21 April 2024

Dimensi.id-Awal tahun 2020 seakan menjadi tahun penuh dengan muhasabah bagi orang-orang yang beriman untuk meningkatkan iman. Sekaligus mentaqarrub atau mendekat kan diri pada Sang Maha Pencipta Alam Semesta beserta isinya. Ramadhan tahun ini menjadi berbeda dari sebelumnya  bagi umat sedunia. Dimana kita di uji dengan wabah makluk ciptaanNya yaitu Virus Corona. Seakan seperti takdir bertemu dengan Sains. Semua kerusakan diawali ulah tangan manusia yang melawan syari’at islam yang peraturan islam sudah secara rinci di jelaskan sebagai petunjuk bagi manusia.

Allah SWT telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan ukuran-ukuran dan Qadar yang jelas, setiap benda dan makluk ciptaanNya memiliki khasiatnya masing-masing. Semua sudah ada aturannya masing-masing dalam syariat Islam.  Dan dengan manusia mengetahui hal tersebut tentunya akal manusia mampu untuk berfikir dan harusnya manusia lebih berhati-hati terhadap apa yang mereka kerjakan dan perbuat, termasuk terhadap apa yang mereka makan.

Hasil penelitian sudah menemukan bahwa kelelawar mengandung Virus Corona di kemudian hari, namun manusia dengan keterbatasan akalnya tetap saja melanggar aturan Sang Pencipta Allah SWT dan akhirnya semua telah terbukti, binatang yang di haramkan untuk memakannya ini menimbulkan virus Corona. Dengan demikian adanya Sains serta diiringi pemahaman adanya Qadar ini kita bisa melakukan pencegahan, mitigasi dan penanganan terkait kasus Corona. Lantas harus seperti apalagi Allah menegur kita agar mau sadar dan bersyukur?

Allah SWT berfirman:”Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Al-A’raf 7: Ayat 56)

Namun demikian, ada begitu banyak Hikmah di balik Takdir Allah ini, yang mungkin menurut kita buruk tapi baik bagi Allah yang tentunya itulah yang terbaik.  Mungkin sebelumnya kita sangat sibuk terfokus pada dunia saja hingga lalai kewajiban sebagai seorang Hamba dengan tujuan hidup untuk beribadah, sibuk dengan pekerjaan, kuliah dan orientasi dunia saja. Sehingga semua nya terasa hampa setiap harta yang di kumpulan tak membawa kepada ketenagan dan kebahagiian jiwa. Sehingga kita dapati dunia ini hanya beberapa menit saja dibandigan akhirat yang lama nya tak mampu dijangaku oleh akal manusia.

Ditimpa bebagai ujian, tawakal dan iklas. Sikap seorang mukmin menganggap semua ujian ini datangnya dari Allah semata yang senantiasa baik baginya dan berprasangka baik terhadapNya. Berbaik sangka (ar-roja) diantaranya mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan dariNya.

Karna Allah tidak lah menzolimi, bahwa Allah rindu dengan munajat kita hingga di beri banyak waktu dan kesempatan untuk beribadan terlebih di beri kesempatan bertemu dengan bulan mulia Ramadhan. Allah SWT berfirman:”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 218)

Ujian kehidupan tanda cinta Allah kepada manusia. Berbagai ujian di alami umat manusia. Ditimpa dengan ujian kematian karena virus corona sehingga, ditinggal kan oleh orang yang sangat dekat degan kita. Namun Allah sudah janjikan Syahid bagi meraka. Ditimpa dengan ujian penyakit, namun Allah swt sudah janjikan dengan penyakit itu sebgai penggugur dosa.

Ditimpa dengan ujian kekurangan, namun Allah sudah janjikan rezeki yang sudah terjamin tiap makluk yang bernyawa, rezeki nya tak kan habis hingga ajal nya tiba. Sehingga manusia tak seharusnya mencari jalan yang dilarang oleh Allah dalam mencari kebutuhan hidup, karna segala yang telah di takdirkan Allah tak akan terlewatkan.

Sabar mengahadapi cobaan dan Ridha terhadap Qadha. Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:”Seseorang hamba yang Aku ambil kekasihnya dari penghuni dunia kemudian ia bersabar, maka tidak ada balasan apapun baginya kecuali surga “. (HR. al-Bukhari)

Semangat Ramadhan ditengah ujian wabah Virus Corona. Berbagai semangat menempuh Ramadhan dengan beribadah, memelihara Al-Quran. Al-Qur’an membuat manusia menjadi mulia, sebaik baik bekal bagi setiap muslim, hati akan menjadi hidup dan tentram. Allah swt berfirman:”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”.(QS. ar Rad:28).

Teruslah mengahafalkannya meski dalam proses yang lama, karna setiap hurufnya mengandung pahala. Teruslah membacanya meski sedang berusaha untuk lancar sempurna dalam membacanya. Rasulullah saw bersabda: “Orang yang mahir dengan al Quran akan bersama sama dengan rombongan malaikat yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca al-Quran tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala. (HR. Muslim dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin. ra)

Memperbanyak amalan Sunnah, seperti Shalat Nafilah (Sunnah) di Rumah. Dalilnya adalah hadis mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:” Jadikanlah sebagian dari shalat kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan”.

Berkata baik, atau diam. Berkata benar bukan karna memperhatikan penilaian dan Rida manusia, namun semata perintah Allah untuk menyampai kan kebenaran amar ma’ruf nahi mungkar. Pada saat puasa juga berpuasa lisan dari berkata yang sia-sia. Allah swt berfirman:” (Yaitu) orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”.(QS. Al-Mukminin:2).

Dan semangat puasa yang terakhir dengan meningkatkan ukhuwah sesama Muslim. Umat Muhamad saw. bukanlah umat yang egois, yang mementingkan diri, menjadi baik sendiri tanpa peduli pada sesama. Hati seorang Muslim seharusnya tergerak untuk menolong saudaranya yang kesusahan. Karna tak sedikit umat yang kesulitan mencari nafkah, terbelit hutang, serta terancam kelaparan. Namun demikian, pihak yang paling bertanggung jawab terhadap rakyat tentu adalah pemimpin.

Mereka harus bekerja keras bahkan meninggalkan kehidupan mewah nya untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Adanya negara, harus lebih mengutamakan jiwa seorang muslim ketimbang dunia dan seisinya. Jadi pentingnya pemimpin atau khalifah yang benar-benar mengurusi urusan umat dengar syariat islam. Inilah yang di ingatkan Nabi saw..:”Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR. Muslim).

Semoga Allah SWT menyelamatkan umat Muhammad saw., mengganti para pemimpin zalim dengan yang sungguh-sungguh berkhudmat mengurus urusan umat dengan menegakkan dan menerapkan Syariat-Nya yang agung di muka bumi.[ia]

Penulis : Lusi Gustari (Aktivis dakwah Kampus)

Editor : Fadli

3 thoughts on “Semangat Ramadhan di tengah musibah wabah Virus Corona

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.