4 Maret 2024
55 / 100

Dimensi.id-Miris dan sungguh menyesakkan dada menyaksikan problematika remaja akhir-akhir ini yang melakukan tindakan amoral yang melampaui batas karena sekularisme menjauhkan mereka dari pendidikan agama.  Mereka tidak punya hati, dan empati dan tidak merasa berdosa meskipun perbuatannya sudah menyakiti orang lain. 

Pemerkosaan, penganiayaan, pemalakan, pencurian dan berbagai tindakan kriminal lainnya dilakukan oleh remaja yang seharusnya belajar untuk upgrade pengetahuan dan kemampuan agar bisa meraih masa depan gemilang.  Apa daya mereka sudah merusak masa depannya sendiri dengan berbagai tindakan yang tidak patut dilakukan, karena mereka kurang gizi spiritual dari keluarga yang kurang memperhatikan pendidikan agama.

Mereka hanya dicukupi secara materi, tapi kehilangan perhatian dan siraman rohani karena kedua orang tuanya disibukkan dengan aktivitas untuk mengejar kekayaan, menumpuk-numpuk dan menghitung-hitungnya. Berfikir bahwa kekayaan bisa membuat hidupnya bahagia tapi tidak saat ruhani kering dengan sentuhan ajaran agama yang lurus dan mulia.

Tapi pada waktu yang bersamaan, kita tergerak oleh nyinyiran terhadap ibu ibu yang gemar pengajin. Sudah seharusnya seorang ibu mengaji untuk mengupgrade pengetahuan tentang Islam sehingga dia akan tahu bagaimana memanage waktu bersama keluarga, mendidik anak dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Ibu memiliki peran penting untuk memberi corak dan warna karakter anak agar sesuai dengan kriteria seorang muslim ideal. Generasi sholeh atau Sholihah adalah dambaan kita bersama agar mereka mampu menjadi pemimpin masa depan ideal, dambaan kita bersama agar bisa menerapkan Islam secara kaffah untuk mengembalikan kehidupan Islami sehingga generasi gemilang bisa tercipta lebih banyak lagi, bukan generasi sampah yang banyak membuat masalah.

Nyinyiran terhadap ibu-ibu pengajian jelas salah alamat jika dikaitkan dengan stunting. Kemiskinan struktural pada hakekatnya penyebab kurangnya asupan gizi anak. Tanggung jawab negara untuk menjamin kebutuhan dasar rakyatnya serta menjamin lapangan pekerjaan bagi rakyatnya yang merupakan kepala keluarga, sehingga kesejahteraan bisa dirasakan seluruh rakyatnya.

Kasus stunting bisa dihilangkan saat negara mampu  menjamin kesejahteraan rakyatnya. Hidup dalam negara dengan sumber kekayaan alam yang melimpah tidak seharusnya ada kasus stunting, jika negara mampu mengolah kekayaan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat, bukan dikorupsi oleh pejabat yang rakus ataupun untuk para oligarki.

Baca juga: Para Pejabat Pajak Hidup Mewah, Rakyat Hidup Susah

Nyinyir pada ibu-ibu pengajian adalah buah dari pemikiran sekuler. Kebencian pada Islam membuat seseorang berpikir  bahwa pengajian adalah masalah, padahal dengan pengajian pemahaman seorang ibu akan menjadi lebih baik, sehingga mereka mampu mengatasi berbagai problematika hidup.

Mengaji bukanlah aktivitas yang sia-sia seperti yang dilakukan ibu-ibu sosialita yang gemar pamer kekayaan dan barang-barang branded. Tidak juga sama dengan ibu-ibu yang suka pansos agar viral dan terkenal, dan bahkan sering kebablasan mengobral aib sendiri ke sosial media.

Padahal kita ketahui bersama bahwa mengaji, menuntut ilmu agama hukumnya wajib. Sesuatu yang diperintahkan dalam Islam pastilah berdampak baik jika dilakukan. Apalagi jika kebaikan sudah digemari dan dilakukan secara Istiqomah.  Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

Hadis di atas tentunya sudah tidak asing di benak kita, bahwa kewajiban menuntut ilmu itu diperuntukkan bagi setiap orang Islam. Dengan mengaji, kita bisa tahu mana yang benar dan yang salah dalam pandangan Islam. Dengan mengikuti pengajian, Ibu-ibu jadi tahu bagaimana mengurus keluarga dan juga mendidik anak agar menjadi generasi unggul berkepribadian Islam seperti yang kita harapkan.

Namun sangat disayangkan dalam sistem sekuler pengajian dipermasalahkan, bahkan  dikaitkan dengan stunting. Ibu-ibu yang gemar pengajian dianggap menelantarkan anaknya sehingga menyebabkan pertumbuhan anak terganggu karena gizi buruk.

Buah pemikiran sekuler yang ingin menghilangkan unsur agama dalam kehidupan, sehingga gemar pengajian dianggap aneh dan sumber masalah. Pemikiran sekuler ingin menghilangkan pengajian karena bisa mendekatkan umat pada ajaran Islam yang lurus dan mulia. Wajar, orang-orang yang berfikir sekuler merasa heran pada ibu-ibu yang gemar pengajian.

Tentunya pengajian tidak boleh terhenti, dan bahkan perlu diapresiasi agar tercipta generasi bertaqwa yang takut dan merasa berdosa saat melakukan kesalahan. Sekularisme telah mematikan hati dan perasaan para remaja yang dalam proses mencari jati diri. Sangat berbahaya, saat remaja kehilangan pegangan agama, sehingga mereka menjadi liar seperti binatang yang tidak mampu berpikir jernih.

Mereka hanya mengikuti nafsu untuk bisa bersenang-senang. Mereka tidak hanya merusak diri mereka sendiri, tapi juga membuat masalah di tengah masyarakat.  Perilaku mereka sudah melampaui batas sebagai makhluk mulia karena tidak mau diatur dengan aturan yang akan membawa mereka pada kemuliaan. Generasi liar, bahkan lebih rendah dari binatang saat mereka meninggalkan agama dengan mengikuti naluri dan nafsunya. [AW]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.