20 Februari 2024

Dimensi.id-Hadirnya pandemi virus Covid-19 menyebabkan keadaan negara-negara di dunia menjadi kacau balau. Dan kelaparan hadir menjadi ancaman nyata di tengah pandemi ini. David Beasley, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), mendesak pemerintah di setiap negara agar bertindak secepatnya demi menghentikan ancaman kelaparan yang dapat menimpa 265 juta orang di dunia. Bencana ekonomi yang terjadi selama pandemi menyebabkan tekanan besar terhadap sumber daya pangan.

“Ini benar-benar lebih dari sekadar pandemi. Ini menciptakan pandemi kelaparan,” tegas Beasley. “Ini adalah bencana kemanusiaan dan pangan.”

Beasley telah membawa pesannya ke Dewan Keamanan PBB pada Selasa (21/2) lalu. Dia mendesak untuk membawa bantuan sekitar 2 miliar dolar AS sebagaimana yang telah dijanjikan, guna disalurkan kepada garda terdepan secepat mungkin.Tambahan bantuan sebesar 350 juta dolar AS juga akan dibutuhkan untuk membangun jaringan logistik (http://m.kumparan.com, 25/4/2020).

Kapitalisme Menciptakan Bencana Kelaparan Global?

Hingga saat ini, dunia masih dirundung persoalan pelik dan ruwet. Pandemi virus Covid-19 yang tak hanya membuat keadaan darurat kesehatan, melainkan juga telah meluluhlantakkan ekonomi global. Dampaknya, jutaan orang kehilangan pekerjaan dan jutaan lainnya menghadapi bencana kelaparan.

Dikutip dari iNews.id,pandemi virus Covid-19 telah menempatkan dunia pada risiko yang disebut “pandemi kelaparan.” Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley mengatakan, pandemi kelaparan ini dapat membunuh 300.000 orang setiap hari.

Dia menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, jutaan orang di seluruh kawasan selatan (negera-negara berkembang) sudah berisiko kelaparan dan kekurangan pangan. Kini, pandemi virus Covid-19 telah memperburuk situasi yang sudah sulit itu dan dapat menyebabkan bencana kelaparan sangat parah.

Menurut penelitian WFP, seiring dengan terus menyebarnya wabah Covid-19, akan ada pertambahan 130 juta penduduk dunia yang masuk keambang bencana kelaparan pada akhir 2020. Dengan adanya pertambahan tersebut, WFP memperkirankan ada total 265 juta orang yang kelaparan di seluruh dunia selama pandemi.

Adapun dikutip dari laman berbeda, m.liputan6.com, (24/4/2020),Basley mengatakan bahwa lebih dari 30 negara berkembang akan mengalami kelaparan dahsyat ini, dengan 10 negara di antaranya bahkan sudah memiliki lebih dari 1 juta penduduk diambang kelaparan. Kalangan yang paling terdampak adalah mereka yang hidup di negara-negara yang dilanda konflik seperti Yaman dan Suriah.

“Jadi hari ini dengan Covid-19, saya ingin menekankan bahwa kita tidak hanya menghadapi sebuah pandemi kesehatan global tetapi juga bencana kemanusiaan global. Jutaan penduduk di negara-negara berkonflik, termasuk banyak perempuan dan anak-anak terseret menuju kelaparan,” ujar Beasley seperti dikutip situs resmi WFP. Beasley mengatakan, lockdown dan resesi ekonomi membuat rakyat miskin kehilangan penghasilan.

Senada dengan Beasley, Ekonom senior WFP, Arif  Husain mengatakan bahwa dampak pandemi terhadap ekonomi berpotensi menimbulkan bencana  untuk  jutaan jiwa “yang sudah berada di ujung tanduk.”  Husain mengatakan, lockdown dan resesi ekonomi dunia sudah menghancurkan simpanan masyarakat. Hanya perlu satu ledakan lagi seperti Covid-19 untuk mendorong mereka hingga jatuh.

Hal ini dapat dilihat di India sebagaimana dikutip dari m.tribunnews.com,lockdown yang diberlakukan di sana karena Covid-19 menimbulkan kekacauan. Salah satu Insiden mengejutkan terjadi yaitu seorang ibu melemparkan lima orang anaknya ke sungai Gangga karena kelaparan di tengah lockdown.

Demikian pula di Malaysia, dikutip dari m.akurat.co, Direktur Eksekutif Pusat Penyelesaian Warga Negara Indonesia di sana (P3WNI) Dato M Zainul Arifin menyampaikan masalah yang tengah dihadapi para Pekerja Migram Indonesia dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Kamis (26/3/2020) bahwa WNI di Malaysia terancam kelaparan akibat kebijakan pemerintah setempat yang memberlakukan lockdown.

Pun, tak jauh berbeda dengan negara-negara di atas, Indonesia yang menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) juga akan mengancam terjadinya bencana kelaparan berskala besar. Keadaan ekonomi rakyat yang sedang terpuruk bahkan memang sudah buruk dari sebelum hadirnya pandemi menyebabkan mereka semakin kesulitan untuk bertahan hidup.

Kebijakan PSBB yang konon katanya kebijakan paling tepat untuk diterapkan di negeri ini semakin membuat rakyat tercekik. Ketika masyarakat di himbau untuk tetap di rumah, penguasa negeri ini pun tidak memberi jaminan pemenuhan atas kebutuhan hidup rakyatnya, hingga bagi mereka tak keluar rumah, maka tidak makan. Akhirnya, rakyat akan jatuh tersungkur kelaparan dan kehabisan napas.

Angka kemiskinan pun akan terus naik dikarenakan menanjaknya harga pokok di tengah pandemi. Walhasil, kebijakan yang dipraktikan bukan menyelesaikan persoalan justru masalah masyarakat makin rumit, yakni masalah tumpang tindih yang tak kunjung menemukan solusi. Lagi-lagi, rakyat selalu menjadi korban. Lihat saja, empat anak di Serang, Banten kehilangan ibunya di tengah pandemi Covid-19. Bukan akibat infeksi virus, sang ibu wafat diakibatkan serangan jantung usai dua hari kelaparan.

Sebenarnya sejak awal, penguasa negeri ini termasuk penguasa negara-negara dunia secara keseluruhan bersikap setengah hati dalam menjalankan peran pentingnya memenuhi kebutuhan pokok rakyat selama wabah ini terjadi. Bagaimana tidak, kebijakan lockdown atau PSBB ala kapitalisme, kebijakan untuk tetap dirumah saja yang terus digencarkan tidak disertai solusi solutif selama pemberlakuannya.

Malah keputusan diluar nalar un-solutif semakin bermunculan. Lengkap sudah penderitaan rakyat, keadilan, ketenteraman dan kesejahteraan yang diharapkan di tengah hantaman virus Covid-19 pun hanyalah utopis belaka.

Sejatinya, inilah buruk rupa di balik topeng sistem hidup saat ini, sistem kapitalisme yang hanya menghasilkan duka bagi rakyat. Sistem yang senantiasa menciptakan ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin. Dari pandemi global yang menyerang banyak negara ini, kita sadari bahwa kapitalisme dengan prinsipnya yang konsisten yakni menciptakan masalah baru adalah sebuah keniscayaan.

Kapitalisme telah gagal mengatasi masalah pangan, kondisi masyarakat semakin hari kian memburuk dan ini semakin menunjukkan bahwa kehancuran peradaban di bawah hegemoni kapitalisme sudah di depan mata. Dari sini, sebagai penggantinya umat membutuhkan sistem yang benar dengan pemimpinnya yang amanah.

Sistem Islam Solusi Umat dalam Mengatasi Wabah Bencana

Jika penerapan sistem rusak kapitalisme hanya menambah deretan permasalahan yang ada, namun tidak dengan Islam yang datang dengan segala kesempurnannya,bukan hanya sebagai agama, melainkan juga sebagai sistem hidup yang memiliki segenap aturan untuk menyelesaikan seluruh permasalahan manusia termasuk ketimpangan yang terjadi akibat wabah sebagaimana saat ini.

Sejatinya disegala kondisi, baik itu disaat terjadinya wabah ataupun tidak dalam menghadapi wabah, terkait dengan pemenuhan kebutuhan rakyatnya secara keseluruhan, Islam telah menetapkan pemenuhannya kepada negara secara langsung.

Rasulullah SAW bersabda: “Imam (kepala negara) adalah bagaikan pengembala dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengembalaannya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun jika sedang menghadapi wabah, agar penyakit tidak meluas, wilayah yang menjadi pusat penyakit harus diisolasi dengan tidak mengabaikan kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Dalam Islam, pemimpin (Khalifah) memastikan kebutuhan pokok yakni makanan, minuman, layanan kesehatan seperti layanan perawatan, penyediaan obat-obatan dan lain sebagainya tersedia secara sempurna dan gratis, yang semuanya dibiayai negara dari kas baitul mal yang mendayagunakan semua potensi ekonomi yang ada, baik berupa fai’, kharaj, dan lainnya bahkan dari hasil pengelolaan Sumber Daya Alam yang melimpah dilakukannya untuk mengatasi wabah.

Seandainya negeri ini meletakkan aturan lockdown di atas pondasi Islam tentu persoalan penanganan pandemi Covid-19 tak memunculkan permasalahan baru yang lebih kompleks. Umat merindukan adanya pemimpin yang bertakwa kepada Allah SWT dan amanah di tengah wabah, pemimpin yang langsung mengulurkan tangan demi mencegah rakyat jatuh karena kelaparan, merindukan pemimpin yang mencintai hukum-hukum Allah, mencintai rakyat dan dicintai oleh rakyatnya.

Rindu hadirnya Khalifah yang dengan segenap kemampuannya melakukan ri’ayatu syu’un al-umma wa’arraiyyah (mengurusi urusan umat dan rakyat) dengan berstandar kepada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pemimpin dalam Islam sangat sadar akan tanggungjawabnya, bahwa segala kebijakan yang diambilnya akan ia pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Pemimpin seperti ini hanya dapat diperoleh dalam sistem yang menerapkan aturan Islam secara Kaffah dalam naungan sistem pemerintahan Islam, Khilafah.

Terkait dengan tatakelola pangan tatkala menghadapi situasi pandemi seperti ini, pemimpin (Khalifah) akan senantiasa menjamin kecukupan stok pangan serta menjamin pendistribusiannya agar tepat sasaran dan merata diseluruh wilayah negeri dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyatnya. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ketika menghadapi krisis kelaparan akibat wabah mematikan.

Beliau memastikan suplai ketersediaan kebutuhan masyarakat di masa isolasi terpenuhi, membangun pos-pos penyedia pangan di berbagai tempat bahkan mengantarkan sendiri makanan di setiap rumah. Kepemimpinannya di dalam sistem Islam bukanlah untuk mencari keuntungan ataupun citra diri, melainkan mengurusi urusan umat semata.

Begitulah Islam dalam menyelesaikan masalah di tengah wabah, dimana pemimpin akan senantiasa memperhatikan kemaslahatan rakyatnya. Sistem Islam telah melahirkan sosok-sosok pemimpin yang bertakwa, takut kepada-Nya dan selalu merasa diawasi oleh-Nya sehingga membuatnya bersungguh-sungguh berusaha mengurus seluruh urusan rakyatnya. Maka, sudah saatnya kita beralih kepada sistem pemerintahan Islam yang telah terbukti keunggulannya dalam menghadapi wabah.Wallaahu a’lam bi shawwab.

Penulis : Mustika Lestari(Pemerhati Sosial)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.