21 April 2024
9 / 100

Maryam pulang sekolah dibonceng umminya ke rumah. Namun di tengah jalan, ia melihat Rumaisya jalan sendirian. Sehingga Maryam meminta umminya untuk berhenti sejenak.

“Rumaisya kenapa kamu jalan sendirian?” tanya Maryam.

“Ibu ku lama tak datang menjemput. Jadi kau pulang jalan kaki saja,” jawab Rumaisya.

“Jangan, ayo pulang dengan ku,” ajak Maryam.

“Iya sayang, ayo pulang sama Maryam,” kata ummi Maryam yang ada dibelakang keduanya.

“Nanti biar ibu kamu yang jemput kamu di rumah Maryam,” tambah ummi Maryam.

Rumaisya lalu dibonceng ummi Maryam dibelakang. Sedangkan Maryam pindah duduk di motor bagian depan. Maryam tak ingin temannya Rumaisya duduk berdesakan dengannya di belakang meskipun sebenarnya tempat duduk di belakang masih cukup luas.

Sesampainya di rumah Maryam, ummi Maryam menyampaikan bahwa Rumaisya ada di rumah Maryam. Benar saja. Rupanya ibu Rumaisya lupa menelepon ustazah Ina bahwa ia tidak bisa menjemput Rumaisya tepat waktu karena ban motor bocor dan kehabisan pulsa.

Kini, ibu Rumaisya telah mengisi pulsanya dan menunggu motornya selesai dibenahi. Sambil menunggu ibunya menjemput, Rumaisya diminta duduk menunggu di ruang tamu.

Maryam lalu izin ke dapur untuk menyiapkan minuman dan juga camilan untuk Rumaisya. Tak lama kemudian, terdengar suara adukan sendok dan aroma masakan dari dapur Maryam.

Melihat Rumaisya yang kelihatan penasaran, lalu ummi Maryam berkata, “Rumaisya mau ikut Maryam masak di dapur kah?”

Rumaisya pun menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka bahwa temannya itu lah yang ternyata memasak di dapur. Rumaisya ke dapur diantar ummi Maryam. Ia melihat Maryam sudah ada di depan kompor gas yang ada di rumahnya.

“Kamu bisa masak? Masak apa?” tanya Rumaisya.

“Iya, aku udah diajarin bunda masak sejak kelas dua SD. Masak yang gampang kok. Seperti masak mie, goreng telor dan otak-otak seperti sekarang,” jawab Maryam sambil tersenyum.

“Kamu enggak takut kena panas?” tanya Rumaisya kembali.

“Kalau kita hati-hati, insyaallah aman. Sebelum masak, ummi sudah menyiapkan semuanya. Semua peralatan yang aku pakai juga ukurannya kecil, lho,” jawab Maryam.

Seketika, Rumaisya melihat sekeliling dapur Maryam. Memang benar, semua peralatan masak untuk Maryam jauh lebih kecil dari milik umminya. Maryam juga memasak menggunakan sarung tangan masak dan apron memasak untuk melindungi tubuh dari cipratan memasak.

Semua disiapkan dengan penuh hati-hati. Tak jauh dari Maryam, ummi Maryam tetap mengawasi Maryam memasak. Meskipun Maryam diizinkan masak di rumah, tapi ketika ummi dan abi Maryam tidak ada di rumah, Maryam dilarang menyalakan kompor.

Ummi pasti telah menyiapkan makanan yang sudah tersaji. Ini untuk menjaga keselamatan Maryam saat ditinggal berdua dengan kakaknya yang masih kelas enam SD.

Tak lama kemudian, otak-otak yang digoreng Maryam pun matang. Susu hangat buatan Maryam juga sudah siap. Rumaisya dan Maryam menyantap makanan bersama sambil menunggu ibu Rumaisya datang.

Setelah makan, keduanya tak lupa mencuci tempat bekas makan dan merapikan dapur seperti semula. Rumaisya juga belajar menggoreng otak-otak untuk dibawa pulang. Ia senang karena bisa membawakan otak-otak ikan untuk adiknya Rafa yang baru sekolah di taman kanak-kanak.

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.