4 Maret 2024
63 / 100

Dimensi.id-Tak akan ada yang memungkiri bahwa di setiap era, generasi muda selalu menjadi aset peradaban, bahkan sosok perubah serta pemimpin di masa depan. Mengapa? Sebab, potensi yang tersimpan dalam diri pemuda amatlah melimpah. Jika kita kembalikan pada pandangan khas Islam tentang pemuda, fase pemuda merupakan fase kekuatan di antara dua kelemahan. Dua kelemahan yang dimaksud adalah kelemahan di waktu kanak-kanak dan kelemahan di waktu sudah tua dan beruban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. (QS. Ar-Rum: 54).

Ada rasa takjub ketika kita menyaksikan ketangguhan pemuda dan keberaniannya dalam medan perjuangan. Membela yang benar dan melawan kezhaliman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shabwah (kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran).” (HR. Ahmad).

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (4/151), dan at-Thabrani dalam kitab al-Kabir (17/903, no: 853), dan Abu Ya’la (3/288). Al-Haitsami mengatakan dalam kitab Majma’ Zawaid (10/273), “Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Thabarani, sanadnya hasan.”

Disisi lain, Islam juga melekatkan potensi dan karakter pembelajar pada diri pemuda. Ia seharusnya semangat belajar sebelum menjadi pemimpin.

قال عمر رضي الله عنه: تفقهوا قبل أن تسودوا

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Belajarlah sebelum kalian menjadi seorang tokoh”

وقال الشافعي رضي الله عنه: تفقه قبل أن ترأس فإذا رأست فلا سبيل إلى التفقه

Al-Syafi’i rahimahullahu berkata, “Belajarlah sebelum kamu memimpin, apabila kamu telah memimpin maka tidak ada jalan untuk belajar”.

Sebagai negeri muslim terbesar dunia, Indonesia hari ini tengah mengalami surplus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) jauh lebih besar daripada usia bayi dan manula. Berdasarkam data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), usia muda Indonesia mencapai 70% dari total penduduk dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2028-2030. Fenomena puncak demografi semestinya dapat menjadi bonus sebuah negara meraih kesejahteraan dan kemajuan bila diberdayakan secara tepat.

Sayangnya, potret pemuda usia produktif hari ini banyak yang tersesat dari potensi sejatinya. Kita bisa melihat sendiri, di era digital, pemuda yang dikenal sebagai kalangan melek teknologi, justru tak ubahnya menjadi mesin ekonomi kapitalisme dengan munculnya tren startup dan teknologi keuangan, seperti bank digital dan uang digital (cryptocurrency, bitcoin, dsb.). Mereka juga terlibat dalam teknologi sesat dan melalaikan seperti game online, pinjaman online (pinjol), hingga judi online. Pada saat yang sama, sebagian mereka ada yang menjadi bemper kapitalisme dalam wujud sampah peradaban, semacam gelaran Citayam Fashion Week serta barisan garis keras penggemar drakor dan K-Pop. Belum pula kasus-kasus kriminal seperti narkoba, maupun delik hukum lainnya yang melibatkan pemuda.

Di sisi lain, kita juga sering mendapati para pemuda yang hidup bebas tanpa batas, bahkan berpihak pada perilaku maupun pelaku penyuka sesama jenis yang kasusnya sudah menjangkiti hingga level anak-anak sekolah. Giliran yang masih suka lawan jenis, mereka terlibat free sex, atau malah menjadi penganut childfree alias pasangan muda yang menikah namun tak ingin memiliki anak meski kondisi biologisnya sehat dan normal.

Perihal kosmetik, marak brand-brand kosmetik baru yang mendadak populer dengan kata kunci “skin care” dan “glowing” di kalangan remaja putri. Sosok-sosok endorser, selebgram serta YouTuber fesyen dan kecantikan ramai berjejal di aplikasi-aplikasi yang biasanya digandrungi anak muda, seperti TikTok, Instagram dan YouTube. Mayoritas bicara tentang betapa pintarnya mereka bergaya.

Pun perihal arus deras moderasi beragama yang ternyata penuh dengan omong kosong. Bagaimana tidak? Moderasi beragama, yang katanya bertujuan agar generasi muslim tampil lebih toleran, nyatanya membuahkan hasil yang berkebalikan. Generasi muslim justru makin jauh dari Islam dan hidup dalam kerusakan. Moderasi beragama yang konon ditawarkan kepada pemuda sebagai solusi mengatasi radikalisme, tak ubahnya menjadi pengikis identitas Islam dalam diri generasi muda kita hingga tak lagi memegang prinsip hidup yang diajarkan Rasulullah. Sebaliknya malah sibuk membebek dan menjiplak ide-ide Barat yang bebas.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan berdiam diri atas realitas kaum muda hari ini menuju musibah demografi? Atau turut serta dalam upaya penyelamatan mereka dengan menjadikannya sebagai berkah demografi. Insya Allah

Sebagai muslim, Islam satu-satunya panduan kita dalam berfikir dan bertindak. Islam telah memberikan gambaran jelas kepada kita tentang profil pemuda ideal harapan umat.  Apa yang telah ditorehkan dalam sejarah agung peradaban Islam menjadi jejak keberhasilan nyata pemberdayaan hakiki pemuda. Terbukti, saat umat Islam berpegang teguh pada ideologinya, dan menjadikan Islam sebagai asas pembangunan generasinya, termasuk sebagai asas sistem pendidikan dan asas bagi sistem-sistem lainnya, lahirlah generasi cemerlang yang mampu membangun peradaban cemerlang.

Mereka adalah generasi atau pemuda yang memiliki ketakwaan tinggi, takut kepada Allah dan senantiasa menerawangkan matanya hingga akhirat. Namun pada saat yang sama, mereka paham bagaimana menyikapi dan memberi solusi atas problem kehidupan dengan skill yang memadai dan sesuai aturan syariat. Orientasi hidup mereka tak hanya sebatas kepentingan pribadi, tapi juga memiliki visi keumatan berbasis ideologi Islam. Kita bisa bercermin dari generasi awal Islam di era Rasulullah  dan para sahabat. Kaum mudanya memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyah  Islamiyyah) kokoh bukan kepribadian sekuler (separoh Islam separoh bukan Islam), memegang teguh Islam bukan yang takut Islam, generasi berprinsip bukan pengekor, generasi kritis dan peduli bukan masa bodoh dan individualis.

Kekuatan generasi inilah yang kaum kafir Barat takuti hingga mendorong mereka menjauhkan kaum muda kita dengan berbagai program melenakan. Barat tidak akan pernah ridho pemuda Islam menemukan identitas Islam-nya dan memperjuangkan kebangkitan Islam di muka bumi. Mengapa? Karena hal itu berarti lonceng kematian bagi peradaban mereka (Barat). Oleh sebab itu, sudah saatnya kita bergandeng tangan menyelamatkan generasi Islam pemimpin peradaban. Allahu Akbar!

Penulis : Yuyun Pamungkas

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.