20 Februari 2024

Dimensi.id-Ramadan bulan agung yang dinanti telah tiba. Kedatangan di tahun-tahun yang lalu disambut dengan long march, berkeliling menyusuri jalan dan menyemarakkan suasana  dengan takbir, tahlil, dan tahmid.

Berbeda dengan tahun ini. Ramadan yang mulia disambut dengan duka dan pilu. Jangankan berkeliling dan bertakbir. Masjid-masjid hari ini telah ditutup rapat. Tidak ada shalat tarawih, tidak ada suara tadarus berkumandang. Semuanya berdiam di dalam rumah karena wabah covid-19 masih menjangkiti negeri ini.

Namun dalam suasana yang penuh duka tersebut, kemuliaan bulan Ramadan tidak berkurang sedikit pun. Ia tetaplah bulan yang penuh berkah. Setiap amal kebaikan yang dikerjakan selama bulan Ramadan akan dilipatgandakan balasannya.

Sehingga sebagai umat muslim, semangat mengerjakan kebaikan dan amal shaleh harus tetap dilecut. Karena Ramadan kini telah menyapa dengan hangat. Mendekap dunia dan khususnya umat muslim yang tengah berjuang melawan wabah covid 19.

Bagi umat muslim yang beriman kepada Allah, wabah yang mendera dunia saat ini merupakan ujian. Sehingga dengan ujian tersebut akan menjadikannya semakin beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Sementara bagi orang yang senantiasa melakukan maksiat, adanya wabah yang menimpa masyarakat tanpa pandang bulu merupakan sebuah peringatan. Peringatan dari Allah untuk bermuhasabah dan bertaubat atas segala maksiat yang sering dilakukan.

Utamanya maksiat dengan menjalankan sistem atau hukum buatan manusia. Dimana hari ini di seluruh penjuru dunia, para penguasa muslim tidak ada satupun yang menerapkan aturan Allah.

Mereka lebih senang mengambil keputusan sendiri untuk menjalankan roda pemerintahan nya. Alih-alih mengadopsi aturan Allah, para penguasa muslim hari ini malah mendiskreditkan Islam dengan label teroris dan radikal.

Dalam penanganan wabah ini pun mereka enggan menerapkan ketentuan syariah. Hari ini antisyariah telah menjalar dari tingkat atas hingga ke bawah.

Padahal Islam telah menunjukkan suksesnya  penangan wabah. Islam pula yang menunjukkan bagaimana seorang pemimpin atau penguasa bertindak saat masyarakatnya diterpa wabah penyakit.

Maka seharusnya yang menjadi rujukan penguasa muslim adalah teladan dari pemimpin muslim terdahulu. Bukan konsep Barat yang belum terjamin keberhasilannya.

Namun sekali lagi, hari ini dunia telah sangat jauh meninggalkan syariatnya. Bahkan menciptakan opini-opini negatif untuk lebih menjauhkan tsaqofah Islam dari benak umat muslim.

Wabah covid-19 seharusnya membuka mata dan hati umat manusia. Ketika Allah Swt menciptakan virus, makhluk kecil yang bahkan mata pun tidak bisa menginderanya manusia kelimpungan. Hingga banyak yang frustasi. Padahal hanya sesosok makhluk kecil.

Ini merupakan bukti betapa lemahnya manusia di hadapan Allah Swt., dan betapa terbatasnya kemampuan yang dimiliki manusia. Masihkah layak bersikap angkuh terhadapNya? Sementara Allah telah dengan nyata menunjukkan kuasaNya.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita bertaubat. Di bulan Ramadan yang penuh rahmat ini semestinya kita manfaatkan dengan baik. Pintu ampunan Allah akan terbuka sangat luas bagi hambanya yang bertaubat di bulan mulia ini.

Menjadikan bulan ini sebagai momentum taubat kolektif adalah langkah dari kebaikan yang tak terhingga. Karena dengan kembali padaNya maka masalah wabah ini pun akan berakhir. Sementara masalah lain pun akan teratasi dengan pertolonganNya.

Tentu dengan kembali melanjutkan kehidupan Islam yang telah lama ditinggalkan. Dalam arti umat manusia kembali pada dekapan syariat. Kembali menerapkan syariatNya secara komprehensif. Tidak memilih-milih ayat. Menjalankan satu ayat dan meninggalkan ayat lainnya.

Karena dengan melaksanakan hukum-hukum Allah secara menyeluruh adalah langkah untuk menggapai ridhaNya. Dengan keridhaanNya itulah kehidupan umat manusia dan alam semesta ini akan mendapat keberkahan.

Sebagaimana dahulu tatkala Rasulullah Saw dan para sahabat serta generasi setelahnya istiqamah menerapkan sistem Islam dalam pemerintahan. Pun dalam setiap aspek kehidupan lainnya. Baik wabah maupun permasalahan kehidupan lainnya mampu diatasi dengan cepat dan tepat. Tanpa memperhitungkan untung rugi secara materi.

Semuanya mengacu pada kemashlahatan umat. Maka inilah bulan yang tepat sebagai titik tolak kembalinya kehidupan Islam. Kembalinya pada penerapan syariah dalam bingkai Khilafah ala minhaj annubuwwah.

Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Wallahu’alam

Penulis : Anisa Rahmi Tania

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.