3 Maret 2024
Dari Partai Ini Kita Belajar
71 / 100

Dimensi.id-Duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar dalam pemilihan presiden 2024 menjadi kejutan yang tak terprediksi sebelumnya. Langkah Partai Nasdem ini pun dianggap pengkhianatan oleh kawan koalisinya di KPP, terutama Partai Demokrat yang diketahui sangat berambisi menjadikan AHY sebagai cawapres. Terlebih, menurut pihak AHY, belum lama ini Anies Baswedan pernah mengirim surat kepada AHY yang isinya meminang dirinya sebagai pasangan.

Lihat Sambutan Cak Imin untuk Anies Baswedan di DPP PKB

Hal ini sesuai berita yang dilansir oleh CNN Indonesia pada tanggal 31 Agustus 2023 bahwa Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya menyatakan partainya merasa dikhianati usai Bacapres Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan secara mendadak meminang Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin untuk menjadi cawapres pada kontestasi politik 2024.

Riefky mengatakan Demokrat menerima informasi tersebut pada Rabu (30/8) melalui Sudirman Said. Informasi itu menyebutkan Anies menyepakati kerja sama koalisi antara Partai NasDem dan PKB untuk mengusung pasangan Anies-Cak Imin.

“Hari ini, kami melakukan konfirmasi berita tersebut kepada Anies Baswedan. Ia mengkonfirmasi bahwa berita tersebut adalah benar. Demokrat ‘dipaksa’ menerima keputusan itu atau fait accompli,” kata Riefky dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/8).

Padahal menurut Riefky, Anies menghubungi Demokrat pada 12 Juni lalu dan mengatakan kepada Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bahwa Anies sudah beberapa kali ditelpon oleh ibu dan guru spiritualnya untuk segera berpasangan dengan AHY dalam Pilpres 2024.

Anies menurutnya juga telah menyampaikan nama AHY kepada para Ketua Umum Parpol dan majelis tertinggi masing-masing partai; dalam hal ini langsung kepada Surya Paloh, Salim Segaf Al Jufri dan Ahmad Syaikhu, serta kepada AHY dan Susilo Bambang Yudhoyono, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.

“Rentetan peristiwa yang terjadi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat perubahan, pengkhianatan terhadap Piagam Koalisi yang telah disepakati oleh ketiga Parpol, juga pengkhianatan terhadap apa yang telah disampaikan sendiri oleh Capres Anies Baswedan, yang telah diberikan mandat untuk memimpin Koalisi Perubahan,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, politik hari ini terasa membingungkan. Hari ini tampak begini, besok bisa lain lagi. Termasuk soal koalisi ini. Hari ini partai A bermesra-mesraan dengan partai B. Besok bisa dengan mudah pecah kongsi. Situasi seperti ini sejatinya bukan kali ini saja terjadi. Menjadi kutu loncat pun biasa dilakukan para politisi. Maklum dalam politik hari ini, semua adalah soal hitungan untung rugi. Tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Semua ini sangat wajar terjadi mengingat sistem demokrasi sangat jauh dari nilai-nilai illahi. kita tidak dapat menggantungkan pengharapan kita pada manusia yang menganut siatem ini. Sistem ini memang lahir dari paham sekularisme yang meniadakan peran Tuhan dalam kehidupan, termasuk dalam berpolitik. Sistem demokrasi tidak kenal halal haram, bahkan cenderung menghalalkan segala cara demi memenangkan persaingan. Meskipun harus mengkhianati.

Pandangan Islam

Dari kejadian yang dialami Partai Demokrat ini kita bisa belajar dan membuktikan bahwa ucapan Syaidina Ali itu terbukti,

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Yang menjadi masalah adalah banyak juga dari manusia yang ingin menyandarkan harapan-harapannya itu bukan kepada Rabb-nya, Akan tetapi berharap makhluk-Nya bisa memenuhi harapan-harapan itu. Secara jelas Allah mengingatkan kita agar menyandarkan harapan hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (QS. Al-Insyirah : 8).

Sebagai manusia, maka sudah sepantasnya kita hanya berharap kepada Allah Ta’ala. Karena manusia hanyalah makhluk-Nya yang memiliki berbagai kekurangan yang belum tentu bisa membantu serta menyelesaikan masalah kita. Dan perlu kita ketahui bahwa mereka hanya sebatas manusia. Manusia yang juga sama-sama terlalu rapuh, lemah dan terbatas untuk menjadi tempat bergantung.

Begitu juga dengan kehidupan kita saat ini, kita tidak bisa berharap pada sistem buatan manusia yaitu sistem Demokrasi. Tetapi kita harus kembali pada sistem buatan Allah yaitu sistem Khilafah. Yang sudah pasti tidak akan mengecewakan karena ini adalah sistem dari-Nya yang dijamin membawa rahmatan lilalamin. Wallohuallam bishawab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.