21 April 2024

Dimensi.id-Pandemi corona, yang masih menyisakan kekhawatiran dalam diri setiap insan di bumi ini menjadi bukti kelalaian pemerintah dalam mengatasinya, khususnya di Indonesia. Dari mulai karantina 14 hari hingga menjadi social distancing adalah langkah yang diambil sejauh ini.

Tidak menutup kemungkinan, beberapa langkah tersebut diambil untuk mencegah penularan yang lebih meluas. Isu lockdown nyatanya tidak dapat terealisasikan, hingga muncul masalah baru adanya krisis ekonomi yang membuat masyarakat merasa langkah yang diambil pemerintah tidak sepenuhnya menjamin kehidupan mereka.

Beragam masalah baru lainnya muncul, bahkan dunia menilai Indonesia sebagai negara dengan pengatasan masalah yang dinilai buruk dalam menghadapi pandemi ini. Hari ini tercatat, jumlah positif, ODP, dan PDP makin meningkat dari berbagai kalangan. Berimbas pada kebutuhan APD (Alat Pelindung Diri) bagi para penolong hingga peralatan-peralatan medis yang kurang memadai.

Kenyataan ini memunculkan reaksi kekhawatiran yang besar bagi masyarakat, social distancing telah diberlakukan, namun nyatanya karena minimnya informasi akurat dan edukasi, memunculkan sikap saling menzolimi. Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur.

Dikutip dari Liputan6 pada 25 Maret lalu, paramedis tersebut justru mendapat perlakuan tak menyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan yang disewa. Juga yang tak kalah ramai diberitakan kisah seorang perawat RS di daerah Semarang yang pada 9 April lalu menghembuskan nafas terakhirnya setelah menjadi pahlawan kemanusiaan, namun jenazahnya ditolak oleh warga sekitar, hingga suaminya sendiri dan para petugas yang memakamkan beliau disekitaran rumah sakit.

Perlakuan deskriminatif ini muncul sebagai akibat dari kelalaian dalam memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat dengan kekhawatiran yang tinggi untuk tertular. Hal tersebut muncul akibat sistem kapitalis yang dianut negara tidak memberikan jaminan seutuhnya bagi kehidupan bermasyarakat maka wajar kebijakan yang dikeluarkan negara justru mengutamakan ekonomi bukan edukasi dan keselamatan nyawa rakyat.

Kemudian bandingkan dengan system Islam yang justru akan  memberikan tanggungjawab pada negara, media, dan tokoh umat untuk menjelaskan hakikat wabah sehingga masyarakat menyikapi dengan tepat dan mendukung penanganan yang diberikan.

Seperti kisah dalam masa kejayaan Islam, dimana Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal yang menjaga rakyatnya dengan usaha yang optimal mencerminkan tanggungjawab seorang pemimpin, dengan melarang rakyatnya meninggalkan Syam, bersabar bersama dan menjaga yang sakit, bila ada yang meninggal maka mengurus jenazah sebab mereka layak mendapat pahala mati syahid.

Sebagaimana Rasul bersabda “ Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena (tha’un) wabah, orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati karena tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati syahid di jalan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Islam dijelaskan bahwa mengurus jenazah itu wajib hukumnya sementara menolak jenazah itu dosa. Apalagi sikap ini terjadi pada pahlawan kemanusiaan yang telah berjuang dalam pandemi ini.

Berbagai kekecewaan juga timbul di kalangan masyarakat akibat peristiwa ini, Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sebagai bentuk keimanan kepada Allah SWT, tentunya harus menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Negara juga wajib menjamin keamanan rakyatnya, sehingga kekhawatiran yang tidak berlandaskan keimanan ini tidak lagi terjadi di kalangan masyarakat.

Wallahu’alam bi ash-shawab.

Penulis : Aulia Nur Insanni (Mahasiswa)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.