20 Februari 2024

Dimensi.id-Ditengah pelarangan untuk mudik dari pemerintah Indonesia  terrjadi peristiwa yang cukup menjadi perhatian kita semua nasib TKI ilegal yang harus pulang dari Malaysia tempat mereka bekerja. Mereka harus kembali ke Indonesia tempat asalnya karena nasib mereka sebagai TKI ilegal tidak ada yang menjamin .Di Malaysia sendiri juga sedang menghadapi wabah dan negaranya melakukan lockdown sehingga para TKI ilegal itu harus kehilangan pekerjaannya dan harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya .

KOMPAS.com – Kisah sedih harus dialami 13 tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal dari Malaysia. Mereka pada Jumat (1/5/2020) pagi dievakuasi tim patroli gabungan dari pinggir hutan bakau di perairan Asahan, Sumatera Utara.

Terungkap, mereka terombang-ambing berhari-hari di tengah laut di kapal ikan Malaysia kemudian bermalam di hutan bakau dengan perut kosong.

Peristiwa yang hampir sama juga terjadi sebelumny , KOMPAS.com- Sebanyak 20 Tenaga Kerja Indonesia ( TKI) Ilegal dan satu balita perempuan menaiki sampan nelayan dari Malaysia menuju Indonesia, Minggu (26/4/2020) dini hari.Mereka terdiri dari 13 laki-laki dan 7 perempuan, juga satu orang balita.

JAKARTA, KOMPAS.com – Nasib naas dialami sejumlah pekerja migran ilegal asal Indonesia di tengah kebijakan lockdown yang dilakukan Pemerintah Malaysia akibat pandemi Covid-19. Sejak pemberlakuan kebijakan tersebut, para migran ilegal yang bekerja di Negeri Jiran tak mendapat gaji penuh dari para majikannya.Bahkan, di antara mereka terpaksa makan tikus setiap harinya.

Apa tindakan pemerintah dalam kasus-kasus diatas ? Mereka adalah rakyat Indonesia. Mereka juga butuh periayahan yang merupakan hak mereka sebagai warga negara. Dan negara pun harus memberikan tanggung jawabnya sebagai pemerintah yang bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya.

Sangat miris kita melihat nasib para pekerja migran ilegal tersebut, mereka hanya korban dari penerapan sistem yang salah. Pada umumnya mereka juga tidak ingin menjadi pekerja migran ilegal hanya saja regulasi yang berbelit dan biaya yang cukup besar harus disediakan diawal cukup memberatkan para pekerja ini sehingga mereka lebih memilih jalur ilegal.

Selain itu perekrutan para tenaga kerja ilegal ini langsung mendatangi para calon pekerja dan memberi iming-iming gaji besar serta proses nya juga dinilai cukup mudah dan tidak berbelit membuat mereka tergiur.

Tetapi hal ini tidak akan terjadi jika saja Faktor utama yang menyebabkan warga Indonesia mencari kehidupan di negera lain yaitu kerusakan alam yang tidak terkendali, alam yang tidak bersahabat untuk bertani, penduduk miskin tidak memiliki lahan, tanah tidak subur, serta lahan berpindah tangan dan dikuasai oleh para pemegang modal.

Dan pemerintah sendiri tidak mampu mengatasi semua itu, terutama penguasaan lahan oleh para pemilik modal. Karena seyogyanya pemerintah justru berpihak kepada para kapital tersebut sementara nasib rakyat tidaklah menjadi prioritas.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Bruno Kupok, mengatakan faktor utama yang mendorong warga untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah masalah ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja.

Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Sehingga hal inilah yang menjadikan penyebab utama tingginya animo masyarakat Indonesia untuk mencari kerja di luar negeri sebagai TKI, walaupun tidak melalui prosedur yang benar.

Rakyat butuh lapangan pekerjaan, bukan hanya sekedar janji manis saat kampanye pemilihan. Rakyat butuh jaminan kesejahteraan, jaminan kesehatan, jaminan pendidikan dan jaminan keamanan.

Namun hal tersebut akan sulit diwujudkan jika pemimpin negeri hanya sekedar obral janji dan tidak memberikan solusi pasti. Terlebih ketika kondisi pemerintah Indonesia yang dilingkupi sistem neo-liberal maka semua kebijakan sangat terikat dengan hegemoni global. Hal ini pula, yang menjadikan pemerintah tidak bisa menolak ketika ada gempuran tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Tersebab hal tersebut adalah konsekuensi dari perjanjian perdagangan bebas dunia (WTO).

Untuk  bisa keluar dari permasalahan pengangguran maka Indonesia juga harus berani keluar dari pengaruh ideologi sekuler.  Sudah seharusnya,  negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini mengambil solusi dari aturan yang berasal dari Sang Khaliq, yaitu syariat Islam yang bersumber dari akudah Islam.

Di dalam pemerintahan Islam, pemimpin berkewajiban memberikan pekerjaan kepada mereka yang membutuhkan sebagai realisasi politik ekonomi Islam. Pemimpin harus bisa memastikan bahwa setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan yang layak sehingga bisa menafkahi keluarga mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pemelihara urusan rakyat, ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR Bukhari Muslim)

Adapun mekanisme penyelesaian yang ditawarkan didalam Islam yaitu yang pertama adalah mempersiapkan individu yang berkualitas untuk dapat bersaing didalam dunia kerja melaui pendidikan yang berbasis akidah Islam. Sehingga selain memiliki kecerdasan juga memiliki ketakwaan diri.

Setelah mempersiapkan sumber daya manusianya maka negara akan berupaya menyediakan lapangan pekerjaan dengan membuka secara lebar investasi untuk sektor riil seperti di bidang pertanian, kelautan, tambang, ataupun perdagangan. Sedangkan untuk menstabilkan iklim investasi dan usaha, seorang pemimpin negara  akan menciptakan iklim yang mendorong masyarakat untuk membuka usaha melalui birokrasi sederhana, penghapusan pajak, dan melindungi industri dari persaingan yang tidak sehat.

Dan semua ketersediaan lapangan pekerjaan tersebut difokuskan untuk menyerap tenaga kerja laki-laki. Bukan sebagai tindakan diskriminatif terhadap perempuan, justru Islam memuliakan perempuan. Mengembalikan fungsinya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sehingga semua berjalan sesuai fungsinya masing-masing.

Dan semuanya ini dapat terlaksana dengan sempurna hanya dengan penerapan sistem Islam secara utuh dan menyeluruh. Perubahannya secara revolusioner. Dari mulai individu, masyarakat hingga negara. Karena hanya dengan penerapan idiologi Islam semua problematika manusia dapat terselesaikan. Dengan Islam semua persoalan akan teratasi dengan tuntas, bukan seperti solusi tambal sulam  yang ditawarkan oleh  rezim kapitalis liberal saat ini. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Ade Cassidy

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.