4 Maret 2024
62 / 100

Media menggenggam publik luar biasa, katanya sabda lakunya menyerupai mantra. – Najwa Shihab

Pernyataan mbak Najwa Shihab menggambarkan fakta yang ada saat ini. Betapa besar pengaruh media terhadap kondisi masyarakat bahkan negara. Mulai dari kondisi iman, motivasi, idola tak terkecuali di arena politik.

Media dan Politik

Pemilu 2024 sebentar lagi dihelat, banyak pesan yang disampaikan para pejabat demi mendukung kelancaran pesta rakyat nanti. Salah satunya adalah pesan Pak Wapres KH. Ma’ruf Amin, beliau menekankan pentingnya peran media dan partai politik untuk menjaga kesejukan dan integritas dalam Pemilu 2024 mendatang. Dalam konteks media, menurutnya kemudahan dan keterbukaan informasi merupakan unsur penting dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemilu yang jujur, damai, dan demokratis. (Wapresri.go.id, 11/9/2023)

Di area digital seperti sekarang, tsunami informasi terjadi. Siapa saja bisa menyebarkan berita dengan kacamatanya sendiri. Tak peduli kebohongan atau kebenaran yang disebarkan. Termasuk informasi seputar politik dan pemilu. Hingga lahirlah buzzer yang bertugas mengarahkan arus opini demi kepentingan atasannya.

Ingatkah kita dengan panasnya pemilu sebelumnya? Kala kubu “cebong” dan “kampret” sengit berseteru di media sosial bahkan hingga membuat retak hubungan pertemanan dan keluarga. Walau akhirnya kini berjabat tangan dalam kursi pemerintahan sekarang. Pernyataan Wapres justru membuat kesan bahwa pemerintah sedang memberikan peringatan bagi pihak yang kontra terhadap pemerintahan agar tidak menyebarkan informasi yang berseberangan dengan pemerintah. Wah, kalau seperti ini, siapa sebetulnya yang provokatif?

Media di Alam Rimba Demokrasi

Di alam demokrasi yang katanya menjamin  kebebasan berpendapat dan berekspresi, media menjadi salah satu alat mengekspresikan kebebasan tersebut. Tak hanya itu, ia juga jadi alat politik. Sehingga banyak politikus, ketua parpol, Menteri yang menjadi bos besar media. Jika tidak, mereka pasti membangun image di media sosialnya.

Dengan memiliki media, para politisi ini bisa menggiring opini publik, mengarahkan simpati dan empati pada pihak yang mana, membenci pihak yang mana, mengamputasi ide yang bertentangan dengan pihaknya, sampai menggiring untuk memilih siapa. Ketika para pengusaha (pemodal) bekerjasama dengan kelompok politik, maka sudah pasti para pengusaha ini akan memberikan dukungan pula dari media yang mereka kuasai demi menangnya kelompok politik yang jadi partnernya.

Bisa jadi para penguasa media ini mengambil alih bahkan mendominasi arus opini media di Indonesia. Meskipun, kualitas jurnalistik dan professionalisme para jurnalis menjadi taruhannya. Akibatnya, media kian jauh dari independensi, hakikat, dan integritasnya sebagai penyampai berita, informasi, dan kebenaran. Justru rawan menjadi instrumen penyesatan, bahkan sangat mungkin memiliki tendensi untuk menyembunyikan kebenaran.

Itulah mengapa sekarang masyarakat lebih senang mencari berita dari media sosial dari pada televisi atau media cetak. Walau bukan media portal resmi tapi media sosial dirasa lebih jujur dalam menyampaikan informasi yang ada. Tentu, tetap harus ada filter terhadap informasi tersebut karena berita bohong saat ini sangat mudah beredar.

Menyebar Kebaikan melalui Media

Sebagai sistem kehidupan, Islam memiliki pandangan yang khas mengenai media. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alquran bahwa semua yang ada di dunia ini diciptakan sebagai sarana bagi umat manusia dalam beribadah pada Yang Maha Kuasa. Maka, media pun menjadi bagian dari sarana untuk beribadah.

Islam memiliki aturan yang sempurna untuk menjaga individu, masyarakat, negara dan agama. Semua dijaga dengan berlapis penjagaan. Misalnya untuk menjaga akidah muslim, maka lapisan penjagaan yang dilakukan diantaranya, pertama individu dibekali keimanan oleh orangtuanya sejak kecil. Lapisan kedua, masyarakat yang saling peduli kepada sesama karena kewajiban amar makruf nahi munkar. Lapisan ketiga, negara yang menerapkan kurikulum pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, menyediakan konten media yang menumbuhkan keimanan, melarang konten yang merusak iman, hingga memberikan hukuman berat bagi tindakan perusakan keimanan.

Begitu pula dengan media, ia adalah sarana menebarkan kebaikan. Bukan hanya itu, ia juga digunakan untuk meningkatkan taraf berpikir umat. Karena di dalam Alquran, Allah Swt  senantiasa mengajak kita untuk berpikir dan berpikir. Salah satunya ada dalam Qur’an surat Al Jasiyah ayat 13 yang artinya, “Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”

Inilah media dalam kacamata Islam, ia menyebarkan peringatan dari Allah swt akan dosa dan maksiat bukan ancaman jika tidak satu pendapat. Ia mencerdaskan umat dengan kalamullah dan sunnah Rasul, bukan membodohi publik demi amannya kepentingan pengusaha dan penguasa. Semuanya terikat hukum syarak, selalu diingatkan pertanggungjawaban di dunia dan akhirat.

Dalam media islam tak ada tempat untuk informasi yang sesat, tidak pula bagi ide yang rusak.

Wallahua’lam bish shawab.

 

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.