10 Desember 2023
Kapitalisme neoliberal

Inflasi dalam sistem ekonomi kapitalisme neoliberal

53 / 100

Dimensi.id-Kita sudah hampir di penghujung bulan Sya’ban tidak lama lagi akan memasuki bulan Ramadhan bulan ampunan segala pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, setan-setan di belenggu. Namun masalahnya, setiap tahun kondisi lonjakan harga bahan pokok selalu berulang. Membuat resah masyarakat dengan kenaikan harga musiman.

Harga sejumlah komoditas bahan pangan pokok naik seperti cabai, minyak goreng, gula pasir kualitas premium, dan daging ayam ras segar. Kenaikan tersebut terjadi 20 hari jelang bulan puasa atau Ramadan. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, rata-rata harga cabai merah besar secara nasional mencapai Rp42.200 perkilogram, pada Jumat (3/2).

Angka tersebut naik dibandingkan pada bulan lalu yang mencapai Rp36.250 perkilogram. Sedangkan untuk rata-rata harga daging ayam ras segar secara nasional mencapai Rp33.800 perkilogram. Angka tersebut naik dibandingkan posisi bulan lalu yang mencapai Rp34.100 perkilogram.

Seolah sudah tradisi, harga menjelang Ramadan dan hari besar agama selalu naik. Salah satu faktor penyebab kenaikan harga ini adalah adanya peningkatan permintaan di masyarakat menjelang Ramadan. Akibatnya rakyat kesusahan dalam mendapatkan bahan kebutuhan pokok. Meski negara mengklaim sudah melakukan antisipatif nyatanya hal itu tidak membuat harga komoditas menjadi stabil pada saat permintaan sedang naik.

Fenomena yang terus terjadi ini sejatinya menunjukkan kegagalan negara dalam menjaga stabilitas harga dan menyediakan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan rakyat. Inilah gambaran pemimpin dalam sistem kapitalisme, pemimpin hanya bertindak sebagai regulator atau pembuat aturan.

Negara hanya berupaya menyediakan pasokan pangan sesuai permintaan, meski juga kadang tidak tercukupi. Sementara negara tidak memastikan apakah komoditas pangan terjangkau setiap individu rakyat atau tidak. Di sisi lain, ada pihak yang bermain curang dengan menimbun atau memonopoli perdagangan barang tertentu. Operasi pasar yang dilakukan pemerintah pun hingga saat ini tidak bisa mengurai masalah kenaikan harga.

Sistem kapitalisme neoliberal akar masalah terjadinya kenaikan harga barang

Tradisi rutinan di negeri yang mengadopsi sistem kapitalis sekuler, menyebabkan harga-harga bahan pokok menjelang ramadhan dan hari besar agama selalu naik. Akibatnya rakyat kesusahan dalam mendapatkan bahan kebutuhan pokok. Negara seharusnya melakukan upaya antisipasi agar tidak ada gejolak harga agar rakyat mudah mendapatkan kebutuhannya. Di sisi lain, ada pihak yang bermain curang dengan menimbun atau memonopoli perdagangan barang tertentu.

Saat ini memang banyak digelar operasi pasar murah yang memberikan keringanan bagi warga untuk membeli barang sembako dengan harga miring. Akan tetapi, itu hanya solusi sesaat dan hanya orang-orang yang memiliki uang saja yang mampu memborong dan membeli di operasi pasar.

Sementara penimbunan barang terjadi karena adanya permainan pelaku pasar. Hal ini juga bukanlah barang langka dalam negara yang menganut system kapitalisme. Sistem ini memproduksi orang-orang yang bermental serakah, segala sesuatu dipandang dari unsur kemanfaatan, meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan dampak buruk atau banyak orang yang merugi, dan pasar dipandang sebagai lahan basah untuk meraup keuntungan tersebut.

Selain itu, pemerintah pun melakukan upaya konkret dengan mendatangkan bahan pokok dari daerah lain yang memiliki stok lebih dan biaya transportasinya akan ditanggung oleh pemerintah daerah itu. Solusi itu pun hanya untuk sesaat saja, sedangkan kebutuhan masyarakat terus-menerus dan berkelanjutan. Sewaktu-waktu, ada kemungkinan daerah yang memasok juga akan menghentikan pasokannya karena kebutuhan.

Gagalnya semua upaya pemerintah mengatasi persoalan kenaikan harga ini adalah jauhnya upaya tersebut dari akar persoalan yang ada. Sebab harga pangan yang melonjak sehingga sulit dijangkau rakyat berpangkal dari paradigma kapitalisme neoliberal yang selama ini dijadikan pijakan pengelolaan pangan rakyat.

Sistem tersebut meniscayakan pengelolaan dan pemenuhan kebutuhan rakyat termasuk pangan diserahkan kepada pihak swasta atau korporasi, yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kemudharatan pihak lain dari aspek halal-haram. Oleh karena itu selama pengaturan pangan tidak dilepaskan dari paradigm kapitalisme neoliberal, maka stabilitas harga dan penyediaan pasokan pangan yang cukup dan terjangkau setiap individu rakyat tidak akan pernah terealisasi.

Islam memiliki mekanisme yang ampuh yang mampu menjaga gejolak harga sehingga harga tetap stabil dan rakyat mampu mendapatkannya.

Islam juga melarang siapa pun menguasai hajat hidup masyarakat atau monopoli kebutuhan pokok oleh kelompok atau swasta yang hanya ingin keuntungan berlipat. Selain itu, tidak akan ada orang-orang yang menimbun atau melakukan kecurangan. Sebab, negara akan memberlakukan hukum yang tegas kepada pelakunya.

Negara bertanggung jawab mengurusi seluruh hajat rakyat, apalagi pangan merupakan kebutuhan asasi yang pemenuhannya dijamin oleh negara. Selain itu negara adalah pelindung rakyat terdepan menghilangkan bahaya di hadapan rakyat. Khilafah tidak akan membiarkan korporasi menguasai rantai penyediaan pangan rakyat untuk mencari keuntungan sepihak. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam keberadaan korporasi-korporasi raksasa bisa dihindari.

Negara memiliki Qodhi Hisbah/Hakim Pasar yang selalu memantau setiap aktivitas jual beli di pasar-pasar. Sehingga, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya karena negara memperhatikan dan menjalankan tugasnya sebagai pihak yang mengurusi urusan rakyatnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Khilafah akan menjaga ketersediaan stok pangan supaya supply and demand menjadi stabil. Kebijakan ini diwujudkan dengan menjamin produksi pertanian dalam negeri berjalan dengan maksimal. Khilafah akan memastikan lahan-lahan pertanian berproduksi dengan menegakan hukum tanah yang syar’i, juga akan memberi dukungan kepada petani berupa modal. Dengan penguasaan stok pangan di tangan negara akan mudah menjalankan distribusi pangan.

Melarang penimbunan, memonopoli komoditas untuk mendapakan keuntungan besar, melarang riba, melarang praktik tengkulak, kartel,dan sebagainya. Disertai penegakan hukum yang tegas dan berefek jera sesuai aturan Islam. Sungguh penerapan aturan islam dalam institusi Khilafah membuat hidup rakyat sejahtera.

Demikianlah sekilas cara syariat Islam menstabilkan harga. Masih banyak hukum-hukum syariat lainnya. Bila syariat diterapkan secara kaffah (menyeluruh) niscaya kestabilan harga pangan dapat dijamin, ketersediaan komoditas, swasembada, dan pertumbuhan yang disertai kestabilan ekonomi dapat diwujudkan.

Wallahu A’lam Bishawab.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.