20 Februari 2024

Dimensi.id-Kemunculan virus corona yang sempat membuat jagat raya mengalami “jeda”, ternyata berbuntut panjang, karena bukan hanya menyerang aspek kesehatan manusia saja, melainkan terus merembet ke aspek kehidupan yang lainnya. Seperti halnya aspek sosial, ekonomi, pendidikan, politik, dan juga aspek keagamaan juga ikut terkena dampak dari wabah penyakit yang spektakuler ini.

Dari segi ekonomi misalnya, merajalelanya pagebluk (wabah) virus corona membuat laju perekonomian masyarakat Indonesia menjadi sangat lambat, bahkan dapat dikatakan berjalan mundur. Fakta yang ada di lapangan menyebutkan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan mereka disebabkan karena Perusahaan tempat mereka bekerja  banyak yang merumahkan karyawannya, hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan, namun banyak juga perusahaan yang langsung mem-PHK-kan para karyawan mereka secara sepihak.

Mayoritas masyarakat kini, hanya bisa bertahan untuk sekadar menyambung hidup, dan hal ini memerlukan  perjuangan yang keras, banyak orang yang rela mempertaruhkan keselamatan dan nyawa mereka demi bisa memberikan nafkah bagi keluarganya.

Seperti kisah yang diceritakan oleh sebuah akun twitter bernama @akuikmalhanif pada tanggal 16 April 2020 kemarin.

“Ia menuliskan kisah nyata seorang pengendara Ojek Online (ojol) yang tetap nekat berjibaku untuk mengantarkan pesanan, padahal dirinya baru saja mengalami kecelakaan, sehingga ia datang ke pemesan (pemilik akun twitter) tersebut dengan kondisi badan penuh luka. “Muka pucat penuh luka di sana sini, sambil meminta maaf karena terlambat datang dan membuat pelanggan menunggu lama dan dalam kondisi kotor, ” tulis akun tersebut.

Dari aspek sosial muncul fenomena yang membuat hati kita merasa miris, yaitu dengan meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa.

Menurut Kadines Jabar Berli Hamdani, “Hal ini terlihat dari banyaknya kunjungan ke beberapa Rumah Sakit Jiwa di Jawa Barat. Meskipun data belum terkumpul semua, namun kalau dilihat di jalan-jalan yang lengang, banyak kita jumpai Gelandangan dan Pengemis (gepeng) semakin ramai, malah di beberapa flyover mereka bergerombol, ” tambah Berli.

Munculnya pandemi virus corona juga mulai merongrong aspek rohani, yakni mulai ada tanda-tanda menipisnya akidah sebagian masyarakat, terutama mereka yang saat ini terhimpit oleh masalah ekonomi.

Dalam situasi perekonomian yang sulit seperti sekarang ini, ternyata banyak pihak yang berusaha untuk mencari keuntungan dibalik penderitaan sesamanya, mereka tidak segan-segan melakukan tindakan yang melanggar syari’at Islam, diantaranya adalah menggencarkan praktek riba ditengah-tengah masyarakat yang dilakukan oleh segelintir orang, yang disebut Bank Emok (rentenir-pen).

Praktik ini kian merebak sejak banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, bangkrut dan terlilit hutang, akan mudah menjadi sasaran empuk mereka.

Semua ini adalah sekelumit gambaran dari buruknya tatanan kepengurusan rakyat/umat oleh penguasa. Dalam hal ini pemerintah dianggap gagal dalam mengurus negara, karena tidak mampu menciptakan suasana kondusif bagi warganya, tidak selaras dengan slogan dan janji-janji manis mereka sebelum menjabat sebagai wakil rakyat.

Padahal rakyat Indonesia ini sudah sangat merindukan munculnya figur pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab dalam mengurus dan meriayah umat (rakyat). Pemimpin yang ada saat ini adalah pemimpin yang lahir dari rahim kapitalisme, dimana mereka dalam mengambil suatu tindakan (keputusan) selalu menghitung untung dan rugi, hal ini terlihat jelas ketika awal mula masuknya virus corona ke Indonesia pada bulan maret lalu. Pemerintah terkesan lamban dan gagap dalam menangani wabah penyakit menular dan sangat membahayakan ini.

Seorang pemimpin sejati, akan bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, berlaku jujur dan akan mengemban amanah yang dipikulkan kepundaknya, karena ia paham betul konsekuensi dari seorang pemimpin, yakni pasti akan dimintai pertanggung-jawabannya, baik dihadapan manusia, maupun dihadapan Allah Swt kelak. Sehingga dalam menangani setiap kasus, ia akan selalu bersandar kepada petunjuk yang berasal dari-Nya.

Kesalahan dalam menentukan kebijakan akan berakibat timbulnya permasalahan yang baru, seperti yang terjadi saat ini, dimana negara justru malah mengambil keputusan untuk melakukan darurat sipil yang jelas-jelas tidak sesuai dengan kondisi negara kita, opsi ini pun dikecam oleh banyak pihak, selain itu pemerintah baru-baru ini baru saja mengambil opsi penerapan Darurat Kesehatan atau status PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dituang dalam PP no 21 Tahun 2020 untuk mengatasi pandemi Covid-19, yang mulai diberlakukan pada Rabu, tanggal 1 April 2020 yang lalu.

Kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah ini, menunjukkan lemahnya komitmen dan inisiatif sang pemimpin negara, belum lagi kebijakan-kebijakan yang diambil terlihat tidak fokus ke sumber permasalahan, malah banyak yang justru menimbulkan permasalahan-permasalahan baru.

Kisruh yang terjadi dalam masyarakat berasal dari kebijakan pemerintah yang kurang tepat dalam memutuskan suatu peraturan. Sikap pemerintah semakin kentara, yaitu tidak serius dalam memikirkan nasib rakyat, yang menyebabkan  terjadinya multi krisis, akibat kebijakan yang miris. Sebelum pandemi ini menimpa negeri, rakyat sudah banyak yang hidup susah, pengangguran meningkat seiring dengan kebutuhan dasar yang melonjak naik, bahkan seandainya tidak ada virus pun rakyat sudah banyak yang kelaparan dan hidup serba kekurangan.

Lantas,apakah kepada pemimpin yang ada seperti sekarang ini, kita menyandarkan nasib kita?

Tentu saja kita berharap bahwa pemimpin kita adalah mereka yang amanah dan bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Hanya negara Khilafah yang akan melahirkan sosok pemimpin yang tulus mengurus rakyatnya dalam menjalankannya fungsi raa’iin (pengurus) dan junnah (pelindung/penjaga). Pemimpin yang mau memutuskan kebijakan sesuai dengan aturan (hukum) yang ditetapkan oleh Sang Khalik, sehingga keberkahan akan menyelimuti negeri ini.

Hanya dengan penerapan syari’at Islam yang sempurna dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwah, maka sebuah negeri akan mencapai kejayaan dan keberkahan, baldatun, toyyibatun, wa rabbun ghafur. Wallahu A’lam bishshawab[ia]

Penulis : Summiyah ummi Hanifah (Member AMK Dan Pemerhati Kebijakan Publik)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.