22 Februari 2024

Dimensi.id-Ramadan tahun ini memang istimewa,  berbeda dari bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Bulan Ramadhan yang kali ini jatuh pada 24 April hingga jelang akhir Mei 2020 mendatang terasa lebih sendu dan tak semeriah biasanya. Kondisi ini tak lepas dari pandemi Corona COVID-19 yang melanda dunia.

Data yang dihimpun oleh Johns Hopkins University memperkirakan, ada 185 negara, termasuk Indonesia, yang telah terdampak Virus Corona baru. Hingga 24 April 2020 menunjukkan total kasus positif COVID-19 yang terkonfirmasi di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 2,7 juta orang.

Virus SARS-CoV-2 telah merenggut 191.614 jiwa di dunia. Transmisi COVID-19 yang begitu cepat melalui droplet atau cairan hidung dan mulut serta permukaan benda yang terkontaminasi telah mengubah pola hidup masyarakat. (m.liputan6.com).

Pemangku kebijakan negara-negara yang terdampak mengambil langkah antisipatif penyebaran virus dengan menerapkan pola hidup baru: pembatasan interaksi sosial yang diwujudkan dengan beraktivitas dari rumah, menggunakan masker, karantina mandiri bagi individu dengan kondisi dan status kesehatan tertentu, hingga karantina wilayah. Sehingga bisa dikatakan Ramadhan tahun ini, berhasil mengistirahatkan penduduk dunia (stay at home) dari kesibukannya masing-masing.

Hal itu tentunya juga berdampak terhadap tradisi dan kebiasaan di bulan Ramadan. Jika biasanya umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan berbuka bersama atau sholat tarawih di masjid beramai-ramai, kali ini terpaksa dilakukan tanpa berkelompok, hanya bersama anggota keluarga inti, di rumah masing-masing.

Virus SARS-CoV-2 telah merenggut 191.614 jiwa di dunia. Transmisi COVID-19 yang begitu cepat melalui droplet atau cairan hidung dan mulut serta permukaan benda yang terkontaminasi telah mengubah pola hidup masyarakat.

Pemangku kebijakan negara-negara yang terdampak mengambil langkah antisipatif penyebaran virus dengan menerapkan pola hidup baru: pembatasan interaksi sosial yang diwujudkan dengan beraktivitas dari rumah, menggunakan masker, karantina mandiri bagi individu dengan kondisi dan status kesehatan tertentu, hingga karantina wilayah.

Hal itu tentunya juga berdampak terhadap tradisi dan kebiasaan di bulan Ramadan. Jika biasanya umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan berbuka bersama atau sholat tarawih di masjid beramai-ramai, kali ini terpaksa dilakukan tanpa berkelompok, hanya bersama anggota keluarga inti, di rumah masing-masing.

Demikian juga aktivitas halqah, pengajian, majelis taklim, dan acara-acara dakwah lainnya. Wabah covid-19 ini mengharuskan kita lockdown, sehingga kegiatan pengajian dan dakwah tidak bisa dilakukan dengan cara tatap muka (off line) antara jamaah di dalam majelis taklim.

Baru satu pekan saja majelis taklim diliburkan, ibu-ibu jamaah mulai resah, karena tidak bisa mengikuti taklim. Tidak ada penambahan ilmu, tidak ada nutrisi bagi pemikiran. Jika ini berlalu lama maka pemikiran umat akan kekurangan ‘gizi’, sehingga bisa terpapar virus berbahaya dan dikhawatirkan kedepannya lalai dan malas menghadiri majelis ilmu kembali.

Namun demikian dakwah tidak boleh berhenti sekejappun, karena apabila semenit saja dakwah berhenti maka akan lahir seribu kemaksiatan. Oleh karena itu, dalam kondisi bagaimanapun dakwah harus tetap berjalan. Jangankan dalam masa musibah wabah seperti ini, dalam berbagai tantangan dan rintangan yang lebih beratpun, dakwah tetap harus dilaksanakan dengan cara mencari berbagai uslub /cara yang sesuai dengan kondisi.

Dakwah secara online sangat terbatas di kalangan tertentu saja. Bagi orang yang memiliki fasilitas android mungkin bisa memasang aplikasi tertentu untuk bisa mengikuti dakwah. Namun tidak semua orang memilikinya. Yang memilikipun tidak semua mempunya wifi di rumahnya dan tidak semua mampu membeli kuota. Apalagi bagi masyarakat pedesaan, jangankan untuk menggunakan android kadang handphone seluler biasa saja tidak punya. Kalaupun ada kadang jaringan tidak sampai ke tempat mereka. Hal ini menjadi salah satu kendala dakwah di tengah mewabahnya covid-19.

Kondisi seperti ini juga menjadi renungan bagi kita, sekarang kita baru menyadari ketika majelis-majelis ilmu dan majelis-majelis dzikir sudah di tutup. Mungkin sebelumnya kita rela menghabiskan waktu pada hal-hal mubah tidak berguna, di tempat-tempat yang membuat kita lalai dengan kehidupan akhirat. Kita rela berjam-jam keliling mall hanya untuk mencari sesuatu yang tidak terlalu penting. Tidak sedikitpun merasa rugi duduk nongkrong berlama-lama sekedar cuci mata dan bersendagurau tiada guna. Tidak pernah bosan untuk melakukan sesuatu sekedar hobby melepaskan kejenuhan dan kesibukan lainnya yang tidak bermanfaat. Namun merasa enggan untuk duduk di majlis ilmu walau hanya sebentar saja.

Semoga kondisi seperti ini menjadi pelajaran buat kita untuk memperbaiki diri lebih bertaqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah ). Untuk itu, mari kita bertaubat kepada Allah, memperbanyak istighfar, karena bala tidak diangkat kecuali dengan taubat dan istighfar. Perbanyak sedekah, karena sedekah bisa menghapus dosa. Perbanyak doa bermunajat kepada Allah agar menerima taubat kita, dan bermohon agar wabah corona ini segera berakhir.

Insya Allah kita termasuk golongan at-tawwabiin (orang yang bertaubat) dan golongan al-mutathahhiriin (orang yang mensucikan diri). Semoga kita menjadi orang yang terus menerus mencari ilmu minal mahdi ilallahdi (dari ayunan sampai liang lahad). Dan menjadi pengemban dakwah untuk menyampaikan risalah Allah kepada ummat. Apapun rintangan, dakwah tetap harus berjalan. Bagaimanapun kondisi, dakwah tidak boleh berhenti. Hanya kepada Allah kita berserah diri.

Penilus : Iffah Ummu Yumna (Pengasuh Majlis Ta’lim Rindu Syari’ah Sukasari)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.