22 Februari 2024

Penulis : Zaesa Salsabila
Aktivis Pemerhati Sosial Serdang Bedagai

Dimensi.id-Mejadi pemimpin negara sesungguhnya adalah sebuah tanggung jawab besar yang tidak semua orang mungkin mampu memangkulnya. Alhamdulillah mungkinkah Presiden kita saat ini adalah sosok pemimpin ideal?. Sebab beliau mampu menjabat dalam kedudukan ini hingga dua periode, bahkan banyak perestasi yang ia toreh.

            Sangat menajubkan bukan!, seandainya hal itu adalah sebuah fakta yang real tentu ini adalah sebuah kabar gembira bagi rakyat Indonesia. Namun sayang hal itu sangat jauh dari yang diharapkan, sebab pada faktanya dengan dua periode kepemimpian Pemimpin negeri ini belum mampu membebaskan rakyat Indonesia dengan segala permasalahan yang ada. Kemiskinan, hutang luar negeri yang berbasis ribawi, hasil bumi yang dikuasai asing, dll. Semua itu masih tatap jadi PR kita bersama.

            Demokrasi terbukti gagal menyajikan seorang pemimpin yang akan membebaskan rakyat dari belenggu kesengsaraan. Bahkan lebih parahnya lagi berkali-kali sudah Indonesia berganti pemimpin, namun permasalahan tak kunjung selesai. Hal ini disebabkan dari sistem yang salah dalam mencari pemimpin. Dalam demokrasi yang terpenting hanyalah berdasarkan suara terbanyak, tak perduli apakah suara itu berdasarkan pilihan nurani atau karena dorongan materi yang kerap diberikan menjelang pemilihan pemimpin.

            Merdeka.com – Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara mengakui penyaluran bantuan sosial (bansos) berupa paket sembako untuk warga terdampak virus Corona (Covid-19) sempat tersendat. Hal itu dikarenakan harus menunggu tas pembungkus untuk mengemas paket sembako, berwarna merah putih dan bertuliskan ‘Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Covid-19’.

            KOMPAS.com – Nasib tragis dialami satu satu keluarga yang berasal dari Tolitoli, Sulawesi Tengah. Pasalnya, saat ditemukan warga di tengah kebun di Kelurahan Amassangan, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kondisi mereka sudah lemas karena kelaparan.

            Inilah ironis hidup dalam naungan sistem demokrasi, kepentingan elit penguasa menjadi yang paling utama. Sedangkan untuk urusan rakyat selelu menjadi nomor sekian. Lihat saja bagaimana elit penguasa dalam menyikapi wabah Covid-19 dan dampak yang dihadapai rakyat. Banyak rakyat yang akhirnya menjadi korban karena lemahnya negara mengambil kebijakan. Bahkan saat banyak rakyat yang mulai kehilangan pekerjaan dan kelaparan melanda, pemimpin negeri ini masih sempatnya untuk melakukan politisasi dalam pembagian sembako.

            Sudah hilang mungkin wibawa mereka terhadap rakyatnya, sehingga yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana agar rakyat merasa bahwa ia adalah sosok pemimpin yang perduli terhadap rakyat dan sangat loyal terhadap mereka. Padahal anggaran yang digunakan untuk sembako tersebut bukanlah berasal dari kantong pribadi, melainkan dari kas negara yang artinya itu berasal dari rakyat jua.

            Bukannya menjadi garda terdepan bagi rakyatnya, mereka asik dengan mencari popularitas demi kepentingan kursi kepemimpinan. Tak ada yang perduli dengan para mahasiswa dan banyak keluarga yang sudah mengalami kelaparan, bahkan sudah kehilangan tempat tinggal disebabkan sang suami yang tak memiliki pekerjaan akibat wabah sehingga tak memiliki uang untuk membayar rumah kontrakan.

            Demokrasi sudah semakin nampak kebobrokannya, namun masih saja banyak orang yang mau mempertahankannya. Sesungguhnya yang nyaman dan bisa hidup tentram dengan sistem ini hanyalah mereka yang mempunyai kedudukan dan uang. Sementara bagi kalangan menengah kebawah hanyalah menjadi korban dari kerakusan para elit penguasa dan pengusaha.

            Sungguh rakyat sangat merindukan sosok pemimpin seperti Khalifah Umar yang memiliki kebiasaan luar biasa untuk memastikan keadaan setiap rakyat yang ada di bawah kekuasaannya. Beliau terbiasa setiap malam melakukan perjalan menyusuri setiap rumah rakyatnya diam-diam dengan berjalan kaki tanpa dikawal oleh pasukannya. Dengan penampilan yang sangat biasa ia tak ingin diketahui rakyatnya tentang kebiasaanya itu.

Hingga suatu malam ia mendengar suara tangisan anak kecil dari sebuah gubuk,  beliau pun segera menghampiri suara tersebut dan mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Dan betapa terkejut ketika ia mengetahui sumber suara tangis itu berasal dari sebuah gubuk yang ditinggali wanita yang tak muda lagi dengan anak yang terus menangis karena sangat kelaparan. Sedangkan sang ibu hanya  bisa menghibur anaknya dengan berpura-pura memasak makanan, padahal yang ia masak hanyalah batu yang tak mungkin bisa matang.

            Khalifah Umar merasa sangat malu dan sangat bersalah. Dan untuk menebus rasa bersalah tersebut beliau mengambil sekarung gandum yang ada di Baitul Mall dan memenggulnya sendiri menuju rumah ibu tersebut. ketika itu ada seorang pengawal yang meminta untuk menggantikannya memanggul karung gandum tersebut, namun beliau menolak dengan mengatakan apakah engkau sudi menanggung dosaku di akhirat nanti?!

            Demikianlah sikap seorang pemimpin yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang akan menjadi pemimpin disuatu tempat. Sebab kepemimpinan itu adalah sebuah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di Yaumil hisab. [S]

Wallahu a’lam bishawab

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.