3 Maret 2024
Thrifting
62 / 100

Dimensi.id-Belum lama ini Bupati Bekasi menyatakan dukungannya terkait kebijakan larangan jual beli pakaian bekas impor. Karena memiliki dampak buruk secara ekonomi maupun kesehatan. Mengingat wilayah Bekasi terdapat banyak UMKM yang bergerak dibidang Fashion. Apabila terjadi pembiaran terhadap trend thrifting pakaian bekas impor ini, maka akan berefek matinya pelaku usaha kecil di bidang tersebut.

Thrifting Menelan Industri Kecil

Selain itu jual beli barang bekas impor tersebut jelas merugikan industri tekstil yang secara otomatis berimbas dengan menurunnya potensi pendapatan daerah. Dan dari penggunaan pakaian bekas impor inipun juga memiliki potensi besar dalam penularan penyakit yang bisa mengganggu kesehatan.

Meningkatnya permintaan pasar terkait barang bekas impor khususnya pakaian yang banyak di minati kalangan muda ini, tak terlepas dari tuntutan gaya hidup hedonis yang menjangkiti generasi muda saat ini.
Dimana menurut pandangan mereka penampilan dengan berbagai outfit yang menarik dan branded menjadikan eksistensi mereka lebih dilihat dan di akui, meskipun berupa barang second sekalipun.
Sehingga menjadikan mereka rela berburu dan merogoh kocek dalam-dalam demi memenuhi tuntutan gaya hidupnya, Tanpa memperdulikan efek maupun akibat dari perbuatannya ini.

Thrifting sendiri pada awalnya ditujukan untuk menjalani hidup ramah lingkungan atau subtainable living. Akan tetapi pada prakteknya justru berpotensi membawa kerusakan yang tidak sedikit, terutama bagi lingkungan maupun orang lain.

Diantaranya adalah:

  1. Ketiadaan pakaian layak pakai dikalangan menengah kebawah karena memang bukan menjadi target pasarnya.
  2. Menjadikan hidup berlebihan yakni dengan membeli barang diluar kebutuhan yang hanya bersifat sesaat demi sebuah trend.
  3. Bertambahnya limbah/sampah tekstil dari barang bekas impor yang nyata-nyata limbah tekstil ini adalah yang paling tidak mudah dalam proses dan penguraiannya.

Solusi gaya hidup sederhana dan ramah lingkungan dalam sistem kehidupan yang saat ini diterapkan, yakni kapitalisme. Ternyata tidak mampu memberikan dampak baik yang berarti justru membawa dampak buruk yang meluas, seperti kesenjangan dan menjadikan hidup konsumtif.

Untuk itu perlu adanya sistem kehidupan alternatif yang bisa menjadi jalan keluar dari permasalahan ini.

Islam Berbicara

Dalam Islam itu sendiri jual beli barang adalah perkara yang mubah atau dibolehkan selama dari kedua belah pihak ridha. Jual beli harus memenuhi rukun dan syarat yang menjadikan sah tidaknya proses tersebut, yakni adanya penjual dan pembeli yang memenuhi syarat, adanya transaksi ( akad ), adanya barang/jasa yang diperjualbelikan.

Dan mengenai jual beli pakaian bekas itu sendiri sah-sah saja dilakukan asal sama-sama ridha, pakaian bekas itu barang yang suci atau bukan benda najis, barang tersebut adalah benar-benar yang sangat dibutuhkan/diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi ketika pakaian/barang bekas itu dari impor kembali lagi ke kebijakan yang ada saat ini terkait adanya larangan barang ekspor dan impor termasuk barang bekas, maka sebaiknya tidak dilakukan mengingat dampak buruk yang sebelumnya telah dijelaskan.

Sebagai Muslim hendaknya kita mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menjalani kehidupan. Rasulullah mengajarkan kita bahwa hidup mewah dan harta yang berlimpah bukan penyebab hidup seseorang berkualitas dan bahagia, tetapi hanya akan menjadikan seseorang sombong dan mencintai dunia secara berlebihan.

Dan hal ini justru akan menjauhkan kita dari cinta dan kasih sayang Allah. Bukan berarti kita tidak di bolehkan memiliki kekayaan. Seorang Muslim boleh memiliki kekayaan melimpah asal perolehan dan pembelanjaannya dijalan Allah.

Contoh kehidupan yang sederhana pun di lakukan oleh sahabat Rasulullah salah satunya adalah Umar bin Khatab, dimana umar pernah terlambat hadir untuk khutbah jum’at dikarenakan sebelumnya Umar disibukkan dengan menjahit pakaian satu-satunya yang ia miliki. Padahal pada saat itu posisinya sebagai Khalifah.

Dan masih banyak lagi para sahabat lainnya yang bisa kita jadikan ibrah dan contoh unttuk kita dalam hal gaya hidupnya yang sederhana. Karena setiap apa yang kita perbuat/kenakan/belanjakan akan ada pertanggungjawabannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi)

Jadi, solusi dalam mengatasi hal ini perlu adanya tiga pilar yang harus ada ditengah-tengah kita, yaitu adanya ketakwaan individu yang mengontrol seseorang dalam beraktivitas, adanya kontrol masyarakat yang menjadi koreksi/pengingat antar sesama agar berada tetap di jalur yang benar, dan adanya negara yang menerapkan Islam yang menjadi poin penting karena lebih efektif dalam menyelesaikan permasalahan ini.

Wallahu’alam bishshawab

Penulis : Oleh : Nunung Ummu Fajar

1 thought on “Thrifting Merebak Akibat Tuntutan Gaya Hidup Hedonis

  1. Menarik pembahasannya tentang thrift yang saat ini menjadi tren masyarakat indonesia. Tetapi catatan penulis : pembahasan diatas kurang menjelaskan persoalan antara thrift dengan hedon yang padahal 2 hal itu besebrangan, hedon itu hidup mewah sedangkan thrif itu membeli baju bekas. Nah penulis perlu memperdalam lagi terkait fakta persoalan yang ada supaya pembahasan lebih jelas dan mendalam

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.