21 April 2024
11 / 100

Oleh: Hadaina, S.Si (Pemerhati Publik, Pelajar yang menetap di Hungaria)

 

Berpikirlah sebelum berperan. Kalimat tersebut kerap kita dengar selaku nasihat diri supaya tetap berjaga- jaga. Tetapi, pertumbuhan media sosial dikala masa digital sering melalaikan warga buat melaksanakan perihal itu. Terlebih, bila letaknya merupakan seorang figur publik yang mempunyai jutaan pengikut.

Belum lama, seseorang influencer mendapatkan hujan kritik sehabis mengajak anaknya yang berumur 5 bulan bermain jet ski serta ATV. Sontak, unggahan di akun media sosialnya banjir kritikan warganet.

Mereka memperhitungkan yang dicoba sang artis tidak pantas dicoba serta dicontoh. Si artis juga membagikan klarifikasi serta berkata si anak kian aktif serta dapat merangkak mengambil mainan sehabis peristiwa tersebut. Warganet juga menuding si influencer tengah mengeksploitasi anak demi konten.

Jebakan “Viral”

Perilaku waspada serta mawas diri mestinya jadi perihal yang harus dipunyai untuk pesohor, artis, influencer, maupun content creator. Sayangnya, kewaspadaan itu kerap dikalahkan dengan kegiatan dunia maya yang dikala ini beranjak jadi ladang cuan.

Banyak pesohor baru yang terkenal lewat media sosial Instagram, YouTube, ataupun TikTok. Mereka berlomba membuat bermacam-macam konten dengan bermacam tujuan. Terdapat yang mau mengedukasi warga, terdapat pula yang semata-mata tingkatkan jumlah pemirsa serta follower dengan menunjukkan perihal yang berbeda. Dari konten ekstrem sampai yang membahayakan nyawa, seluruh dicoba supaya viral serta populer.

Apapun digilas meski harus bertaruh nyawa. Tidak sering kita jumpai konten beresiko sampai sang pembentuk konten meregang nyawa. Terkadang pula, demi mengejar popularitas, anak juga kena imbas. Mereka yang tengah menikmati puncak popularitas seolah kurang ingat diri. Sementara itu, terdapat anak yang wajib dicermati keselamatannya, terdapat pribadi keluarga yang harus dilindungi, serta terdapat ribuan, apalagi jutaan pengikut yang hendak mencontoh gerak- geriknya.

Dorongan eksistensi rela menjadikan diri serta keluarganya terekspos secara terbuka. Apalagi, anak dapat jadi korban eksploitasi guna meramaikan konten vlog kepunyaan orang tuanya. Inilah arus kehidupan sekuler yang begitu mendewakan modul. Mereka yang mau tenar mengabaikan prioritas demi popularitas. Mereka berharap diketahui, pada kesimpulannya tenggelam dengan jebakan“ viral” sampai berbuat di luar nalar. Ujung dari seluruh perihal ini tidak lain mencapai modal sebanyak mungkin..

Peran Ibu

Memandang pola asuh influencer yang mengajak balita 5 bulan bermain jet ski pasti mengusik naluri para bunda. Normal bila si influencer dicecar serta dikritik habis- habisan. Alasannya, aksi tersebut memanglah tidak bisa dibenarkan, terlebih dia malah berlagak denial dengan berdalih gerak si anak jadi lebih aktif.

 

Mengutip halaman Jet Drift, mayoritas negeri tidak mempunyai batas formal buat penumpang jet ski. Tetapi, dimensi badan anak sangat berarti dikala hendak terletak di atas jet ski. Pada intinya, bayi belum terkategori nyaman buat turut bermain jet ski walaupun bersama orang tuanya sebab dimensi tubuh yang belum mencukupi. Begitu juga dengan ATV yang resiko bahayanya tidak kalah dengan jet ski. Menurut panduan American Academy of Pediatrics( AAP), anak di dasar umur 6 tahun tidak diperbolehkan buat mengendarai ATV.( Liputan6, 6- 1- 2023)

Di sinilah kedudukan berarti seseorang Ibu. Dia merupakan orang awal yang berikan rasa nyaman serta aman untuk anak. Dia pula yang jadi perisai untuk keselamatan anak. Ingatlah, statusmu merupakan harimaumu! Kontenmu merupakan pengingat amalmu. Gimana bila konten yang terbuat setelah itu ditiru banyak orang serta nyatanya beresiko untuk mereka?

Seseorang figur publik mestinya lebih hati-hati dalam berbuat. Sepatutnya dia berikan bimbingan serta inspirasi yang menularkan kebaikan serta kebermanfaatan untuk warga, bukan menginspirasi warga melaksanakan aksi yang membahayakan diri serta orang lain.

Tuntunan Islam

Ibu adalah peran mulia sepanjang hayat. Ialah tempat utama dan pertama mencetak generasi berkualitas. Ibu ideal tidak sekadar mengandung, melahirkan, menyusui, dan memberi makan, melainkan ibu harus mumpuni dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak-anaknya.

Selain kecukupan jasmani dan fisik, seorang ibu wajib mendidik anaknya dengan menanamkan akidah Islam yang kuat dan membiasakan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Menjadi ibu bukanlah aktivitas coba-coba. Oleh karenanya, para ibu dan calon ibu wajib membekali diri mereka dengan pemahaman Islam yang benar. Dengan peran strategis ini, Islam memberikan perhatian besar bagi keberlangsungan generasi. Dalam sistem Islam, inilah yang akan dilakukan negara dalam mencetak dan menjaga generasi pembangun peradaban cemerlang dari kerusakan dan bahaya yang mengintainya.

Pertama, negara tidak akan membebani para Ibu dengan permasalahan ekonomi. Negara akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar dengan memudahkan para ayah dalam mencari nafkah, seperti membuka lapangan pekerjaan atau memberikan bantuan modal usaha.

Kedua, menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang akan membentuk generasi berkepribadian Islam.

Ketiga, menyaring dan mencegah berbagai informasi yang tidak mendukung dalam mencetak generasi berkualitas, seperti konten porno, tayangan yang mengumbar maksiat, ataupun tontonan nirfaedah.

Keempat, negara mendidik dan mengedukasi masyarakat agar senantiasa berbuat sesuai syariat Islam, tidak terlena dengan nikmat dunia, beramal untuk bekal akhirat, dan beramar makruf nahi mungkar dalam mencegah terjadinya kemaksiatan. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan suasana iman dan ibadah di masyarakat dengan penerapan sistem sosial dan pergaulan berdasarkan syariat Islam.

Kelima, penindakan setiap pelanggaran syariat dengan penegakan sistem sanksi yang memberi efek jera bagi pelaku. Penegakan sanksi adalah bentuk perlindungan dan jaminan negara terhadap keselamatan rakyatnya, termasuk anak-anak. Negara juga tidak akan segan menegur bahkan menghukum orang tua yang berbuat zalim kepada anaknya. Sebaliknya. negara juga akan memberlakukan hukuman jika ada anak yang berbuat zalim pada orang tuanya. Di mata syariat, tidak ada tebang pilih hukum, baik pejabat maupun rakyat.

Inilah beberapa langkah yang akan dilakukan Khilafah dalam rangka membangun masyarakat Islam unik dan khas. Visi misi hidup seorang hamba adalah beribadah dan taat kepada Allah Taala. Penerapan syariat secara kafah akan membawa kemaslahatan, kesejahteraan, dan keselamatan jiwa bagi setiap insan di dunia karena Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.