20 Februari 2024

Dimensi.id-Mewabahnya Covid-19 di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia telah mengubah alur kehidupan masyarakat. Berbagai permasalahan pun turut hadir, mulai dari pembatasan sosial yang mau tidak mau menyempitkan mata pencaharian, sampai pada tidak efektifnya anak belajar dari rumah. Hingga pekan ini pun permasalahan bukan mendapatkan solusi yang solutif, akan tetapi justru kian bertambah. Yang mana salah satunya ialah dibebaskannya para narapidana.

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum  dan HAM mencatat ada 38.822 narapidana yang telah dibebaskan per Senin (20/4/2020). Para napi dibebaskan melalui program asimilasi dan integrasi sebagai bentuk penyebaran virus corona di wilayah lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di Indonesia.

Pembebasan besar-besaran ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Sebab para napi yang telah dibebaskan dikhawatirkan akan kembali berbuat kejahatan. Respon masyarakat pun sebenarnya banyak yang mengecam kebijakan ini. Apalagi di tengah-tengah wabah corona, sulitnya perekonomian sudah pasti akan memicu tindak kejahatan yang lebih besar. Terbukti dari pemberitaan di berbagai wilayah, napi-napi yang telah dibebaskan berulang kembali. Mereka ditangkap setelah berbuat pidana.

Seperti yang dilansir dari kumparan.com, di Bali, pria bernama Ikhlas alias Iqbal (29) yang dibebaskan pada 2 April. Ia kembali ditangkap pada 7 April karena menerima paket ganja seberat 2 kilogram. Lalu di Sulawesi Selatan, seorang pria bernama Rudi Hartono harus kembali mendekam dalam penjara karena hendak mencuri di rumah warga. Kemudian di Blitar, seorang pria berinisial MS ditangkap dan babak belur diamuk massa setelah kepergok mencuri motor milik warga. MS ini telah dibebaskan pada 3 April dan ditangkap 3 hari kemudian.

Keresahan masyarakat pun bertambah dikarenakan aksi vandalisme yang terjadi di Tangerang. Diketahui lima orang pemuda menyebarkan ujaran kebencian serta aksi provokator kepada masyarakat. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana mengatakan para pelaku ini berniat memanfaatkan situasi masyarakat yang sedang resah di tengah wabah corona dengan menyebarkan provokasi untuk membuat keonaran dengan ajakan membakar dan menjarah. Penyidik kemudian melakukan pemerikasaan intensif terhadap para pelaku dan mereka mengaku bahwa motif kelompok mereka melakukan aksi vandalisme ini karena tidak puas terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Kriminolog dari Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya Kristoforus Laga Kleden menyebut pelepasan napi karena virus corona Kemenkumham sudah tepat. Ia pun menambahkan, “program melepas narapidana karena corona ini memang bukan tanpa risiko. Sebab ada kemungkinan penjahat atau residivis ini akan mengulaingi lagi perbuatannya.” Untuk itu, ia menyarankan agar sejumlah napi yang dilepas dan nekat mengulangi aksi kejahatan harus diberi hukuman yang lebih berat. Selain itu napi yang bersangkutan juga tidak diberi atau diikutkan lagi program apapun selanjutnya.

Namun tampaknya para narapidana yang bebas karena asimilasi tidak menghiraukan ancaman yang diberikan kepada mereka jika berbuat kejahatan lagi. Karena di dalam lapas pun mereka tidak mendapatkan pembinaan yang seharusnya mereka dapatkan. Air, listrik dan kamar yang mereka tempati disesuaikan dengan uang yang mereka keluarkan selama masa tahanan. Dari sini terlihat jelas bahwa pemerintah tidak menyiapkan sejumlah solusi untuk mengeliminasi dampat kebijakan asimilasi Napi.

Banyaknya napi yang berulah usai program asimilasi merupakan bukti kegagaln pembinaan napi di lapas serta ketidakmampuan pemerintah khususnya penegak hukum memberikan rasa aman pada publik. Maka semakin terlihat jelas rusak dan bobroknya sistem kapitalis di negeri ini. Setelah pemerintah meminta rakyat untuk menjaga diri sendiri dari penyebaran virus, kini rakyat juga diminta menjaga diri sendiri dari tindakan kriminal dari ulah napi yang dibebaskan.

Kenyataan dari merebaknya kasus kriminal di tengah masyarakat saat ini menunjukkan betapa hukum-hukum buatan manusia telah gagal memberikan kepastian hukum dan keadilan, juga telah gagal dalam memanusiakan manusia.

Hal ini jelas sangat berbeda jauh dengan hukum yang dipandu oleh syariat Islam. Dengan panduan syariat Islam, para pejabat pada masa Khilafah mempunyai sifat dan karakter baik, yang mana di antaranya memberikan rasa aman kepada masyarakat. Dalam merealisasikan hal ini mereka harus melakukan beberapa hal. Salah satunya menerapkan hukum had (hukuman yang diancamkan kepada pelaku jarimah hudud) atas orang-orang yang fasik dan berbuat dzolim. Jika perbuatan mereka dibiarkan, maka akan membahayakan kehidupan manusia dan harta miliknya.

Dalam buku Sistem Sanksi Dalam Islam dijelaskan bahwa penjara adalah tempat untuk menjatuhkan sanksi bagi orang yang melakukan kejahatan. Penjara adalah tempat orang menjalani hukuman yang dengan pemenjaraan itu seorang penjahat menjadi jera dan bisa mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Di dalamnya harus ada pembinaan kepada para narapidana agar mampu meningkatkan rasa takut kepada Allah dan memperkuat ketakwaan. Diberikan hak hidup sesuai Syariat, seperti makanan yang layak, tempat tidur yang terpisah serta kamar mandi yang tetap melindungi aurat dan menjaga pergaulan antar napi.

Sebagaimana yang pernah terjadi di masa Kekhilafahan yang dipimpin oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, yang mana pada musim panas tahanan dibuatkan pakaian dari katun sedangkan pada musim dingin dibuatkan pakaian dari wol. Lalu secara berkala memeriksa kesehatan para napi. Hal-hal semacam ini diperbolehkan. Jika kondisi seperti ini diterapkan barulah dapat disebut sebagai kebijakan yang manusiawi.

Membina napi dengan sepenuh hati, sebab setelah bebas nantinya dari penjara dia akan kembali menjadi masyarakat yang diharapkan dapat bermanfaat utnuk agamanya dan sesama manusia lain. Maka kejahatan tidak akan terulang lagi. Demikianlah Sistem Islam, yakni Khilafah yang telah berhasil menjamin rasa aman dan nyaman bagi seluruh rakyatnya.

Wallahu a’lam bisshowab.[ia]

Penulis : Tri Ayu Lestari

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.