21 April 2024
8 / 100

Hari raya Iduladha semakin dekat. Umat Islam bersiap menyambut kehadirannya. Ada yang harap-harap cemas lantaran orang tua, keluarga atau kerabat yang menunaikan ibadah haji belum kembali ke tanah air. Ada yang bersedih karena kondisi hari raya tahun ini lebih menyedihkan daripada tahun sebelumnya pasca pandemi Covid-19. Namun ada pula yang berbahagia, karena di tengah impitan ekonomi yang semakin mencekik, masih bisa menjalankan ibadah kurban. Di balik ragamnya rasa menjelang Iduladha, ada sebuah kisah yang sudah sepatutnya menjadi renungan untuk umat Islam. Yaitu tentang ketaatan para nabi Allah dalam menyambut seruan-Nya.

Teladan di Hari Terbaik

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Nasai dan Ahmad dijelaskan, bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Aku datang kepada kalian, sementara kalian mempunyai dua hari raya pada masa jahiliah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Iduladha.”

Dari hadis di atas menunjukkan bahwa Iduladha merupakan salah satu hari terbaik bagi umat Islam. Maka sudah sepatutnya, hari terbaik diisi dengan amalan terbaik di hadapan Allah Swt.

Berbicara mengenai Iduladha, umat Islam akan selalu terkenang dengan kisah keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihi salam. Beliau berdua merelakan diri dan keluarga untuk memenuhi seruan Allah tanpa rasa ragu dan gentar. Meskipun pada saat itu, perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail a.s., begitu sulit bagi Nabi Ibrahim a.s, namun keduanya tetap ikhlas dan rida untuk menjalankan perintah tersebut.

Di sini, jelas terlihat adanya ketaatan secara totalitas yang dilakukan oleh kedua nabi tersebut. Perlu dipahami bahwa nabi merupakan manusia yang juga memiliki potensi akal dan kehidupan yang sama dengan manusia pada umumnya. Para nabi memiliki rasa kasih sayang terhadap anak dan keluarga, rasa ingin memiliki, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah menunjukkan betapa cintanya kedua nabi terhadap Allah Swt. hingga ikhlas mengorbankan keluarganya.

Pengorbanan kedua nabi ini, lantas mendapatkan respons dari Allah Swt. dengan perintah untuk mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba atau kambing untuk disembelih. Perintah itu jugalah yang menyelamatkan Nabi Ismail a.s. dan menentramkan hati Nabi Ibrahim a.s. yang sangat menyayangi putranya. Ketaatan kedua nabi kepada Allah Swt. dengan segala seruan-Nya, baik yang disukai manusia ataupun yang tidak disukai manusia merupakan bukti bahwa Allah Swt. mutlak untuk ditaati. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam menyikapi makna Iduladha bukan sekadar perayaan semata melainkan untuk refleksi bahwa umat Islam harus memiliki ketaatan yang sama seperti para nabi terdahulu.

Ketaatan dan Kewajiban Umat Islam

Dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang-orang beriman harus memiliki ketakwaan kepada Allah Swt. dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, Islam bukanlah agama spiritual belaka, melainkan pedoman hidup layaknya sebuah ideologi.

Dalam memutuskan segala perkara, Islam memerintahkan mukmin hanya berhukum kepada syariat Islam saja, sebagaimana firman Allah Swt.,

“Putuskanlah hukum di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TQS. Al-Maidah: 48)

Perintah ayat di atas menunjukkan bahwa tidak pantas bagi orang yang beriman mengambil hukum selain hukum Islam. Sebab, segala perbuatan mukmin terikat dengan hukum syarak. Keberadaan syariat Islam dalam kehidupan sesungguhnya meliputi segala aspek kehidupan baik aspek politik, ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dll. Oleh karena itu, muslim tidak dibenarkan mengadopsi segala pemikiran dan sumber hukum di luar syariat Islam.

Dalam sistem ekonomi, Islam mengharamkan sistem ekonomi berbasis riba, seperti dalam sistem ekonomi kapitalisme. Islam juga melarang adanya kebebasan dalam bertingkah laku karena dalam sistem pergaulan Islam, laki-laki dan perempuan pada dasarnya terpisah dan tidak boleh melakukan perbuatan yang menganiaya, mendekati zina, dll. Dalam sistem politik Islam yang mewajibkan negara menjadi pengurus rakyat yang baik sesuai dengan nas-nas Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. Dan dalam berbagai sistem lain yang semuanya Islam telah memiliki seperangkat aturan yang harus dijalankan.

Syariat Islam yang wajib ditaati oleh semua muslim merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang tidak ingin manusia mengalami kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat. Begitu juga sebaliknya. Penerapan syariat Islam oleh orang-orang beriman merupakan bukti ketaatan mereka kepada Allah Swt. Oleh karena itu, jika ada suatu bencana kemanusiaan yang menimpa manusia, pada dasarnya merupakan dampak dari pengabaian terhadap syariat Islam.

Penutup

Hari raya Iduladha sejatinya merupakan bukti ketaatan para nabi Allah yang merupakan hamba-Nya dalam menyambut semua seruan-Nya. Sudah saatnya umat Islam juga memaknai Iduladha ini dengan hal yang serupa. Menaati semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya tanpa keraguan. Sebab iman, tidak sekadar diucapkan dan diyakini saja. Melainkan harus disertai aksi nyata yaitu dengan kembali menerapkan semua syariat-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.