21 April 2024
8 / 100

 

Oleh Reni Rosmawati

Ibu Rumah Tangga

 

Aksi penganiayaan yang dilakukan anak pejabat pajak, MDS (20), menguak banyak rahasia. Dari mulai gaya hidup glamor dan besarnya harta kekayaan para pejabat pajak. Diawali dari terungkapnya harta kekayaan Rafael Alun Trisambodo, ayah MDS, yang merupakan Ketua Bagian Umum Direktorat Jenderal Pajak yang mencapai Rp56 miliar. Menyusul kemudian berbagai unggahan yang memperlihatkan para pegawai pajak menggunakan barang mewah seperti moge (motor gede). Bahkan diketahui mereka memiliki klub motor bernama Belasting Rijder. Tetapi kini komunitas tersebut telah dibubarkan. Hal ini tampak dari dihapusnya seluruh postingan di akun IG Belasting Rijder. (CNBCIndonesia, 26/2/2023)

 

Rupanya, penghapusan unggahan di akun instagram pun dilakukan oleh Erni Meike Torondek. Dilansir oleh bandungviva.co.id (26/2/2023), Erni telah menghapus postingan gaya hidup mewah dan barang brandednya. Diketahui bahwa Erni merupakan ibu dari MDS.

 

Realitas Penerapan Sistem Kapitalisme-Sekuler 

 

Terungkapnya kekayaan dan kehidupan mewah para pejabat pajak sungguh mencederai hati rakyat. Betapa tidak, di saat kondisi rakyat memprihatinkan akibat himpitan ekonomi, rakyat pun harus tetap membayar pungutan pajak, tetapi para pegawai pajak justru hidup bergelimang harta dan kemewahan.

 

Inilah realitanya dari penerapan sistem Kapitalisme-sekuler. Penerapan sistem ini telah merusak seluruh tatanan kehidupan. Mulai dari sistem pendidikan, yang gagal dalam membentuk anak didik yang berkepribadian Islam. Sistem pergaulan di masyarakat yang rusak, serta sistem pemerintahan yang berorientasi menguntungkan para korporat dan pemegang kekuasaan.

 

Paham sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) yang menjadi landasan sistem Kapitalisme, telah berhasil mengikis ketakwaan individu, masyarakat dan para penguasa. Sehingga mereka lupa bahwa hidupnya di dunia ini untuk beramal saleh dan mengejar rida Allah. Bukan untuk bersenang-senang dan mengumbar hawa nafsu.

 

Paham sekuler pun telah membuat para penguasa tidak sadar bahwa tugasnya adalah mengurus, melindungi dan menjamin kesejahteraan rakyatnya. Maka tidak heran, mengapa rakyat dalam sistem ini dijadikan ladang bisnis untuk meraup keuntungan materi. Sementara para pemimpin hidup mewah dari hasil memalak rakyat, melalui berbagai macam pajak.

 

Mirisnya, dalam sistem Kapitalisme para pemegang kekuasaan dan yang bermodal besarlah yang berkuasa serta memegang kendali. Mereka bisa dengan mudah melakukan apapun, termasuk menghilangkan jejak digital. Itulah mengapa, meskipun telah melakukan pelanggaran hukum, tetapi mereka bisa dengan mudah berlepas diri dari hukuman. Inilah wajah kepribadian kapitalis yang sesungguhnya, yang hanya mencari selamat di dunia. Ia lupa bahwa ada sanksi di akhirat bagi pelanggar hukum Allah.

 

Sistem Islam Mencetak Pemimpin dan Generasi Mulia

 

Akan sangat berbeda jika sistem Islam yang diterapkan. Sejarah mencatat selama 13 abad lamanya negara yang menerapkan aturan Islam mampu menjadi mercusuar dunia. Sistem pendidikan dan pergaulannya mampu membentuk generasi berakhlakul karimah.

 

Para pemimpinnya pun terkenal hanif (lurus) dan demikian luar biasa dalam mengurusi rakyatnya. Hal ini karena negara Islam akan menjadikan akidah Islam sebagai benteng penjaga ketaatan bagi manusia. Baik pemimpin maupun rakyat biasa. Akidah ini akan mampu menghindarkan seseorang dari perilaku curang atau jahat.

 

Karena dengan akidah Islam, manusia dapat menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Setiap perbuatan yang dilakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Karena akhiratlah tempat hidup sebenarnya. Melalui pemahaman ini, maka setiap individu akan terjaga dari perbuatan tercela. Mereka akan selalu berperilaku sesuai dengan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

 

Karena itulah, para pejabat Islam di masa lalu terkenal akan amanah dan tanggungjawabnya dalam mengurusi urusan rakyat. Mereka benar-benar menggunakan kekuasaannya semata-mata hanya untuk mengurusi rakyat dan menjalankan syariat Allah. Bukan untuk bermegah-megah dan hidup mewah.

 

Islam tidak mengenal istilah yang memiliki kekuasaan dan bermodal besar yang berkuasa. Karena itu, jika ada pejabatnya yang terbukti melakukan pelanggaran hukum, salah satunya dengan mengambil harta yang bukan haknya, maka pemimpin tertinggi Islam (Khalifah) akan segera menindaknya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika beliau pernah mendengar laporan bahwa istri Mujasyi bin Mas’ud mengganti gorden rumahnya. Khalifah Umar pun segera memerintahkan gorden tersebut dibuang. Hal tersebut ia lakukan agar pejabatnya tidak larut dengan kehidupan mewah.

 

Kriteria Pemimpin dalam Islam

 

Islam memandang bahwa kekuasaan adalah amanah besar. Tersebab itu, Islam memiliki kriteria tersendiri dalam memilih seorang pemimpin ataupun pejabat. Dalam hal ini, seorang Mujtahid bernama Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, menulis dalam kitabnya, Asy-Syakhsiyah juz 2 halaman 95, ada 3 kriteria penting yang harus dimiliki seorang pemimpin atau pejabat.

 

Pertama, Al-quwwah (kekuatan). Kekuatan yang dimaksud di sini adalah aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang islami. Ketika seorang pemimpin memiliki kekuatan ini, maka ia akan mampu memutuskan kebijakan yang tepat sesuai syariat. Ia pun akan sabar, tidak tergesa-gesa. Sehingga keputusan yang dikeluarkannya dapat memberi perlindungan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

 

Kedua, At-taqwa (ketaatan) kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang akan menjadikan pemimpin selalu berhati-hati menjalankan amanahnya. Dia tidak akan mudah melakukan kecurangan dan tindakan maksiat lainnya.

 

Ketiga, Al-rifq bi ar-ra’iyyah (lembut terhadap rakyat). Dalam hal ini Rasulullah saw. pernah berdoa:“Ya Allah siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia membebaninya, maka bebanilah ia. Siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu dia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepadanya.”(HR. Muslim)

 

Hadis ini merupakan ancaman bagi pemimpin zalim dan selalu membebani rakyatnya. Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib memiliki sikap lemah lembut dalam dirinya. Ia tidak boleh menyakiti hati rakyatnya baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ketika pemimpin mampu menyayangi rakyatnya, maka ia akan dicintai dan ditaati oleh rakyatnya. Dirinya pun akan mendapat keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

 

Demikianlah betapa hebatnya sistem Islam dalam mencetak generasi berakhlak mulia dan pemimpin yang senantiasa mementingkan kepentingan rakyat ketimbang dirinya pribadi. Karena itu sudah saatnya kita kembali kepada Islam dan menerapkannya secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Sudah saatnya pula kita mencampakkan sistem Kapitalisme-sekuler biang segala kerusakan.

 

Wallahu a’lam bi ash-shawwab. 

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.