20 Februari 2024

Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md

(Pendidik Generasi Khoiru Ummah, Member AMK)

Dimensi.id-Memasuki bulan keenam, sejak wabah di Wuhan pada Desember 2019, belum terlihat tanda Pandemik Covid-19 akan berakhir, bahkan terus mengganas. Adanya kebijakan di tanah air yang simpang siur, gonta-ganti, dan tidak fokus untuk efektif mengatasi penyebaran Covid-19, seperti soal transportasi dan PSBB. Yang terbaru, adanya pernyataan Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19. Itu semua membuat rakyat jadi bingung. Ibarat anak ayam kehilangan induk.

Seperti dilansir oleh cnnindonesia.com (9/5/2020), Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi penanganan penyebaran virus corona (Covid-19) yang belum lama ini baru genap dua bulan di Indonesia. Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

Pernyataan Jokowi itu pun lantas menjadi sorotan di media sosial, lantaran hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu. Kala itu, Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara-negara dalam G20 menguatkan kerjasama dalam melawan Covid-19, terutama aktif dalam memimpin upaya penemuan anti virus dan juga obat Covid-19. Bahasa Jokowi kala itu, ‘peperangan’ melawan Covid-19.

Pemerintahan Jokowi memang kerap memilih diksi dan permainan kata yang cenderung membingungkan masyarakat. Selanjutnya, diksi itu kemudian disiratkan dalam kebijakan pemerintah yang terkesan tak seirama.

Dengan adanya pernyataan berdamai dengan Covid-19, masyarakat seolah merasa lebih leluasa kembali untuk beraktivitas tanpa memahami maksud pernyataan Jokowi itu secara utuh.

Masyarakat disuruh cari selamat sendiri, bukti ketidakseriusan dan lepas tangannya pemerintah dalam menangani wabah.

Tenaga medis dibiarkan maju ke medan perang dan rakyat dilepaskan ke rimba belantara tanpa perlindungan sama sekali. Miris.

Itulah watak dari sistem kapitalisme yang hanya mengutamakan aspek ekonomi daripada nyawa rakyatnya. Rakyat dibiarkan tanpa pengurusan yang baik dari penguasa.

Beda halnya di dalam sistem Islam. Cara yang paling efektif dalam memutus rantai wabah yakni dengan melakukan lockdown syar’i atau penguncian wilayah yang dilaksanakan sesuai ketentuan syariat Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi, jika terjadi wabah di tempat kalian berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari)

Ditambah dua konsep pendukung lainnya, yakni, mengisolasi yang terinfeksi meski tanpa gejala dan mengobatinya hingga sembuh.

Rasulullah saw. bersabda, yang artinya, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Imam Bukhari)

“Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR. Abu Hurairah)

Kemudian Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Bukhari)

“Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR. Abu Dawud)

Solusi Islam dalam menangani wabah tidak bisa lepas dari komprehensivitas ajaran Islam. Pandemik dapat benar-benar berakhir, tanpa harus berlama-lama masyarakat hidup dalam ancaman wabah, bahkan dengan zero kesakitan dan kematian.

Pada tataran inilah satu-satunya jalan agar Indonesia dan dunia segera bebas dari pandemik Covid-19 dan sekaligus terbebas dari krisis akut multidimensi sistemik kapitalistik adalah dengan kembali pada pangkuan peradaban Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.