22 Februari 2024

Sejak lockdown dunia menjadi tak biasa, kita yang terbiasa dengan keramaian kadang lupa ada orang yang merasakan kesendirian. Kita yang kekenyangan lupa kalo ada yang kelaparan, kita berlindung dibalik rumah megah dan harta melimpah terlupa pada tetangga yang janda dan yatim. Betapa banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya dari hal ini, kita saling membahu, menolong, dan mendoakan semuanya. Semoga akan kembali seperti sedia kala.

Apakah hanya kita yang berubah? Tidak seluruh dunia merasakan perubahan ini. Sesuatu yang ingin Allah tunjukkan betapa kuasanya Dia dibanding semua makhluk ciptaan-Nya. Yang sombong padahal siapa yang menciptakannya? Dari mana semua harta yang dimilikinya? Seketika Allah menjadikannya tak berguna, harta benda tak bisa menyelamatkan manusia kecuali amal ibadahnya. Semua pasti akan mati, kita meyakini hal itu tapi cinta dunia membuat kita seakan lupa hakikatnya kematian itu akan datang.

“Kak… sampek kapan kita kegini ya?” Tanya Amel membuyarkan semua lamunanku.

“Sampai Allah mencabut semua kesombongan dan kezhaliman manusia itu?” jawabku tersenyum

“Bosan ya kak seperti ini? Rasanya rindu seperti dulu” kata Amel dengan raut wajah sedih

“Sabar, Allah sedang mengajari kita artinya bersyukur, dan Allah rindu kita meminta padanya, mungkin dengan cara ini bisa menyadarkan manusia. Kita doakan aja semoga wabah ini segera berlalu dan Allah melindungi kita kaum muslimin dengan pahala yang luar biasa” Aku mencoba meneguhkannya yang mulai rapuh, aku juga seperti itu

“Aamiin, ya kak..semoga ya Allah selamatkan kita” jawabnya dengan senyum yang masih sedikit berharap

“Ya udah…Amel pulang ya kak, Assalamualaikum” dia pun pamit

“Waalaikum salam dek, fiiamanilah” jawabku

Masyallah beruntungnya aku, ada yang mengantarkan paket disaat seperti ini. Inilah berkah Lockdown, bukankah indah meski sangat pedih. Obrolan singkat pelepas rindu pun telah tertunaikan. Sungguh Allah itu sangat luar biasa, tau apa yang hambanya butuhkan. Disaat mencari rezki dimasa ini sangat menyulitkan sekali. Hingga kita pun berani menantang badai, padahal sengaja Allah uji dengan sedikit kelaparan, ketakutan dan kekurangan harta. Teringat kisah nabi Ayyub yang hartanya habis, ditinggalkan orang terkasih dan sendiri dalam pengasihan berharap kesembuhan dari Allah. Maka siapa yang lebih berkuasa dari-Nya, patutkah kita mengambil selendang-Nya, dan menantang-Nya.

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.