22 Februari 2024

Dimensi.id-Di tengah rasa was-was masyarakat karena Virus Corona, masyarakat harus semakin was-was-was dengan berita ini. Pada tanggal 30 Maret 2020 Kemenkumham yang diketuai oleh Yasonna Laoly memutuskan untuk membebaskan para napi dalam program asimilasi dan integritas narapidana dan anak. Yasonna menargetkan untuk paling tidak 30-35 ribu napi dapat dibebaskan.

Namun memang ada beberapa kriteria yang ditetapkan dalam program pembebasan ini, pertama, narapidana kasus narkotika dengan syarat memiliki masa tahanan lima sampai sepuluh tahun yang sudah menjalani 2/3 masa tahanan. Kedua, narapidana kasus tindak pidana korupsi yang telah berusia 60 tahun atau lebih dan telah menjalani 2/3 masa tahanan.

Ketiga, narapidana tindak pidana khusus yang mengidap sakit kronis dan telah menjalani 2/3 masa tahanan disertai surat pernyataan dari rumah saki pemerintah. Dan yang terakhir adalah narapidana asing. Dalam kriteria ini tidak berlaku untuk narapidana teroris dan korupsi sebagaimana diatur dalam nomor 99 tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelayanan Hak Warga dan Binaan Pemasyarakatan yang mengatur tentang pengetatan remisi. (5/4/2020)

Dalam program ini, Kemenkumham mengaku dapat menghemat anggaran hingga Rp 260 miliar. Program ini juga jadi cara untuk mengurangi kepadatan penjara. “Penghematan anggaran kebutuhan WBP mencapai 260an miliyar rupiah, selain mengurangi angka overcrowding,” ujar Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produkasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Yunadi. (Tirto.id, 1/4/2020)

Lalu bagaimana setelah para napi dilepas?

Nyatanya semakin meresahkan. Terbukti tak lama setelah berita heboh pelepasan napi, sederet berita memberitakan penangkapan kembali pelaku kejahatan. Seperti di Bali, Iqbal (29) kembali ditangkap karena menerima paket ganja seberat 2 kilogram. Di Sulawesi Selatan, Rudi Hartono harus kembali ke penjara karena tertangkap hendak mencuri di rumah warga. Di Blitar, seorang pria berinisial MS ditangkap dan babak belur karena tertangkap hendak mencuri motor warga, padahal ia baru dibebaskan tanggal 3 april dan ditangkap tiga hari kemudian. (9/4/2020)

Lalu di Tangerang, sekelompok anarko sejumlah 5 pemuda melakukan aksi vandalisme untuk meprovokasi masyarakat. Para pemuda ini mengaku tak puas dengan kebijakan pemerintah dan ingin memprovokasi masyarakat agar berbuat keonaran dan kerusuhan ditengah wabah ini. Salah satu vandalisme yang ditulis para pemuda ini adalah “Sudah Krisis, Saatnya Membakar”. (11/4/2020)

Tentu ini adalah bentuk kegagalan pemerintah dalam menjamin rasa aman warga apalagi ditengah wabah ini. Ketika masyarakat dilanda was-was ketularan virus, harus semakin menjaga diri karena takut bertemu penjahat. Para napi yang dibebaskan tersebut nyatanya tak mendapat efek jera setelah keluar penjara.

Dari peristiwa ini adalah bentuk kegagalan pemerintah dalam memberi efek jera dan rasa aman di masyarakat. Guru Besar Hukum Pidana Unsoed, Prof Hibnu Nugroho menilai fenomena tertangkap lagi para napi adalah kegagalan Kemenkumham, khususnya Ditjen PAS serta lapas atau rutan, dalam mengawasi para napi yang dibebaskan. Seharusnya ada regulasi ketat agar program asimilasi para napi ini tetap aman.

Tentu sebagai usaha untuk memberi efek jera pada pelaku kriminal adalah dengan menerapkan hukuman yang tepat. Hukuman di negri ini sudah umum diketahui tak memberi efek banyak pada penjahat. Inilah kegagalan hukum barat. Berbeda di dalam islam yang memberlakukan hukum syara dari sang pencipta yang memberi rasa jera pada pelaku.

Disamping penggugur dosa bagi pelaku juga menjadi efek jera pada masyarakat yang melihat. Bahwa dalam islam hukuman tidaklah main-main sehingga tak berani mengulangi kesalahan yang sama. Namun selain penerapan hukum yang ketat, selaku negara, ia wajib memberi kemaslahatan untuk rakyat dari segi pemenuhan hidup dan juga rasa taqwallah. Inilah keseimbangan islam dalam penjagaan masyarakatnya, tentu hanya bisa didapatkan jika segara tersebut menerapkan silam secara kaffah. Wallahu’alam bishawab

Penulis : Niki Dwiyanti Astuti (Mahasiswa Ilmu Gizi, UMS)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.