20 Februari 2024

Dimensi.id-Dunia masih berduka, demikian juga Indonesia negeri tercinta ini. Korban pagebluk covid 19 masih terus saja berjatuhan. Sementara penanganannya di negeri ini nampak carut marut. Hingga saat ini lockdown tak juga diberlakukan dengan alasan negara tak akan mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyat yang terkena imbas.

Selain ribuan korban berjatuhan, ekonomi Indonesia pun ikut anjlok. Banyak perusahan yang harus tutup dan tidak sedikit perusahaan yang bangkrut sehingga PHK pun mendera banyak karyawan. Rakyat Indonesia khususnya, kini mengalami berbagai kesulitan. Banyak yang kehilangan pekerjaan dan tidak lagi memiliki pendapatan.

Di tengah berbagai kesulitan dan PHK besar-besaran akibat wabah ini, pemerintah menyodorkan program Kartu Pra Kerja dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran dan memberikan pelatihan online bagi korban PHK lalu diberi tunjangan. Namun, program kartu pra kerja ini menuai polemik. Program kartu pra kerja ini dinilai tidak menjadi solusi atas masalah yang dihadapi rakyat. 

Memang tak banyak yang bisa diharapkan dari pemimpin yang materialis seperti saat ini. Ditengah wabah yang sangat mencekam ini, bantuan sangat nihil. Begitu banyak rakyat yang butuh bantuan, baik yang terkena PHK maupun rakyat yang tidak bisa bekerja karena harus tinggal di rumah. Mereka butuh Bantuan Langsung Tunai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun entah apa yang merasuki pikiran pemerintah, hingga saat ini BLT tak nampak begitu nyata. Jika pun ada rupanya tak berjalan dengan adil dan merata.

Hal nyata dari pemerintah hari ini adalah justru perekrutan penerima Kartu Pra Kerja. Kartu Pra Kerja merupakan salah satu program kerja presiden pada kampanye sebelum pemilu lalu. Saat ini rakyat butuh bantuan langsung tunai, rakyat butuh makan bukan butuh kartu. Jika saja pemerintah negeri ini betul-betul peduli rakyat, maka untuk membantu mereka tak perlu kartu. Untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka tak butuh pelatihan sebagaimana pelatihan untuk mendapatkan kartu pra kerTidak dapat dipungkiri bahwa memang Indonesia butuh SDM yang unggul dan berkualitas.

Namun pada saat kondisi negeri sedang dikepung wabah, sungguh tidak tepat waktu memberlakukan perekrutan kartu pra kerja. Rakyat lebih butuh bantuan langsung dan uluran tangan pemimpin untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bukannya butuh pelatihan yang membuat linglung. Solusi pemerintah mengatasi kondisi krisis saat ini dinilai tidak efektif, lebih prioritaskan keuntungan politik (penuhi janji kampanye) dan menutup mata dari kebutuhan hakiki rakyat. Inilah watak asli rezim kapitalis demokrasi.

Bukanlah pemimpin seperti ini yang dirindukan umat. Pemimpin yang abai terhadap rakyatnya. Umat butuh sosok pemimpin yang menjadikan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas tertinggi. Umat butuh pemimpin yang bertanggungjawab dan cinta kepada rakyatnya. Sungguh pemimpin yang cinta dan sangat memprioritaskan rakyatnya hanya akan kita dapati dalam sistem pemerintahan Islam. Pemimpin dalam sistem Islam yang menempatkan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas tertinggi dan pertanggungjawaban akhirat sebagai tujuan.

Sejarah telah menunjukkan watak pemimpin dalam sistem Islam. kecintaannya terhadap rakyat begitu nyata. Dan tampak sangat nyata saat menghadapi krisis dan menghadapi wabah. Sejarah telah mencatat bahwa para pemimpin Islam begitu bersungguh-sungguh dalam menyelesasikan masalah yang dihadapi rakyatnya.

Kepemimpinan yang begitu cinta kepada rakyat, hanyalah kepemimpinan dalam system Islam. Pemimpinnya  menjadi pelayan dan pengayom bagi rakyatnya. Ditengah kepemimpinan Khalifah Umar bin Al-Khattab pernah menghadapi wabah krisis yang sangat mencekam. Dengan izin Allah ia mampu menyelesaikan segenap masalah dan mampu melalui krisis dengan sangat elegant.

Setidaknya ada lima langkah yang ditempuh oleh Khalifah (Pemimpin dalam sistem Islam) dalam menghadapi krisis:

Pertama, tidak bergaya hidup mewah. Pemimpin dalam negara Khilafah terkenal zuhud dan penuh kecintaan kepada rakyatnya. Saat menghadapi wabah atau krisis ekonomi, para pemimpin menjadi teladan terbaik, yakni tidak bergaya hidup mewah. Bahkan mereka makan dengan makanan yang seadanya.

Kadarnya tidak melebihi makanan rakyat yang paling miskin. Diriwayatkan dari Anas, “Perut Umar bin Al-Khatthab selalu keroncongan di tahun kelabu, sebab ia hanya makan dengan minyak. Ia mengharamkan mentega untuk dirinya. Ia memukul perut dengan jari-jarinya dan berkata, ‘Berbunyilah karena kita tidak punya apa pun selain minyak hingga rakyat sejahtera.”

Kedua, cepat, tepat, dan komprehensif. Dalam buku The Great leader of Umar bin Khattab di tuliskkan bahwa saat menghadapi krisis, Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu segera mengeluarkan kebijakan yang tidak berbelit-belit. Beliau dengan cepat dan tanggap mengambil langkah untuk mengatasi krisis yang melanda.

Beliau memerintahkan untuk mendata semua rakyat yang membutuhkan bantuan dan segera memberikan bantuan langsung tunai tanpa harus menunjukkan kartu sebagaimana di negeri antah barantah. Bukan sekedar memerintah sana sini, namun beliau turun langsung dalam memberikan bantuan kepada rakyat.

Ketiga, mengerahkan bantuan dari berbagai daerah. Jika pemerintah pusat tidak mampu menangani krisis, maka khalifah akan meminta bantuan kepada daerah-daerah di bawah kekuasaan khilafah  yang mampu memberikan bantuan.

Keempat, bertaubat dan mengadu kepada Allah. Bencana apapun yang menimpa suatu negeri, bisa jadi disebabkan oleh banyaknya dosa dalam negeri tersebut. Sehingga tatkala musibah melanda, pemimpin negara khilafah memobilisasi seluruh rakyat agar segera bertaubat memohon ampun dan mengadu kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah ataupun wabah yang melanda.

Inilah yang dicontohkan oleh Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Aslam : saya mendengar Umar berkata, “ Wahai sekalian manusia, saya khawatir murka Allah akan menimpa kita semua. Mengeluhlah kepada Rabb kalian, lepaskan dosa, kembalilah pada Rabb kalian dan lakukanlah kebaikan.” Inilah seruan Amirul mukminin tatkala musibah menimpa negeri.

Kelima, menghentikan had pencurian dan pungutan zakat. Had pencurian dan pemungutan zakat saat terjadi krisis atau bencana tidak terpenuhi. Jika ada yang mencuri, bisa jadi karena tuntutan perut yang harus dipenuhi sementara tidak ada penghasilan. Maka kebijakan khalifat adalah menghentikan had pencurian dan pemungutan zakat saat terjadi bencana ataupun krisis.

Demikianlah cara khilafah menangani krisis yang melanda negeri. Yakni pemimpin mengajarkan dan menjadi teladan untuk tidak bergaya hidup mewah, menyelesaikan masalah dengan cepat, tepat dan komprehensif, mengerahkan bantuan dari berbagai daerah, bertaubat dan mengadu kepada Allah yang dimobilisasi oleh pemimpin, serta menghentikan had pencurian dan pemungutan zakat. Dengan demikian krisis atau bencana dapat diatasi dengan baik.

Wallahu a’lam bishawab.

penulis : Samsinar (Member Akademi Menulis Kreatif)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.