22 Februari 2024

Dimensi.id-Guncangan wabah corona, telah banyak memakan korban. Bukan hanya memakan korban jiwa, tetapi mengimbas juga terhadap aspek ekonomi. Salah satunya terjadi gelombang PHK ribuan karyawan. Tentu saja hal ini menimbulkan masalah baru. Dimana angka kekerasan dalam rumah tangga meningkat tajam.

 Kapolresta Bandung, Kombes Pol. Hendra Kurniawan mengatakan, saat kondisi normal biasanya dalam satu bulan pihaknya hanya menerima satu laporan kasus KDRT. Namun selama pandemi virus corona ini, jumlahnya meningkat hingga tujuh kasus. “Sekarang ini naik jadi tujuh kasus, padahal biasanya sebulan itu paling cuma satu kasus. Mungkin ini berkaitan dengan suami yang lebih banyak diam di rumah karena kehilangan pekerjaan gara-gara pandemi virus corona,” kata Hendra di Mapolresta Bandung, Jln. Bhayangkara, Soreang, Kab. Bandung. ( Galamedianews.com,23/4/2020).

Suami yang kehilangan mata pencaharian gara-gara terdampak pandemi virus corona diduga sebagai penyebabnya. Pandemi corona membuat banyak masyarakat yang terpaksa dirumahkan atau kerja di rumah, sehingga pendapatan mereka menurun.  Di sisi lain kebutuhan rumah tangga cukup tinggi. Ditambah seringnya suami-istri berinteraksi selama di rumah, ditambah relasi dan pondasi yang membangun keluarga rapuh. Sehingga potensi konflik menjadi meningkat. Akibatnya, banyak terjadi penganiayaan terhadap istri atau suami akibat stress yang dihadapi.

Terjadinya peningkatan KDRT ditengah wabah Corona ini sebetulnya tak harus terjadi, bila sedari awal pemerintah cepat tanggap terhadap kasus ini. Sejak awal, pemerintah harusnya melakukan langkah tegas. Sehingga wabah ini akan segera teratasi dan tidak akan banyak berdampak pada persoalan lainnya seperti persoalan ekonomi.

Pemerintah harusnya serius melindungi warganya dari ancaman virus corona. Sebagai pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim. Pemerintah seyogianya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular. Karena Islam memiliki seperangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi.Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh (kafah), yakni, sebagai sistem kehidupan, ia akan bekerja secara sistemis menyelesaikan segera semua persoalan sistemis hari ini, termasuk wabah Covid-19.

Penerapan sistem kehidupan Islam bagaikan pohon yang akarnya sehat dan kuat menggantikan pohon yang akarnya rusak, yakni, sistem kehidupan kapitalisme yang selama ini diadopsi dan dijadikan rujukan, untuk mengatasi permasalahan di negara kita.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS Ibrahim (14): 24 dan 25, artinya:

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit; (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Rabnya….”

Bahkan kebaikan Islam akan segara terwujud sebagai keberkahan yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala pada Alquran Surah Al A’raf [7] : 96.

Artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,..”.

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah, sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi dan tidak menimbulkan persoalan lainnya.

1) Penguncian areal wabah sesegera mungkin.

Ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallaam, yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apa bila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.“ (HR Imam Muslim).

2) Pengisolasian yang sakit. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah).

3) Pengobatan segera hingga sembuh. Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasalam, yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Negara memiliki peran sentral dalam pelaksanaan ketiga prinsip ini, sehingga masalah wabah bisa segera teratasi tanpa menimbulkan permasalahan lainnya. Sebab, dari sisi mana pun kapasitas itu hanya dimiliki negara. Terlebih, Islam menjadikan negara sebagai pihak yang berada di garda terdepan dalam pencegahan segala penderitaan masyarakat.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tiada bahaya dan kesengsaraan dalam Islam.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Di samping itu, negara berfungsi sebagai pengurus urusan kehidupan masyarakat. Ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang artinya, “Imam/ Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya” (HR. Muslim dan Ahmad).

Pada saat yang bersamaan penerapan sistem kehidupan Islam, khususnya sistem politik dan ekonomi Islam, menjadikan negara segera berkemampuan logistik bahan pangan. Memadai dari segi jumlah dan kecukupan gizi, khususnya bagi masyarakat di areal penguncian. Terlebih, Indonesia adalah negeri dengan potensi sumber daya alam pertanian berlimpah. Seperti sumber daya genetik, iklim, lahan, hutan, dan wilayah perairan. Demikian pun sumber daya manusia pertanian berikut para ahli.

Tidak hanya pangan, penerapan sistem ekonomi Islam dan politik ekonomi Islam, berikut keseluruhan sistem kehidupan Islam, menjadikan negara mampu menjamin kebutuhan pokok setiap individu masyarakat di wilayah wabah dan bukan, saat wabah dan tidak. Kemampuan finansial segera dimiliki negara seiring penerapan sistem ekonomi Islam, khususnya konsep pengelolaan kekayaan negara. Yakni, pelaksanaan anggaran berbasis baitulmal yang bersifat mutlak. Ini di satu sisi, di sisi lain, faktanya Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya dikarunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala barang tambang berlimpah. Mulai dari batu bara, BBM, hingga emas, sebagai harta milik umum dan salah satu sumber pembiayaan penanganan wabah.

Sehingga penduduk yang wilayahnya terkena wabah, pada masa lockdown tidak perlu cemas apalagi stres.Hal ini karena semua warga akan dijamin kebutuhan pokoknya oleh negara. Sementara penduduk yang wilayahnya tidak terjangkit wabah, dapat beraktifitas sebagaimana biasanya. Sehingga roda ekonomi akan berjalan sebagaimana mestinya.

Disamping itu semua, warga negara akan menyikapi wabah ini dengan keimanan yang benar karena edukasi yang benar dari negara. Sehingga dalam menghadapi wabah semua akan bersabar, berikhtiar, serta tetap ridho dan ikhlas, menerima situasi sulit seperti saat ini. Serta memperbanyak dzikir untuk menenangkan jiwa, dan berfikir untuk mendapat pelajaran berharga dari situasi baru ini sebanyak mungkin.

Demikianlah Islam hadir, membawa solusi yang lahir dari pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan, Solusi yang ditawarkan adalah solusi tuntas yang tak akan menimbulkan masalah lainnya. Sehingga meningkatnya angka KDRT disaat pandemi ini tak akan pernah terjadi.

Wallahu a’lam bishshowab.

Penulis : Rina Tresna Sari, S.Pd.I (Pendidik Generasi Khoiru Ummah dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.