4 Maret 2024
53 / 100

“Toni, Papa berangkat dulu ya. Kamu yang rajin sekolahnya biar kayak Papa,” ucap Papa saat pamit kerja.

Seperti biasa, Papa lebih dulu berangkat kerja daripada Toni. Maklum, kantor tempat Papa memang butuh perjalanan yang lebih lama. Meski jaraknya hanya 20 km dari rumah, namun waktu tempuhnya bisa hampir satu jam lantaran macet dibeberapa tempat.

Selang setengah jam berlalu, Toni berangkat sekolah menggunakan motor sport verza. Ia berangkat tepat pukul 06.30. Toni adalah anak semata wayang dari Pak Hartono. Seorang wakil rakyat yang cukup terkenal di perumahan tempat tinggalnya.

Toni merupakan siswa kelas 12 SMA swasta yang terkenal elit di lingkungan kotanya. Meski ia bisa saja diantar oleh sopir ke sekolah, Toni lebih senang naik motor sendiri.

Toni adalah murid yang berprestasi. Ia juga aktif menulis untuk majalah dinding atau buletin yang dicetak sekolahnya sendiri. Meskipun ia juga terkenal pendiam dan tak suka bersosialisasi.

“Toni, nanti malam mau ikut nongkrong di cafe gak?”, Tanya Anton.

“Sorry, aku mau belajar aja di rumah”, jawab Toni.

“Ah, gak asyik nih. Kalau belajar melulu, kapan kamu punya temannya?”, Anton berusaha merayu.

Namun Toni hanya tersenyum. Nampak lesung pipi di pipi kirinya menambah tampan paras wajahnya. Ya, Toni adalah tipe anak introvert yang kurang suka berkumpul dengan orang kebanyakan.

Malam itu, Toni masih setia di meja belajarnya. Ia terus menorehkan tulisan dalam beberapa kertas kosong dengan pena warnanya. Hingga kemudian ia terlelap di atas meja belajarnya.

Papa yang pulang pada pukul sepuluh malam mengetahui kamar Toni yang masih terbuka. Papa lantas masuk dan menyelimuti Toni dengan jas hitam miliknya. Sebelum Papa meninggalkan kamar, Papa berbisik kepada Toni.

“Toni, jadilah seperti Papa”.

Pagi hari tiba. Toni bergegas bangun untuk melaksanakan shalat isya. Nampak jas hitam Papa berada di bawah kursi duduknya. Ia tak menyangka bahwa Papa akan masuk ke kamarnya.

Setelah shalat dan berbenah diri, Toni segera sarapan seperti biasanya. Namun ia melihat Papa masih duduk di meja makan dengan pakaian harian.

“Papa tidak bekerja?”, Tanya Toni.

Papa menggelengkan kepala. Papa lantas menyodorkan brosur kampus yang tidak asing bagi Toni.

“Toni, setelah lulus, masuklah ke kampus ini. Ambillah jurusan hukum. Jadilah seperti Papa,” ucap Papa.

Hati Toni tak terima. Ia lantas berkata kepada Papa.

“Toni tidak mau, Pa. Toni mau ambil jurusan jurnalistik,” jawab Toni.

Papa lantas menjelaskan bahwa akan banyak keuntungan jika Toni berhasil masuk ke dalam dunia pemerintahan dalam usia muda. Papa menyebutkan bahwa apa yang diberikan kepada Toni selama ini adalah hasil kerjanya menjadi wakil rakyat.

Toni bersikukuh pada pendiriannya. Ia menyatakan akan siap membiayai hidupnya sendiri jika Papa tidak menyetujui keinginannya. Toni lantas pergi meninggalkan Papa dan berangkat sekolah seperti biasanya.

Ada satu hal mengapa Toni enggan menjadi wakil rakyat. Ia merasa beban itu terlalu berat untuknya. Terlebih lagi citra wakil rakyat kini sangat buruk di mata masyarakat.

Memang benar, jika menjadi wakil rakyat termasuk salah satu pekerjaan yang menjanjikan saat ini. Namun ia tak ingin niat baiknya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat harus ternoda dengan lingkungan kerja yang buruk, dan “money politic” yang telah menjamur dikalangan para politikus.

Toni ingin menyuarakan aspirasi masyarakat melalui tulisan dalam bidang jurnalistik. Tekad kuat Toni untuk menjadi jurnalistik telah ia mulai sejak kelas 10. Ia juga sering mengirimkan tulisan kepada media komersial. Hasil upah tulisannya lantas ia tabung untuk kebutuhan yang tidak terduga.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.