21 April 2024
10 / 100

Oleh : Ika Juita Sembiring

Pada 17 Mei 1990 WHO mencabut homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan. Hal ini menjadi angin segar bagi para pelaku dan pendukung homoseksualitas untuk semakin terang-terangan menampakkan diri dan melakukan kampanye. Dan terlaksanalah peringatan IDAHOBIT (International Day Againts Homophobia, Biphobia, Intersxim, Transphobia) untuk pertama kalinya di tahun 2005. Yang sudah dirancang sejak tahun 2004.

Hari Internasional melawan Homofobia, Transfobia, dan Bifobia diciptakan pertama kali pada tahun 2004 untuk menarik perhatian pada kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh lesbian, gay, biseksual, trans, orang interseks, dan semua orang dengan beragam orientasi seksual, identitas atau ekspresi gender, dan karakteristik seks.

Hal yang paling menjijikkan bagi orang berakal dan beriman ini, rupanya mendapat support sistem yang tidak main-main. Skala internasional dan di dukung oleh power besar di belakangnya. Kampanye dan propaganda agar mereka diterima ditengah-tengah masyarakat juga senantiasa dilakukan. Tentu dengan memanfaatkan media yang juga sangat pro terhadap aktivitas LGBT ini.

Agenda Global

Di Indonesia sendiri peringatan IDAHOBIT mulai terlaksana sejak tahun 2007. Peringatan ini dianggap dukungan masyarakat terhadap keberadaan mereka para pelaku dan pendukung LGBT di Indonesia. Kampanye gaya hidup LGBT terus berlanjut dan mendapat dukungan internasional. Terlihat kampanye ini semakin massif, terencana dan terstruktur.

Being LGBT in Asia menjadi salah satu proyek regional di tahun 2014-2017 untuk menginisiasi dukungan kepada para pelaku lesbi, gay, biseksual dan trangender. Proyek regional yang mendukung secara global hak-hak mendasar pelaku LGBT terutama di negara fokus, yaitu Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand.

Dilansir dari laman MuslimahNews.net, gerakan LGBT di Asia tidak bisa terlepas dari agenda ideologis dan geopolitik negara-negara Barat. Mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (2014-2019) pernah menuding bahwa gerakan hak-hak LGBT di Indonesia merupakan suatu taktik perang modern-ia menyebutnya proxy war- dari negara-negara Barat untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer.

Semakin Mengkhawatirkan

Dan belakangan ini gerakan LGBT ini semakin meresahkan. Para pelaku semakin terang-terangan menampakkan identitasnya. Karena merasa ada dukungan yang kuat terhadap mereka. Kampanyenya pun semakin gencar dan beragam. Tak hanya menyasar orang dewasa, bahkan anak-anak pun sudah terpapar virus busuk menjijikkan ini.

Kaum pelangi meciptakan simbol tertentu sebagai identitasnya menginisiasi berbagai produk dengan pasar anak-anak. Film, lagu, mainan anak. Bahkan film kartun yang dianggap “aman” bagi sebagian ibu sudah menampilan tokoh-tokoh maupun adegan LGBT. Sebut saja beberapa animasi yang sangat populer berikut, sailor moon, the simpsons, my little pony, smurf, dan lainnya.

Kasus-kasus LGBT yang menimpa orang dewasa maupun anak sangat banyak belakangan ini. Yang terbaru ditemukannya whatsapp grup LGBT anak SD (walau masih dibantah kebenarannya). Namun ini tentu kondisi yang menakutkan dan darurat. Normalisasi perilaku LGBT akan mengaraah pada pelegalan aktifitas mereka yang menyimpang.

Islam Solusinya

Lumrah terlihat penolakan terhadap LGBT ini yang massif adalah dari kaum muslim. Sebab islam secara jelas dan terang melarang perbuatan kaum Nabi Luth ini. Namun setiap kali penolakan dilakukan maka secara menantang para pendukungnya pun akan semakin gencar menampilkan diri dan menyatakan pembelaan dengan berbagai dalih yang ditolak akal sehat.

Jelas ini bukan penyakit yang muncul secara “alamiah” namun semata pembangkangan manusia akan perintah Allah. Yang melarang semua bentuk orientasi seksual selain pada pasangan suami istri yang sah. Manusia yang menghambakan diri pada nafsu dan kenikmatan ragawi. Menafikkan aturan sang pencipta yang maha pengatur.

Sebagai seorang muslim wajib sesungguhnya mengambil islam sebagai nilai, konsep dan aturan kehidupan. Ketika Allah melarang suatu perbuatan tentu Allah pula yang menetapkan aturannya. Sebagai upaya pencegahan di dalam islam terdapat larangan laki-laki menyerupai perempuan begitu pula sebaliknya, larangan tidur dalam satu selimut walau sesame jenis. Dan sebagai sanksi hukuman bagi pelaku adalah dijatuhkan dari tempat tertinggi. Dibarengi dengan semua ini negara akan mengambil peran menjaga umat dari seluruh paparan LGBT.

Wallahua’lam bishawab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.