21 April 2024
13 / 100

 

 

 

 

Seolah tradisi, setiap menjelang Ramadan harga pangan merangkak naik. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, telur, minyak goreng, gula pasir, berbagai jenis bawang, daging ayam, dan beras mengalami lonjakan harga pasca-pemilu dan mendekati Ramadan 2024. Menurut Deputi BPS M. Habibullah kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya permintaan di pasar. (CNBC, 1/3/2024)

 

Sementara itu, Bisnis.com (6/3/2024), mewartakan harga sejumlah komoditas pangan mulai merangkak turun pada Rabu, (6/3). Meskipun demikian, harga pangan ini masih terbilang tinggi.

 

Di antara komoditas pangan yang turun harga adalah beras medium turun 1,88% menjadi Rp14.060 per kilogram, tetapi harga tersebut masih di atas HET (Harga Eceran Tertinggi) pemerintah yaitu Rp10.900-Rp11.800 per kilogram. Bawang merah turun 2,12%, yakni Rp33.200 per kilogram, sedangkan bawang putih turun 1,12% menjadi Rp38.920 per kilogram. Harga cabai merah turun 5,99% menjadi Rp58.870 per kilogram, sementara cabai rawit merah turun 6,45% menjadi Rp58.130 per kilogram. Harga daging sapi turun 5,51% menjadi Rp126.980 dan daging ayam turun tipis 0,24% menjadi Rp37.460 per kilogram. Gula pasir turun tipis 0,39% menjadi Rp17.660 per kilogram dan minyak goreng curah turun menjadi Rp15.350 per kilogram.

 

Miris

 

Miris, di tengah suka cita menyambut ibadah puasa, umat Muslim harus menerima kenyataan pahit dengan naiknya harga pangan. Ramadan yang seharusnya menjadi bulan membahagiakan bagi umat Muslim, akhirnya berubah menjadi bulan penuh kegundahan.

 

Kondisi naiknya harga komoditas pangan tentu memberatkan rakyat dan mengganggu kekhusyukan ibadah di bulan mulia yang dinanti sekian lama oleh umat Muslim ini. Meskipun ada penurunan harga, tetap saja hal itu tidak akan berefek besar bagi masyarakat. Karena harga sejumlah komoditas pangan tersebut masih terbilang tinggi. Sementara pekerjaan demikian sukar dicari, PHK massal terjadi di sana-sini. Alamak sungguh memilukan.

 

Faktanya, peristiwa harga pangan yang terus meroket menjelang Ramadan hingga hari raya Idul Fitri merupakan kejadian berulang yang tak pernah ada habisnya. Sayangnya, selama ini belum ada satupun solusi yang dapat mengantisipasi dan menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini menjadi pertanyaan besar mengapa semua ini bisa terus terjadi?

 

PenyebabMeroketnyaHarga Pangan

 

Jika ditelaah lebih jauh, selain dipicu melonjaknya permintaan pasar yang tinggi, tentunya ada banyak penyebab yang memengaruhi kenaikan harga pangan menjelang Ramadan hingga Idul Fitri. Di antaranya adanya permainan harga di pasar melalui penimbunan yang dilakukan para pengusaha dan distributor nakal. Selain itu juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang mematok harga atau menetapkan HET (Harga Eceran Tertinggi).

 

Di sisi lain, terdapat kesalahpahaman di tengah masyarakat tentang menyikapi bulan Ramadan dan bagaimana seharusnya beribadah juga beramal saleh selama bulan Ramadan. Seperti kita ketahui bersama, saat ini demikian tak sedikit umat Muslim ketika menyambut Ramadan hanya mengikuti tren dan tradisi di masyarakat. Seperti menyediakan makanan berlebih-lebihan untuk sahur dan berbuka. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk meraup keuntungan yang banyak dengan cara menaikkan harga pangan.

 

Mirisnya lagi, semangat ingin berbagi/sedekah bagi Muslim di Ramadan dijadikan momen oleh pengusaha untuk meraup untung tinggi bahkan dengan cara-cara kotor dan keji.

 

SistemKapitalisme Sekuler Penyebab Utamanya

 

Sejatinya, naiknya harga pangan yang terus berulang menjelang lebaran dan Idul Fitri adalah akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekuler. Penerapan sistem ini telah menjadikan sektor ekonomi dikuasai dan dinikmati oleh oligarki dan para pemilik modal saja. Sistem ini juga yang telah memberikan keleluasaan kepada para pengusaha untuk berbuat curang, melakukan permainan harga melalui penimbunan barang, sehingga barang menjadi langka dan mahal.

 

Sistem ini yang telah menjadikan negara dan penguasa abai mengurusi rakyatnya. Negara dan penguasa yang semestinya bertindak sebagai penanggung jawab dalam menyediakan, menjamin tersedianya pasokan kebutuhan pokok yang memadai bagi rakyatnya seolah hilang.

 

Hal ini tampak dari mekanisme penetapan/pematokan harga yang dilakukan pemerintah (HET) yang menimbulkan masalah harga berubah-ubah. Adanya HET bukannya malah menjadikan harga bertahan di besaran yang telah ditentukan, yang ada justru naik tak terkendali karena adanya kecurangan-kecurangan dari yang memiliki stok komoditas yakni para pengusaha.

 

Sistem kapitalisme sekuler pun telah menciptakan kesalahpahaman tentang arti dan makna bulan Ramadan. Bulan Ramadan yang semestinya menjadi momen untuk beribadah dan beramal saleh sebanyak-banyaknya justru diwarnai dengan budaya hedonisme yang hanya mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi semata, seperti berbelanja makanan dan pakaian berlebihan. Padahal bagi seorang Muslim makanan dan pakaian adalah bagian dari ibadah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

 

Islam Menjamin Terpenuhinya Kebutuhan Pangan Rakyat 

 

Harga pangan mahal tentunya tidak akan pernah terjadi jika negeri ini mau menerapkan sistem Islam kafah. Kenapa demikian? Hal ini karena Islam memosisikan negara dan penguasa sebagai pengurus, pengatur, dan penanggungjawab urusan rakyatnya. Negara tidak boleh sekadar menjadi regulator terlebih yang memuluskan kepentingan para oligarki.

 

Rasulullah saw. bersabda: “Pemimpinitu adalah pengatur urusan urusan umatnya. Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (AlBukharidanAhmad)

 

Terukir dalam sejarah, selama 13 abad lamanya sistem Islam diterapkan sebagai aturan kehidupan, segala permasalahan manusia dapat diselesaikan hingga tuntas. Rakyat pun hidup sejahtera, aman, dan damai. Tidak pernah ada satu pun catatan sejarah Islam yang menyatakan ada rakyatnya yang kekurangan bahan pangan dan negara tidak menyolusikannya, baik ketika Ramadan maupun di hari-hari biasa.

 

Hal ini karena ketika memasuki bulan Ramadan, negara Islam akan mendorong setiap muslim agar bersiap dan memperbaiki juga memperbanyak amal ibadah. Negara juga memudahkan rakyat dalam menjalani ibadah Ramadan, mempersiapkan segala sesuatunya demi meraih rida Allah dan nyaman ketika menjalankan ibadah puasa.

 

Negara juga memberikan pendidikan terbaik sehingga umat memiliki pemahaman yang benar atas ibadah Ramadan, termasuk pola asupan yang akan dikonsumsinya. Sistem Islam akan mendorong umatnya untuk bersegera dalam kebaikan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

 

Dalam hal penyediaan pangan, negara dan penguasa Islam benar-benar akan bertindak sebagai penanggung jawab yang menyediakan pasokan bahan pokok memadai dan seimbang.

 

Pengadaan mekanisme pasar pun akan berfokus pada kemaslahatan umat. Mekanisme pasar dalam sistem Islam dijalankan sesuai syariat, baik yang menyangkut produksi, distribusi,  perdagangan, maupun transaksi.

 

Negara Islam pun akan senantiasa memastikan agar terciptanya perdagangan yang sehat. Tidak boleh ada kezaliman antara penjual dan pembeli. Karenanya Islam akan memberlakukan larangan tas’ir (pematokan harga). Serta akan memberikan sanksi tegas kepada siapa saja yang terbukti melakukan kecurangan, penipuan, penimbunan, dan lain sebagainya di pasar.

 

Dahulu di masa Rasulullah pernah terjadi kenaikan harga, para sahabat menyarankan Rasulullah agar mematok harga. Namun beliau saw. menolak, karena pematokan harga akan menimbulkan kezaliman antara penjual dan pembeli, serta dapat menyebabkan kenaikan harga.

 

Demikianlah upaya-upaya yang ditempuh negara yang menerapkan sistem Islam dalam menstabilkan harga-harga dan menjaga agar kemuliaan dan kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan senantiasa terjaga. Semoga penjelasan ini bisa semakin menambah kerinduan kita akan diterapkannya sistem Islam kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. [DMS]

Penulis: Reni Rosmawati

Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Generasi

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.