22 Februari 2024

Seperti tidur di atas dipan ombak.

Tak tenang, dan selalu terombang ambing.

Mengikuti arus kekuatan ombak yang angkuh. Semaunya sendiri. Memukuli perahu perahu butut milik nelayan yang mengipasi kepalanya yang gerah. Gerah karena ikan ikan seperti tak berpihak padanya. Sekalipun berpihak padanya, ternyata tengkulak dan harga di pasa yang sama sekali yltak mau berkawan dengannya.

Ombak itu memang semaunya sendiri.

Tidak paham kepada siaap harusnya mereka mengabdi.

Ombak itu tak tahu diri, tak berkaca siapa dirinya yg sejati.

Sementara kami, yang tak punya banyak pilihan untuk terus ikut arus. Merasa pecundang, merasa berkhianat pada ilahi.

Sang ombak terus bergerak, memuja kebesaran dirinya sendiri. Menghamba pada hampa. Memuji pada keji. Tak peduli kebahagiaan hakiki. Yang penting untung tinggi.

Kami yang tak mau terus terombang ambing. Kami tak ingin terus-menerus kelelahan saling bersaing. Kali ini kami harus punya taring. Berusaha melepaskan diri dari penguasa negeri yang terus-terusan melempar menyengsarakan kami dalam jaring.

Kami harus kembali. Pada aturan ilahi. Dialah pemilik langit dan bumi. Beserta seluruh paket aturan yang tak ada caci. Sempurna bak panas mentari. Yakin bahwa ini yang akan membawa kepada kebahagiaan hakiki.

Wahai penguasa, sang ombak yang masih tetap angkuh di sana. Kembalilah sesuai fitrah. Yang takut dan menghamba pada Allah Ta’ala. Yang taslim mematuhi segala yang Ia perintah. Jangan silau dengan dunia yang fana.

Dunia hanya setetes air. Kami tak akan jumawa jika sudah mendapatkannya. Tak akan kami mati-matian membela harta yang hanya setetes air, jika ternyata di akhirat ada samudera yang luas yang layak kita dapatkan suatu hari nanti.

Penulis : Najwa S.IP

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.