriayah urusan umat. Terlebih jika kebijakannya justru bergantung pada asing. Kita harus menyampaikan bahwa negara harus menjalankan fungsi dasarnya sebagai  raa’in – pemelihara urusan umat – dan junnah (pelindung dari segala kerusakan).

Inilah amalan yang harus kita lakukan, melakukan amal sholeh, menjadikan jati diri umat sebagai khoiru ummah. Bukan sebatas taklim tapi menawarkan Islam sebagai visi politik dunia. Menyiapkan umat agar siap bertarung dengan pemikiran kufur melalui panduan wahyu. Maka saat keimanan masuk dalam sanubari umat akan menjadi bara yang akan menjadi penentu gerak mereka. Mereka tidak bisa bergerak kecuali dengan dorongan iman. Inilah yang akan menjadi sarana turunnya pertolongan Allah dengan kemenangan Islam.

Jadi tugas kita adalah membuka jalan dan menapaki jejak penerapan Islam di masa depan. Dan ini adalah tantangan terbesar. Allah swt berfirman

قَالُوٓاْ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِك عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ َ

Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.

Sebelumnya tak pernah terbayang oleh kita bagaimana mengalahkan kedigdayaan negara-negara Barat. Tapi dengan virus super mungil corona yang dikirimkan Allah, kita bisa menyaksikan bagaimana Barat yang digdaya itu lemah tak berdaya. Karenanya frasa فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ adalah khobar bahwa Allah akan melihat apa yang engkau lakukan, untuk menjadi khalifah di bumi, setelah Allah memenangkan kamu dengan membasmi musuh-musuhmu.

Wallahu a’lam bi showab.[ia]

Penulis : Irianti Aminatun

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.