22 Februari 2024

Dimensi.id-Bagai “Karam di Darat,” yang berarti celaka di tempat yang aman. Corona telah mengusik ketenangan negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Pandemi masih berjalan. Banyak raga terpapar Covid-19. Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Negeri Seribu Pulau saat ini masih berduka.

Corona adalah penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, bahkan hingga menyebabkan kematian.

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Walaupun lebih bayak menyerang lansia, virus ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui (Alodokter).

Perjalanan Pandemi di Indonesia

Angka pertambahan pasien terpapar Covid-19, terduga maupun carier, termasuk penyebaran di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu pergerakan manusia, kepadatan penduduk dalam satu wilayah dan juga ketahanan pangan suatu wilayah.

Mengingat, Indonesia adalah negara kepulauan, jadi persoalan interaksi antar penduduk pulau satu dengan yang lain, sangat berperan dalam penyebaran dan penanganan virus Covid-19 ini. Dalam interaksi, layanan transportasi darat, air maupun udara, juga berperan dalam penyebaran dan penanganan kasus Covid-19.

Perhatian besar sejatinya berada pada transportasi tingkat internasional. Indonesia sebagai jalur laut dan jalur udara yang strategis bagi transportasi dunia. Sebelum Corona masuk ke Indonesia dan menjadi wabah di bumi Pertiwi, telah banyak warga asing maupun warga negara Indonesia yang lalu lalang keluar masuk melalui dua jalur ini.

Sebagai contoh adalah bandara-bandara Internasional, Sukarno Hatta, Juanda dan Ngurah Rai, juga bandara internasional lainnya. Pelabuhan Merak di Jakarta, pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pelabuhan Tanjung Emas di Semarang dan juga pelabuhan-pelabuhan lain di luar pulau Jawa, yang menunjukkan titik awal penyebaran virus Corona. Ini semua menjadi bukti bahwa interaksi sosial antara individu yang membawa penyakit dan warga yang sehat banyak berawal dari jalur transportasi internasional.

Tidak bisa dihindarkan jika ada interaksi sosial antara penduduk Indonesia maupun warga negara asing tersebut dengan warga negara yang tinggal di Indonesia, terjadi. Jika satu saja individu sedang membawa virus (inang/carier) diantara sekian banyak para pengguna transportasi tersebut, maka akan bisa menyebarkan virus kepada sekian individu lainnya. Sementara yang tertular tidak menyadari bahwa dirinya sebagai pembawa virus. Mereka sebagai inang virus Covid-19 akan tetap berinteraksi dengan orang lain, keluarga, teman, tetangga hingga orang-orang yang ditemuinya.

Kepadatan penduduk suatu wilayah adalah hal kedua yang mempengaruhi cepat dan lambatnya penyebaran dan penanganan virus Covid-19. Wilayah yang padat penduduknya, secara otomatis, terjadi interaksi sosial yang lebih sering. Jika satu orang terkena/positif terpapar Covid-19, maka bisa dipastikan ketika dia berinteraksi dengan orang lain dalam satu hari, orang-orang tersebut juga akan tertular. Dan secara otomatis kontak/interaksinya dengan orang lain menjadi faktor penyebaran penyakit.

Untuk wilayah yang penduduknya tidak padat, maka jika ada interaksi dengan penderita, maka proses penularannya akan lamban, namun pasti. Dikarenakan, frekwensi interaksi sosial juga sedikit. Misal dalam wilayah kepulauan atau daerah terpencil. Selain juga intensitas pertemuan yang jarang diantara mereka.

Namun, bisa saja akan terjadi penularan yang cepat juga, jika saja dalam memenuhi kebutuhan maupun aktivitas sehari-hari, ada warga kepulauan tersebut yang bersentuhan/berinteraksi dengan penderita/terpapar atau carier/orang tanpa gejala (OTG) yang ada di luar pulau. Atau, ada orang di luar pulau yang masuk ke dalam pulau atau wilayah tersebut. Misalnya saja aktivitas yang tidak bisa dihindarkan yaitu memasok bahan kebutuhan pokok.

Bisa diprediksi berapa lama virus akan bersembunyi di wilayah tersebut dan bergantung pada tindakan pencegahan dan pengobatan. Sayangnya, Indonesia memiliki banyak daerah terpencil dan wilayah kepulauan dengan di dalamnya layanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang jauh dari cukup.

Jumlah penduduk juga berkorelasi dengan jumlah fasilitas kesehatan dan jumlah tenaga kesehatan. Jika penduduk suatu wilayah terpapar Covid-19 maka bisa dengan mudah mengakses sarana dan layanan kesehatan, maka angka kematian bisa ditekan. Namun, jika sarana dan layanan kesehatan juga tenaga kesehatan yang jauh di bawah standar dengan kepadatan penduduk, yakin saja, jika angka kematian akan semakin meningkat.

Sedangkan di sebagian besar wilayah Indonesia, hanya pulau Jawa yang memiliki standar fasilitas kesehatan yang memadai Dengan jumlah tenaga kesehatan yang memadai pula. Namun, jika kepadatan penduduk tidak diimbangi adanya isolasi berskala besar (lockdown secara total) justru lebih menjadi lahan inang bagi penyebaran virus Covid-19, akan mengakibatkan membludaknya pasien terpapar. Maka, kapasitas layanan kesehatan dan tenaga kesehatan tidak akan mampu mengampu masyarakat yang sakit dan butuh tindakan.

Ketersediaan alat pelindung bagi tenaga kesehatan juga turut andil dalam angka penyebaran. Seperti yang telah banyak diberitakan oleh berbagai media, Indonesia masih jauh dari kurang untuk menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan dan orang-orang yang berkepentingan di lingkungan puskesmas, rumah sakit dan layanan kesehatan lain.

Peralatan dan sarana laboratorium dan pengembangan ilmu pengetahuan juga menentukan keberhasilan penanganan pandemi. Indonesia sebagai negara yang baru saja mendapat label “Negara Maju” ternyata belumlah cukup untuk melakukan tindakan pemeriksaan fisik terhadap sebagain besar warga yang dicurigai sebagai pembawa virus. Minimnya alat pendeteksi dini pasien terpapar virus, menjadi faktor pemicu penyebaran dan penanganan penderita.

Misalnya saja, rumah sakit daerah dengan standar kelayakannya, belum ada rumah sakit daerah yang memiliki alat rapid tes. Kalaupun memiliki itupun pasien musti merogoh kocek yang lumayan mahal. Di samping itu, penderita yang jelas telah meninggal, baru diketahui hasil laboratorium dia, positif terpapar Covid-19 atau tidak, setelah 2 atau 3 hari berikutnya.

Tak ayal lagi, jika banyak keluarga dan masyarakat sekitar dia yang tidak tahu akan pemulasaran jenazah yang terpapar. Petugas kesehatan akan memberitahu keluarga dan warga setelah jenazah dirumat sesuai dengan adat dan agama masing-masing. Terlambat.

Yang musti diperhatikan juga ketahanan pangan yang memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan makroekonomi. Ketahanan pangan juga terkait dengan kecukupan, ketersediaan pangan dan akses terhadap bahan pangan. Daerah dengan penduduk di bawah garis standar/masyarakat miskin, dalam pemenuhan kebutuhan pokok, gizi baik akan mempengaruhi daya tahan tubuh dan kesehatan masyarakat di kelas ini.

Tidak bisa dipungkiri, strata sosial di Indonesia sangat tampak nyata. Di mana, kelas ekonomi bawah, kebanyakan asupan gizi baik yang jauh di bawah standar, akan cenderung menjadi rentan terhadap penularan penyakit tarakibat dari rendahnya pola hidup sehat.

Distribusi pangan juga menjadi hal yang mempengaruhi ketersediaan bahan pangan. Tidak heran, jika banyak wilayah terpencil maupun kepulauan mengalami kekurangan stok bahan pangan, bahkan mengakibatkan munculnya kasus kelaparan dan gizi buruk. Tak pelak lagi, jika kondisi ini yang membuat penyebaran virus Covid-19 akan semakin mudah.

Dampak covid19 terhadap ekonomi ini sangat mengerikan. Bayang-bayang resesi didepan mata. Kebijakan pemerintah kalang kabut bisa memperparah kondisi perekonomian. Khususnya nasib pangan masyarakat kelas bawah. Nasib rakyat terkatung-katung, antara hidup dan mati.

Sektor riil yang paling merasakan dampak pandemi ini. Dan sangat banyak rakyat yang kehilangan pengahsilan. Jumlah rakyat miskin yang melonjak tajam, seiring dengan PHK besar-besaran akan memperburuk suasana pikir di masyarakat. Bisa dikatakan, akan terjadi depresi sosial secara besar-besaran. Akan banyak dijumpai pernyataan bahwa “mati bukan karena korona tapi mati karena kelaparan” memang benar adanya.

Demikianlah gambaran secara umum kemungkinan penyebaran virus Covid-19 di negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Tampak, betapa pemerintah gagap menghadapi pandemi. Mengakibatkan masyarakat jelata terlunta-lunta dalam derita pandemi, secara psikologis dan realitas. Tarik ulur penanganan pandemi, mengakibatkan korban makin hari makin bertambah banyak, mati dengan terpapar virus, mari dnegan kelaparan hingga mati bunuh diri karena depresi berat.. Keputusan pemerintah yang cepat dan tepat adalah kunci keselamatan rakyat.

Berharap adanya pemimpin dan pelindung masyarakat dengan berpayung hukum kepada aturan Allah. Sehingga, mengambil kebijakan tidak berstandar kepada untung dan rugi, juga alasan ekonomi. Tapi lebih kepada keselamatan seluruh warga negara.

Penulis : Sunarti

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.