22 Februari 2024

Dimensi.id-Dilansir dari TEMPO.CO (4/2020) bahwa Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Arya Sinulingga, menduga ada praktik mafia alat kesehatan di Tanah Air. Dugaan ini muncul akibat tingginya impor Indonesia untuk produk-produk tersebut, salah satunya ventilator.

Padahal, kata Arya, ternyata dalam satu bulan saja sudah ada beberapa pihak di dalam negeri yang bisa merancang dan mengembangkan ventilator lokal, antara lain Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, hingga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. “Kenapa selama ini mesti impor? Pak Erick berpikir pasti ada yang memaksa ingin trading terus. Ini terbukti, ternyata kita bisa bikin ventilator,” ujar Arya dalam sebuah diskusi daring, Ahad, 19 April 2020.

Arya mengatakan Kementerian BUMN belum mengidentifikasi lebih jauh siapa pemain dalam masalah ini. Hanya saja, ia melihat ada perilaku yang mengindikasikan bahwa Indonesia lebih senang membeli ketimbang membuat sendiri.

Di tengah pandemi corona saat ini, ventilator-ventilator rancangan lokal masih diuji. Kalau sudah selesai dan bisa dibuat secara massal, Arya mengatakan, Kementerian BUMN akan segera menunjuk PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, dan PT LEN untuk memproduksinya. Bila produksi itu bisa diwujudkan, tuturnya, berarti selama ini Indonesia memang bisa memproduksi ventilator di dalam negeri. “Selama ini kita ngapain saja?” ujarnya

Sementara ini, sebelum produksi tersebut bisa dilakukan, Arya mengatakan pihaknya akan mencoba memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan mengejar pasokan dari luar negeri dan melakukan impor. “Sekarang ada ventilator beli, ada bahan baku beli. Karena berebutan,” ujar dia. Hal itu akan dilakukan secara paralel dengan pengembangan produksi lokal.

Korporasi Global Menekan Pemerintah Negeri Dalam kebijakan Ekonomi

Inilah watak kapitalis di mana ada peluang mereka pasti tidak akan mau ketinggalan,kesempatan dalam kesempitan dengan situasi seperti saat ini mereka manfaatkan untuk keuntungan segelintir orang.

Kalau kita lihat negeri kita memiliki bayak ilmuan dan penemuan yang berpeluang besar untuk bisa kita manfaatkan tapi kenapa negeri kita ini haya senang membeli/mengimpor barang?

Ketidak percayaan diri dan bisa juga di katakan menggeluarkan biaya yang seharusnya bisa dialokasikan ke tempat yang lain, mengingat kondisi saat ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

Apa yang di katakan staf khusus kementrian BUMN Erik tohir dan Arya Ninulingga itu memang benar negeri kita sudah sejak lama bisa memproduksi ventilator-ventilator,dan seharusnya tidal perlu mengimpor lagi.

Tapi apalah daya negri yang kita cintai ini lebih senang membeli dari pada memproduksi. Negri ini harus bisa belajar dari kondisi yang menimpa dunia, yang seharusnya alat-alat itu bisa kita gunakan dalam kondisi saat ini. Lah sekarang kok malah masih mau di experimen dulu. Akan kelamaan bukan?

Mau gak mau negri ini wajib mengimpor alat-alat tersebut. Yang kita tau sistem ekonomi negeri kita meraup sebesar- besarnya keuntungan dan tidak memikirkan rakyat yang saat ini sangat membutuhkan bantuan.

Islam Solusi Tuntas

Kalau kita kembali melihat ke masa kejayaan Islam, sebagaimana Khalifah Umar pada saat terjadinya krisis ekonomi, Kholifah Umar ra. sangat bijak mengambil keputusan untuk memberdayakan kekayaan yang ada dalam negri tersebut untuk kesejahteraan ummat pada masa itu bukan sebaliknya.

Penguasa tidak boleh abai dan harus memberikan dukungan materi dan spiritual kepada rakyatnya baik yang terinfeksi maupun yang tidak.

Langkah lockdown dan mengisolasi para penderita virus harus dilakukan negara sedini mungkin untuk mencegah penularan. Tentu dalam pengambilan kebijakan ini negara harus bersedia menanggung segala kebutuhan dasar hidup rakyat selama masa wabah.

Sebagaimana di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra. pernah terjadi krisis ekonomi. Beliau kemudian segera mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat .

Untuk mengoptimalisasi keputusannya, Khalifah segera mengerahkan seluruh struktur, perangkat negara dan semua potensi yang ada untuk segera membantu masyarakat yang terdampak.

Namun, ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi penanggulangan krisis, maka beliau segera mengirim surat untuk meminta bantuan kepada para gubernurnya yang berada di wilayah atau daerah bagian kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Berbagai kiriman bantuan pun akhirnya datang dari berbagai penjuru wilayah Khilafah, seperti Mesir, Syam, Irak dan Persia.

Hal ini menunjukkan kesigapan pemimpin kaum Muslim dalam menyelesaikan krisis; ketika mendapati pemerintah pusat sudah tidak mampu lagi menutupi semua kebutuhan.

Namun, hari ini tentu sulit melakukan hal tersebut sebab negeri-negeri muslim terpisahkan oleh batas teritorial dan diatur dengan sistem kapitalis sekuler yang lebih mementingkan kepentingan para kapitalis daripada kepentingan rakyat.

Sangat berbeda dengan pengaturan sistem Islam yang senantiasa memprioritaskan keselamatan rakyat. Hal ini tergambar dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, ia berkata pada suatu malam di waktu sahur saya mendengar ia (Khalifah Umar) berdoa “Ya Allah, janganlah Kau binasakan Umat Muhammad saat aku menjadi pemimpin mereka”.

Pemimpin dalam Islam sangat sadar akan tanggung jawabnya dan bahwasanya segala kebijakan yang diambilnya akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Pemimpin seperti Khalifah Umar ra. hanya dapat diperoleh dalam sistem yang bersandar pada ketaatan pada Allah. Wallahu a’lam bi ash shawab.

Penulis : Sartini Ummu Fadhilah (Pemerhati Sosial Masyarakat)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.