22 April 2024
58 / 100

Dimensi.id-Kasih ibu kepada beta sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai Sang Surya menyinari dunia. Kini nampaknya lagu ini tak lagi berlaku. Banyak ibu yang tega menyiksa anaknya sendiri. Baik itu anak sambung atau kandung.

 

Kekerasan di Keluarga

Baru-baru ini publik dibuat geram dengan aksi pembunuhan yang dilakukan ibu kandung, kakek juga paman pada bocah berusia 13 tahun di Subang. Kasus ini terungkap setelah ditemukan mayat remaja laki-laki di saluran irigasi Blok Sukajati, Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu pada Rabu (4/10/2023).

Korban yang berinisial MR (13 tahun) ditemukan tewas dengan kondisi luka di kepala dan kedua tangan terikat ke belakang. Sang ibu mengaku saat dibuang ke saluran irigasi MR masih dalam keadaan hidup karena ia mendengar rintihan anaknya tersebut, “Ma sakit, ma.”

Sedih sekali rasanya. Tega nian menyiksa, membuang anak kandung sendiri sampai akhirnya meninggal dunia. Sayangnya ini bukan kasus pertama, ada banyak kasus serupa dengan ini. Malah semakin banyak kasus kekerasan yang terjadi di Keluarga. Anak disiksa ayahnya, ibunya, pamannya, bibinya, kakeknya, neneknya, bahkan hingga meregang nyawa. Ada juga ayah, ibu, kakek, nenek yang dianiaya oleh anaknya.

Seolah hal yang biasa untuk menyakiti, sehingga terus bertambah korban kekerasan ini.

Sekulerisme Biangnya

Fitrahnya, ibu mana yang tega menyakiti buah hatinya sendiri? Apalagi yang ia kandung dan lahirkan dengan penuh susah payah. Semua ibu pasti sayang anaknya, begitu juga sebaliknya. Ini terjadi ketika fitrah kasih sayang terpelihara dan tidak tercederai.

Sayangnya, fitrah ini rusak oleh banyak hal, sehingga sadisme dalam keluarga, masyarakat bahkan hingga level negara pun tak terelakkan. Pertama, paham sekularisme kapitalisme melahirkan standar manfaat dalam kehidupan. Manfaat duniawi maksudnya. Sehingga semua manusia akan beraktivitas sesuai dengan manfaat bagi dirinya. Begitu juga dengan hubungan dalam keluarga. Sayang jika bermanfaat secara duniawi, disakiti bahkan dibuang jika tidak bermanfaat.

Anak akan disayang jika dia bisa menghasilkan materi, baik itu harta, status kebanggaan karena prestasi sang anak, atau yang semisal dengan ini. Sebaliknya, anak akan ditekan, disiksa bahkan dibuang juga tak segan untuk dihilangkan nyawanya jika dianggap tidak memiliki manfaat malah menjadi beban keluarga.

Kedua, kondisi finansial akibat diterapkannya kapitalisme secara global menyebabkan jurang kemiskinan yang dalam. Jarak antara yang kaya dan miskin pun kian lebar. Semakin sulit mendapatkan pekerjaan yang layak kerja dan bayarannya. Sementara itu, harga kebutuhan pokok kian hari kian mahal. Wajar jika keluarga diliputi stress. Suami stress tidak bisa mencari nafkah, istri stress tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, keluarga stress melihat anak dan cucunya yang berkekurangan. Jadilah seluruh anggota keluarga stress, maka objek pelampiasan stress yang paling mudah adalah yang dianggap paling lemah. Bisa jadi itu istri, anak, atau orangtua. Wajar jika kian banyak anak, istri, bahkan orangtua yang sudah lansia menjadi korban KDRT.

Ketiga, banyaknya manusia tak beradab. Paham sekularisme yang diterapkan saat ini membuat manusia kian jauh dari agamanya. Sehingga moral, adab yang diajarkan dalam agama tak dikenal. Bahkan terkesan tidak penting ada pada manusia masa kini selama dia kaya, berprestasi, dan semisalnya. Hilanglah adab anak pada orangtua, orangtua pada anak, sesama makhluk Allah. Yang ada senggol bacok dan hukum rimba, asal keinginan tercapai.

Inilah pil pahit yang harus ditelan karena diterapkannya sekularisme kapitalisme.

Islam Jaga Fungsi Keluarga

Sangat berbeda dengan Islam, sekularisme menjauhkan agama dari kehidupan, maka Islam memerintahkan kita untuk semakin mendekat pada ajaran agama dalam setiap lini kehidupan. Semua aktivitas dilandasi akidah, keimanan pada Allah Swt sebagai sang Pencipta dan Pengatur.

Berlandaskan akidah, maka kacamata yang dipakai saat beraktivitas adalah ibadah. Begitu pula memandang hubungan dalam keluarga. Orangtua mengurusi anak adalah dalam rangka ibadah, begitu pun sebaliknya. Pengorbanan dan perjuangan yang ada tidak dianggap beban, bahkan terasa nikmat karena ingat dengan ganjaran pahala di surga kelak.

Sistem ekonomi syariah akan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam Islam, negara diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyatnya per kepala. Sehingga kebutuhan sandang, pangan, juga papan akan dipastikan didapatkan oleh setiap orang baik yang kaya atau yang miskin. Bisa jadi negara akan menjualnya dengan harga yang terjangkau, bisa juga dengan menggratiskannya. Disamping itu, lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak akan disediakan oleh negara sebagai bentuk dukungan terhadap kewajiban mencari nafkah bagi setiap kepala keluarga.

Bukan hanya itu, sumber daya alam yang Allah titipkan pun akan dikelola oleh negara dan dikembalikan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat, bukan keinginan kelompok atau korporasi. Maka, akan mudah bagi negara untuk memenuhi kebutuhan setiap rakyatnya.

Dalam dunia pendidikan akan diterapkan sistem pendidikan berlandaskan akidah Islam. Iman dan adab jadi pegangan dalam mempelajari ilmu. Bahkan, dikisahkan para sahabat juga para ulama bertahun-tahun belajar adab agar berkah ilmu yang didapat dari gurunya. Sehingga ketika iman dan ilmu bertambah, bertambah pula adabnya.

Inilah islam yang hadir menjaga fungsi keluarga. Dengan demikian akan hadir keluarga harmonis dan penuh atmosfer iman pada Rabbnya. Maka, sudah seharusnya kita kembali pada Islam secara totalitas. Cukuplah firman Allah Swt menjadi pengingat kita u tuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka, dari bencana karena jauh dengan agama.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrîm/66:6)

 

Wallahua’lam bish shawab.

 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.