20 Februari 2024

penulis : Farida Ida

Dimensi.id-Tanpa  terasa kita sudah memasuki disepuluh hari terakhir di  bulan  Suci Ramadan1441 H  Marhaban Ya Ramadan,   bulan penuh  kemuliaan, rahmat dan ampunan  Bulan yang bertabur dengan pahala berlipat ganda, bulan yang dapat mengantarkan orang yang berpuasa meraih derajat takwa.

Kaum muslim dalam menyambut Ramadhan tahun ini, tidak seperti biasa penuh suka cita dengan kecukupan pangan dan sandang. Namun  wabah Corona ini menimbulkan ketakutan dan kegelisahan dikalangan masyarakat. Walaupun berbagai usaha untuk memutus penyebaran virus Corona ini telah dicanangkan dengan   melakukan social distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang mengharuskan  untuk tinggal di rumah, namun dampak yang ditimbulkan berakibat pada tidak berjalannya sistem perekonomian sehingga hampir 30-40 juta penduduk mengalami PHK (pemutusan Hubungan Kerja). (CNN-Indonesia.1/5/2020)

Ditambah lagi tidak maksimalnya peran penguasa dalam menangani dampak wabah ini sehingga tidak saja ancaman kesehatan yang dialam,i tapi juga kelaparan karena tidak ada penghasilan, sementara bantuan sembako, BLT dari pemerintah tidak merata, penangannya lamban dan berbelit belit. Belum lagi meningkatnya tunawisma di ibukota karena kebijakan mudik dan pulang kampung yang tarik ulur sehingga mereka pun terjebak dan terusir dari rumah kontrakannya.

Pemerintah dalam menyelesaikan masalah pandemi covid 19, sedari awal memang tidak ada persiapan dan antisipasi kalau-kalau virus yg berbahaya ini akan mampir ke Indonesia, sementara negara-negara tetangga sudah lebih dulu mempersiapkan diri, dana, dan fasilitas untuk antisipasi virus tsb.

Ketika China sudah ramai dg corona, negara-negara lain menutup diri, melarang warganya untuk keluar negri dan warga asing tidak diizinkan masuk, namun Indonesia malah membuka diri, bahkan memberi diskon besar-besaran untuk pariwisata, “welcome” terhadap warga asing termasuk China (negara sumber wabah) dan kita sendiri melihat beritanya di tv kalau mereka disambut meriah kedatangannya.

Kita juga pernah mendengar bukan? guyonan orang-orang  yang dengang sombong sesumbar “indonesia tdk bakal kena corona” karena gemar makan nasi kucing, minum jamu, dan terbiasa berenang di air banjir.

Bahkan ketika corona sudah masuk indonesia pun, penguasa masih fokus pd rencana pemindahan dan pembangunan ibu kota baru yg melibatkan TKA dari China, padahal saat itu rumah sakit dan para tenaga kesehatan berteriak karena kekurangan APD untuk menangani pasien wabah corona ini, hingga membuat beberapa tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat akhirnya meninggal dan banyak lainnya terpapar.

Banyaknya korban berjatuhan sampai menteri perhubungan yang ikut terpapar covid 19, barulah pemerintah membuat kebijakan. Itupun masih timpang sebelah, mengingat rapid test massal yang semula di prioritaskan hanya kepada masyarakat yang berisiko terjangkit (karena jumlah alatnya yang terbatas & itupun impor dari china), malah para elit politik beramai-ramai antri paling depan untuk tes duluan sekeluarganya.

Kurangnya koordinasi antar pemerintah pusat dan daerah, ketiadaan dana yang cukup, dan desakan dari WHO-PBB agar virus corona dpt ditanggulangi sesuai standar WHO, yang tentu membutuhkan biaya besar, pada akhirnya membuat “tarik ulur” ini terjadi di masyarakat.

Seperti kebijakan lockdown yg kesannya setengah hati, bahkan tidak mau menggunakan kata “lockdown” dengan  alasan “menghindari kepanikan masyarakat” yang memang sudah panik sejak awal.

Lalu panic buying yang terjadi di masyarakat, merupakan fenomena yang menurut para ahli disebabkan oleh kurangnya informasi dan transparansi yang diterima masyarakat, yang kemudian memicu insting alamiah manusia untuk mempertahankan dirinya dengan cara menyetok bahan- bahan  secara  berlebihan karena takut tidak akan kebagian. Bahkan terjadi pengusiran  tenaga medis dari tempat kosnya karena tertukar, lebih fatal lagi adanya penolakan  jenazah yang akan di kuburkan di lokasi penguburan warga.

Ketika negara-negara di Asia lainnya yg sudah lebih dulu terkena dampak corona memutuskan lockdown, Indonesia masih dengan santai membiarkan warganya berkeliaran hingga akhirnya Indonesia, yang saat itu belum ada sebulan terkena corona, menjadi 3 besar negara dengan kasus kematian tertinggi di Asia, mengalahkan Malaysia yang saat itu sudah lebih dulu terkena corona.

Pun dicanangkanlah PSBB di setiap wilayah. Itu juga belum bisa dilaksankan secara baik karena hotel, mall, bar, pabrik, masih bebas dibuka demi terus “menghidupkan roda ekonomi” kita. belum lagi para pekerja upah harian yg terpaksa tetap harus berkeliaran dijalan untuk mencukupi isi perutnya dan keluarga. serta perusahan yg bangkrut dan akhirnya banyak mem-PHK karyawannya.

Jika terus seperti ini, dalam jangka waktu lama pasti menjadi ancaman bagi penguasa karena  akan  menyebabkan roda perekonomian terhambat, krisis sosial dan kriminalitas meningkat. Kurang dari 2 bulan saja sudah banyk ditemukan orang-orang yang  meninggal akibat kelaparan.

Tetapi penguasa justru mengambil langkah-langkah dengan menerapkan aturan karet, tarik ulur yang membingungkan rakyat, seperti beda mudik dan pulang kampung dengan alasan menjaga kestabilan ekonomi, tapi untuk siapa?

Hal ini seolah menunjukkan kalau penguasa ingin berlepas diri dari  tanggung jawabnya memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sendiri sadar betul, kalau penguasanya tidak bisa menanggung kebutuhan masyarakatnya secara menyeluruh. bahkan kebutuhan untuk “sekedar bisa makan” sekalipun. Apalagi masalah keselamatan jiwa, itu sebagai tanggung jawab individu

Seperti sudah  kita ketahui  kalau dalam sistem kapitalis yang jadi prioritas adalah materi; dimana negara hanya sebagai pengatur atau pembuat kebijakan saja, sementara pelayanan yg menyangkut hajat rakyat banyak diserahkan pada pihak lain (swasta/pemilik usaha) yg tentunya akan mengambil keuntungan dlm memberikan layanan kpd rakyat. Sehingga, mau tak mau, rakyat pun hrs membeli layanan tsb kpd para pemilik usaha.

Kalau tidak  sanggup membeli? ya tidak akan dilayani, walaupun akhirnya mengorbankan nyawa manusia.

Lalu bagaimana sikap kita untuk mengatasi permasalahan ini? sesungguhnya  setiap musibah yang terjadi semua atas izin Allah. Hanya saja kita harus muhasabah diri, apa yang sudah diperbuat selama ini sesuai dengan perintah dan larangan-Nya?

Dalam Islam, nyawa manusia lebih berharga dari materi, “Jika menyelamatkan satu nyawa berarti sama halnya menyelamatkan seluruh nyawa manusia, begitupun sebaliknya”.

Inilah fondasi iman bagi pemimpin islam dalam urusan melayani rakyatnya.

Pemimpin dalam Islam bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan dasar rakyatnya (sandang, pangan, papan) bukan hanya sekedar bisa makan saja. Termasuk ketika terjadi wabah seperti saat ini, negara harus cepat dalam bertindak dan membuat keputusan yang jelas & tegas, agar bisa meminimalisir jumlah korban yang  berjatuhan.

Karena tanggung jawab dalam menerapkan Islam secara sempurna tidak dapat dilakukan secara individu, maka perlu adanya dukungan melalui dakwah kpd masyarakat dan penguasa agar mau mengambil dan menerapkan aturan islam, sehingga solusi permasalahan hidup dpt diselesaikan dan mengantarkan umat kpd rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai seorang Muslimah yang beriman, tentulah dalam menghadapi musibah ini harus bersikap  berbaik sangka kepada Allah dengan penuh keyakinan  pasti Allah akan memberikan jalan keluar atas semua permasalahan hidup yang kita dihadapi, dan tidak berputus asa atas rahmatNya.

Berprasangka baik (husnu zhon) kepada Allah

Dalam kondisi wabah saat ini, hanya  berharap  kepada rahmat Allah sajalah bukan kepada yang lain dengan berbaik sangkah kepada -Nya. Hal inilah yang dimaksud dengan ar-roja . Inilah perkara yang sangat dicintaiNya, bahkan Allah memuji orang-orang yang senantiasa memohon dan berharap atas rahmat dariNya,.

Inilah sebagai perwujudan keimanan, dengan selalu bersikap berbaik sangka kepada Allah dan Allah pun telah  mewajibkannya untuk  berbaik sangka kepada-Nya, sebagaimana Allah mewajibkan takut kepadanya. Karena itu, seorang hamba  senantiasa takut kepada Allah dan mengharapkan rahmat dari-Nya .

Sehingga seorang hambah hendaknya takut kepada Allah dengan selalu  mengharapkan rahmat-Nya, sebagaimana dalil  takut kepada Allah  dibawah ini

Surah Al Baqarah Ayat 40 (QS.2:40)

                                    ٤٠  يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

[40]  Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; danhanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

Adapun dalil-dalil ar-roja dari as-Sunah adalah:

 Dari Watsilah bin Asqa, ia berkata; berbahagialah karena sesungguhnya aku telah mendengar  

Rasulullah saw. bersabda, Allah berfirman

Allah berfirman, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya, dan bila berprasangka buruk maka keburukan baginya.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

  Sabda Rasulullah saw.:

Apabila ia berprasangka buruk maka keburukan baginya, adalah indikasi bahwa tuntutan dalam hadits tersebut bersifat pasti.

Artinya perintah untuk senantiasa berharap kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya pada ayat-ayat dan hadits- hadits di atas adalah tuntutan yang bersifat wajib.

Haram Berputus Asa dari Rahmat Allah.

Sebagai orang yang beriman, diharamkan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana yang dimaksud dengan al-qanut adalah al-ya’su artinya putus asa dari rahmat Allah. Kedua kata ini (al-qanut dan al-ya’su) memilik arti yang sama. Putus asa adalah lawan dari roja.

 Allah memberikan ancaman kepada manusia yang berputu asa terhadap rahmatNya, seperti yang disampaikan dalam  al-Kitab dan as-Sunah.

1. Ancaman sebagai orang kafir , seperti didalam Alquran (TQS. Yusuf [12] : 87)

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. 

2. Ancaman  sebagai orang-orang yang sesat, seperti  didalam Alquran (TQS. al-Hijr [15] : 55-56)

Mereka menjawab, “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”. Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.  

3. Ancaman akan mendapatkan azab yang pedih, seperti didalam Alquran (TQS. al-Ankabut [29] : 23)

Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

4. Dalil dalil dari as-Sunah:

  • Dari Abû Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah bersabda:

Andaikata seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, tentu tak ada seorang pun yang tidak mengharapkan surga-Nya. Dan andaikata orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah , maka seorang pun tidak akan ada yang putus harapan dari surga-Nya. (Mutafaq ‘alaih)

Dengan demikian, di tengah ujian pandemi bagi negeri ini sudah sepatutnya   muhasabah diri, bertaubat secara totalitas dengan kembali kepada syaritaNya dengan mengharap rahmat dariNya sehingga pertolongan, ampunan  dan solusi dari permasalahan umat dapat terselesaikan.

Wallaohu A’lam Bisshowab

Tanpa  terasa kita sudah memasuki disepuluh hari terakhir di  bulan  Suci Ramadan1441 H  Marhaban Ya Ramadan,   bulan penuh  kemuliaan, rahmat dan ampunan  Bulan yang bertabur dengan pahala berlipat ganda, bulan yang dapat mengantarkan orang yang berpuasa meraih derajat takwa.

Kaum muslim dalam menyambut Ramadhan tahun ini, tidak seperti biasa penuh suka cita dengan kecukupan pangan dan sandang. Namun  wabah Corona ini menimbulkan ketakutan dan kegelisahan dikalangan masyarakat. Walaupun berbagai usaha untuk memutus penyebaran virus Corona ini telah dicanangkan dengan   melakukan social distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang mengharuskan  untuk tinggal di rumah, namun dampak yang ditimbulkan berakibat pada tidak berjalannya sistem perekonomian sehingga hampir 30-40 juta penduduk mengalami PHK (pemutusan Hubungan Kerja). (CNN-Indonesia.1/5/2020)

Ditambah lagi tidak maksimalnya peran penguasa dalam menangani dampak wabah ini sehingga tidak saja ancaman kesehatan yang dialam,i tapi juga kelaparan karena tidak ada penghasilan, sementara bantuan sembako, BLT dari pemerintah tidak merata, penangannya lamban dan berbelit belit. Belum lagi meningkatnya tunawisma di ibukota karena kebijakan mudik dan pulang kampung yang tarik ulur sehingga mereka pun terjebak dan terusir dari rumah kontrakannya.

Pemerintah dalam menyelesaikan masalah pandemi covid 19, sedari awal memang tidak ada persiapan dan antisipasi kalau-kalau virus yg berbahaya ini akan mampir ke Indonesia, sementara negara-negara tetangga sudah lebih dulu mempersiapkan diri, dana, dan fasilitas untuk antisipasi virus tsb.

Ketika China sudah ramai dg corona, negara-negara lain menutup diri, melarang warganya untuk keluar negri dan warga asing tidak diizinkan masuk, namun Indonesia malah membuka diri, bahkan memberi diskon besar-besaran untuk pariwisata, “welcome” terhadap warga asing termasuk China (negara sumber wabah) dan kita sendiri melihat beritanya di tv kalau mereka disambut meriah kedatangannya.

Kita juga pernah mendengar bukan? guyonan orang-orang  yang dengang sombong sesumbar “indonesia tdk bakal kena corona” karena gemar makan nasi kucing, minum jamu, dan terbiasa berenang di air banjir.

Bahkan ketika corona sudah masuk indonesia pun, penguasa masih fokus pd rencana pemindahan dan pembangunan ibu kota baru yg melibatkan TKA dari China, padahal saat itu rumah sakit dan para tenaga kesehatan berteriak karena kekurangan APD untuk menangani pasien wabah corona ini, hingga membuat beberapa tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat akhirnya meninggal dan banyak lainnya terpapar.

Banyaknya korban berjatuhan sampai menteri perhubungan yang ikut terpapar covid 19, barulah pemerintah membuat kebijakan. Itupun masih timpang sebelah, mengingat rapid test massal yang semula di prioritaskan hanya kepada masyarakat yang berisiko terjangkit (karena jumlah alatnya yang terbatas & itupun impor dari china), malah para elit politik beramai-ramai antri paling depan untuk tes duluan sekeluarganya.

Kurangnya koordinasi antar pemerintah pusat dan daerah, ketiadaan dana yang cukup, dan desakan dari WHO-PBB agar virus corona dpt ditanggulangi sesuai standar WHO, yang tentu membutuhkan biaya besar, pada akhirnya membuat “tarik ulur” ini terjadi di masyarakat.

Seperti kebijakan lockdown yg kesannya setengah hati, bahkan tidak mau menggunakan kata “lockdown” dengan  alasan “menghindari kepanikan masyarakat” yang memang sudah panik sejak awal.

Lalu panic buying yang terjadi di masyarakat, merupakan fenomena yang menurut para ahli disebabkan oleh kurangnya informasi dan transparansi yang diterima masyarakat, yang kemudian memicu insting alamiah manusia untuk mempertahankan dirinya dengan cara menyetok bahan- bahan  secara  berlebihan karena takut tidak akan kebagian. Bahkan terjadi pengusiran  tenaga medis dari tempat kosnya karena tertukar, lebih fatal lagi adanya penolakan  jenazah yang akan di kuburkan di lokasi penguburan warga.

Ketika negara-negara di Asia lainnya yg sudah lebih dulu terkena dampak corona memutuskan lockdown, Indonesia masih dengan santai membiarkan warganya berkeliaran hingga akhirnya Indonesia, yang saat itu belum ada sebulan terkena corona, menjadi 3 besar negara dengan kasus kematian tertinggi di Asia, mengalahkan Malaysia yang saat itu sudah lebih dulu terkena corona.

Pun dicanangkanlah PSBB di setiap wilayah. Itu juga belum bisa dilaksankan secara baik karena hotel, mall, bar, pabrik, masih bebas dibuka demi terus “menghidupkan roda ekonomi” kita. belum lagi para pekerja upah harian yg terpaksa tetap harus berkeliaran dijalan untuk mencukupi isi perutnya dan keluarga. serta perusahan yg bangkrut dan akhirnya banyak mem-PHK karyawannya.

Jika terus seperti ini, dalam jangka waktu lama pasti menjadi ancaman bagi penguasa karena  akan  menyebabkan roda perekonomian terhambat, krisis sosial dan kriminalitas meningkat. Kurang dari 2 bulan saja sudah banyk ditemukan orang-orang yang  meninggal akibat kelaparan.

Tetapi penguasa justru mengambil langkah-langkah dengan menerapkan aturan karet, tarik ulur yang membingungkan rakyat, seperti beda mudik dan pulang kampung dengan alasan menjaga kestabilan ekonomi, tapi untuk siapa?

Hal ini seolah menunjukkan kalau penguasa ingin berlepas diri dari  tanggung jawabnya memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sendiri sadar betul, kalau penguasanya tidak bisa menanggung kebutuhan masyarakatnya secara menyeluruh. bahkan kebutuhan untuk “sekedar bisa makan” sekalipun. Apalagi masalah keselamatan jiwa, itu sebagai tanggung jawab individu

Seperti sudah  kita ketahui  kalau dalam sistem kapitalis yang jadi prioritas adalah materi; dimana negara hanya sebagai pengatur atau pembuat kebijakan saja, sementara pelayanan yg menyangkut hajat rakyat banyak diserahkan pada pihak lain (swasta/pemilik usaha) yg tentunya akan mengambil keuntungan dlm memberikan layanan kpd rakyat. Sehingga, mau tak mau, rakyat pun hrs membeli layanan tsb kpd para pemilik usaha.

Kalau tidak  sanggup membeli? ya tidak akan dilayani, walaupun akhirnya mengorbankan nyawa manusia.

Lalu bagaimana sikap kita untuk mengatasi permasalahan ini? sesungguhnya  setiap musibah yang terjadi semua atas izin Allah. Hanya saja kita harus muhasabah diri, apa yang sudah diperbuat selama ini sesuai dengan perintah dan larangan-Nya?

Dalam Islam, nyawa manusia lebih berharga dari materi, “Jika menyelamatkan satu nyawa berarti sama halnya menyelamatkan seluruh nyawa manusia, begitupun sebaliknya”.

Inilah fondasi iman bagi pemimpin islam dalam urusan melayani rakyatnya.

Pemimpin dalam Islam bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan dasar rakyatnya (sandang, pangan, papan) bukan hanya sekedar bisa makan saja. Termasuk ketika terjadi wabah seperti saat ini, negara harus cepat dalam bertindak dan membuat keputusan yang jelas & tegas, agar bisa meminimalisir jumlah korban yang  berjatuhan.

Karena tanggung jawab dalam menerapkan Islam secara sempurna tidak dapat dilakukan secara individu, maka perlu adanya dukungan melalui dakwah kpd masyarakat dan penguasa agar mau mengambil dan menerapkan aturan islam, sehingga solusi permasalahan hidup dpt diselesaikan dan mengantarkan umat kpd rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai seorang Muslimah yang beriman, tentulah dalam menghadapi musibah ini harus bersikap  berbaik sangka kepada Allah dengan penuh keyakinan  pasti Allah akan memberikan jalan keluar atas semua permasalahan hidup yang kita dihadapi, dan tidak berputus asa atas rahmatNya.

Berprasangka baik (husnu zhon) kepada Allah

Dalam kondisi wabah saat ini, hanya  berharap  kepada rahmat Allah sajalah bukan kepada yang lain dengan berbaik sangkah kepada -Nya. Hal inilah yang dimaksud dengan ar-roja . Inilah perkara yang sangat dicintaiNya, bahkan Allah memuji orang-orang yang senantiasa memohon dan berharap atas rahmat dariNya,.

Inilah sebagai perwujudan keimanan, dengan selalu bersikap berbaik sangka kepada Allah dan Allah pun telah  mewajibkannya untuk  berbaik sangka kepada-Nya, sebagaimana Allah mewajibkan takut kepadanya. Karena itu, seorang hamba  senantiasa takut kepada Allah dan mengharapkan rahmat dari-Nya .

Sehingga seorang hambah hendaknya takut kepada Allah dengan selalu  mengharapkan rahmat-Nya, sebagaimana dalil  takut kepada Allah  dibawah ini

Surah Al Baqarah Ayat 40 (QS.2:40)

                                    ٤٠  يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

[40]  Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; danhanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

Adapun dalil-dalil ar-roja dari as-Sunah adalah:

 Dari Watsilah bin Asqa, ia berkata; berbahagialah karena sesungguhnya aku telah mendengar  

Rasulullah saw. bersabda, Allah berfirman

Allah berfirman, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya, dan bila berprasangka buruk maka keburukan baginya.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

  Sabda Rasulullah saw.:

Apabila ia berprasangka buruk maka keburukan baginya, adalah indikasi bahwa tuntutan dalam hadits tersebut bersifat pasti.

Artinya perintah untuk senantiasa berharap kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya pada ayat-ayat dan hadits- hadits di atas adalah tuntutan yang bersifat wajib.

Haram Berputus Asa dari Rahmat Allah.

Sebagai orang yang beriman, diharamkan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana yang dimaksud dengan al-qanut adalah al-ya’su artinya putus asa dari rahmat Allah. Kedua kata ini (al-qanut dan al-ya’su) memilik arti yang sama. Putus asa adalah lawan dari roja.

 Allah memberikan ancaman kepada manusia yang berputu asa terhadap rahmatNya, seperti yang disampaikan dalam  al-Kitab dan as-Sunah.

1. Ancaman sebagai orang kafir , seperti didalam Alquran (TQS. Yusuf [12] : 87)

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. 

2. Ancaman  sebagai orang-orang yang sesat, seperti  didalam Alquran (TQS. al-Hijr [15] : 55-56)

Mereka menjawab, “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”. Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.  

3. Ancaman akan mendapatkan azab yang pedih, seperti didalam Alquran (TQS. al-Ankabut [29] : 23)

Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

4. Dalil dalil dari as-Sunah:

  • Dari Abû Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah bersabda:

Andaikata seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, tentu tak ada seorang pun yang tidak mengharapkan surga-Nya. Dan andaikata orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah , maka seorang pun tidak akan ada yang putus harapan dari surga-Nya. (Mutafaq ‘alaih)

Dengan demikian, di tengah ujian pandemi bagi negeri ini sudah sepatutnya   muhasabah diri, bertaubat secara totalitas dengan kembali kepada syaritaNya dengan mengharap rahmat dariNya sehingga pertolongan, ampunan  dan solusi dari permasalahan umat dapat terselesaikan.

Wallaohu A’lam Bisshowab

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.