22 Februari 2024

Dimensi.id-Ku tatap langit biru mengarak awan putih dihembus angin sore ini, aku memalingkan wajah menatap kebun kecil yang gersang. Hanya ada cabe rawit dan cabe hijau yang belum berbuah dan beberapa sayur. Tiga hari sudah kita lalui puasa ramadhan ini, tapi hingga saat ini kita masih mengeluh karena tidak tahu apa yang harus kita masak buat bukaan. Hanya memetik hasil kebun yang tak seberapa. Daun singkong, genjer, dll

Aku tak berharap banyak cukup seadanya saja, itu lebih dari rasa syukurku. Mengingat diluar sana mungkin ada sodara kita yang makan pun tak bisa. Ah… rasanya aku rindu punya pemimpin seperti Umar bin Khatab. Yang menggotong sendiri bahan makanannya, mengantarkannya dan memasaknya, karena merasa bersalah ada rakyatnya yang luput dari penglihatannya. Yah… Umar menangis disepanjang malam sunyi mengingat dosanya. Bukan mudah menjadi seorang pemimpin, karna semua makhluk akan meminta pertanggung jawabnya kelak dihari kiamat.

Mungkin aku sedikit sedih, mengingat lelahnya puasa dan menu yang tak membuat adikku berselera. Alasan tak bekerja dan tak punya penghasilan bahkan banyak orang yang menutup mata terutama sang penguasa yang bertahta di singgasana. Ku lihat ke dapur kecilku, alhamdulilah masih ada sisa ikan kemarin tinggal dipanasi aja. Sore si abang sempat memberi sebungkus kurma, ah..rezeki gak akan kemana.

“Kita masak sayur rebus aja ya?” Tanya mamak yang sudah merajang sayur hijau itu

“Ya, mak nanti kita buat teh hangat aja” jawabku

Lauk sederhana pun jadi untuk mengganjal lapar buat esok hari, kita yang sibuk memikirkan apa yang bisa kita olah besok buat pengganjal lapar. Tapi mereka masih bisa memilih apa yang bisa dimakan. Allah tidak akan membuat kita kelaparan karena rizki itu sudah ditentukan diawal permulaan hingga nanti kita mati dicukupkan semua rezeki, itu yang kudengar dari tausiah salah seorang ust. Rezeki itu berupa nikmat sehat, intinya semua nikmat yang jauh dari kata materi.materi itu hanya pengantar manisnya dunia yang dikejar oleh manusia. Namun dia akan menjauh dan meninggalkan semua itu yang terlupakan, fikiranku melayang kebelahan dunia lainnya membayang kan mereka sedang makan apa?

Ku bayangkan anak-anak palestina yang tak bisa mendapatkan apupun buat dimakan, padahal sebelahnya negara subur makmur sentosa. Sungguh kita harus bersyukur, masih bisa makan dengan lauk seadanya. Belum lagi jika kubayangkan bagaimana nasib orang rohingya, terlunta dilautan, mati bahkan ditolak banyak negara.

Apa yang mereka bisa makan selain hanya minum air laut yang asinnya luar biasa. Masih belum habis bayanganku memikirkan sodaraku di suriah yang kedinginan di tenda, bahkan sama seperti Somalia yang menderita kelaparan. Dan fikiranku melayang nun jauh ke muslim uigur, bagaimanakah nasib mereka saat ini ditengah wabah besar ini ya Rabb?

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.