22 April 2024
63 / 100

Dimensi.id-Bagi sebagian kaum muda, mendatangi konser musik adalah sebuah ajang mengalihkan stress, atau mungkin bagi yang hobi dengan musik hal itu akan sangat dinanti-nanti. Tidak terkecuali saat ini yang tengah ramai diperbincangkan, yaitu konser Coldplay.

Sebuah grup musik asal AS yang sudah tidak diragukan lagi ketenarannya. Tentu saja hal ini menyita banyak perhatian semua khalayak. Namun bukan euforia yang akan dibahas, tapi antusiasme masyarakat yang sudah jauh-jauh hari memesan tiket.

Antusiasme masyarakat yang banyak dari mereka adalah pemuda, tak terkecuali pemuda Muslim, yang kini tengah Gandrung nonton  konser, yang cara mendapatkannya pun tidak mudah Yakni dengan tiket war dengan jalan online. Harga tiket pun tidak main-main dari mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Tapi demi bisa memuaskan untuk sekedar ketemu idola, maka akan dilakukan apapun itu. Sekilas bila mengamati video-video tentang War tiket ada perasaan gemas-gemas seru di dalamnya.

Dengan begitu teliti mengamati waktu, detiknya dan lain-lain. Dari sini kita bisa melihat bahwa masyarakat kita ini konsumtif sekali. Padahal untuk sekedar mendengarkan musik bisa dicukupkan hanya dengan mendengarkan saja lagu yang sudah ada. Tapi tentu bagi pecinta yang sangat vokal, hal ini tidak cukup.

Baca Juga : Hedonisme Konser Coldplay, Potret Mental Pemuda Hari Ini

Ada kebahagiaan tersendiri. Tapi ternyata kebahagiaan itu sifatnya semu. Bagaimana tidak, karena memang hanya kesenangan duniawi saja yang dikejar. Dan kesenangan dunia pasti semua karena banyak dari manusia yang secara materi sangat tercukupi, tapi masih mencari kebahagiaan di tempat yang lain.

Fenomena gaya hidup yang konsumtif dan hedonis memang sangat membahayakan. Karena sudah pasti banyak keburukan-keburukan di dalamnya. Menstandarkan kebahagiaan itu setara materi yang didapat. bangga akan barang-barang branded yang entah dengan cara apa didapatkan, merasa panas bila di fleksing teman atau sebayanya, hingga akhirnya memaksakan diri untuk punya juga. Dan buruknya kalau masih pelajar dan ingin juga dipandang berpunya padahal tidak, bisa menimbulkan kriminalitas lain, misalnya dengan cara mencuri.

Fenomena kehidupan saat ini yang dituntut serba mewah sangat berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat saat ini. Ketidakmerataan sosial menjadikan jauhnya perbandingan si kaya dan si miskin. Tentu setiap orang ingin semua kebutuhannya tercukupi. Tapi dengan kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan hal ini terjadi. Jika semuanya dilandaskan dengan “beberapa uang yang kamu punya? “. ingin sekolah bagus berkualitas, makaharus merogoh kocek dalam-dalam, ingin kesehatan yang memadai sampai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serba mahal.

Mengejar kebahagiaan dengan mendatangi konser ataupun dengan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, jelas tidak akan mampu mengekalkan kebahagiaan di dalam diri manusia. Standar kebahagiaan haruslah didasarkan atas ridho Allah. Dan hal apapun yang kita perjuangkan dalam kehidupan kita, pasti akan Allah mintai pertanggungjawaban.

Dan sudah seharusnya tiap manusia menanyakan kembali pada masing-masing diri, tentang Apa tujuan dia dihidupkan, dan nantinya akan kemana setelah kehidupan. Bila hal tersebut sudah dipahami tentu manusia akan berpikir ribuan kali dan tidak sembrono dalam menghabiskan sisa hidup yang hanya Allah saja yang tahu. [Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.