20 Februari 2024

Dimensi.id-Masih dengan parit yang kulihat tidak dikerjakan lagi sudah 2 hari. Timbunan tanah memakan badan jalan, kami harus memutar balik jika membawa kendaraan. Kulihat tetanggaku juga pagi-pagi sudah membawa grek (semacam alat dorong) mengangkat tanah. Ternyata OKB (Orang Kaya Baru) juga butuh ya! timbunan tanah yang kemarin sudah di pinggirkan mamak untuk ditimbun dihalaman rumah.

Mamak mengeluh hari itu, tapi seperti biasa keluhan mamak tak kutanggapi serius kali. Memang sejak awal aku pun tak suka padanya, mamak saja yang merasa masih sodara terlalu peduli. Ah…orang miskin seperti kita mana punya sodara, konon lagi kita mantan pemulung. Menurut mereka itu pekerjaan hina, namun bagiku disanalah letak kemuliaannya, meski dipandang sebelah mata. Karena kami tidak mencuri harta orang lain.

Beberapa tahun lalu, dimasa kuliah akhirku pernah jadi pemulung membantu ortuku. Awalnya memang aku menolak karna gengsi, namun aku juga tak tega kepada ortuku. Lelahnya ia menyekolahkan kami hingga ke perguruan tinggi tak sebanding dengan bakti kami.

Bahkan jangankan tetangga dekat, teman dekat pun ogah masuk kerumah kami yang kotor. Aku tak peduli yang penting bisa makan dan membantu mamak mengumpulkan pundi-pundi uang untuk kedua adikku yang kuliah di jawa. Pada mereka tidak kami ceritakan pekerjaan ini, bukan karena malu tapi takut mereka kemudian pulang tanpa hasil.

Kenapa pula aku harus malu, sedangkan urusan perut tidak ada yang menjamin keluargaku. Setingkat tetanggaku saja mengucilkan keluargaku, apa salahnya kami mencari nafkah toh kami tidak mengemis. Kucilan itu terus berlanjut dimana ketika mamak pergi kenduri dan bersama mereka mamak duduk semobil.

Penampilan mamak biasa saja, tidak berbaju bagus tapi cukup bersih, tidak mengenal make up atau high heels. Yah..mamak ditinggalkan sendiri, sebagai anak pasti aku marah, maka setiap beli apapun aku pasti mikirnya mamak dulu. Kudandani mamak ala kadarnya meski beliau rada risih juga.

“Gak apa ne mamak pake baju kamu?” Tanya mamak

“Mamak pake aja, aku juga gak mau pake baju itu gak terlalu suka” jawabku sekedarnya

“Terus kerudungnya ini, mamak gak pande lah makenya” mamak merasa aneh

“Ini namanya pasmina mak, dililit gini aja udah” jawabku santai sembari memberi bros cantik dan tak lupa menutup dadanya

Aku tersenyum, dan ku semangati beliau. Biarlah mereka seperti itu kita sedang menuai pahala. Mereka juga akan lelah akhirnya mencemooh orang. Pernah mamak mengatakan padaku masa orang ngaji kegitu sih? Bukan ngajinya yang salah tapi memang orangnya yang nyari ilmu tapi gak diterapin.

Coba sepaket gitu, kan gak perlu lari-lari ambil kerudung gitu pak ustadz lewat. Dan pula gak perlu lulusan pesantren untuk bisa memberi nasehat atau memakai pakaian menutup aurat. Ingat sebuah lagu dari Malaysia, “iman tak dapat diwarisi oleh seorang ayah yang bertakwa” kata Raihan munsyid.

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.