21 April 2024

Dimensi.id-Akhir-akhir ini terjadi banyak kasus sosial yang terjadi di masyarakat. Mulai dari kriminalitas, perselisihan, hingga kasus bunuh diri. Tercatat bahwa kasus – kasus berupa kriminalitas dan perselisihan selama masa pandemi ini mengalami kenaikan. Dilansir dari tempo.co (24/4) Kepala Bidang Human Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus, mengatakan tingkat kejahatan saat PSBB Jakarta memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Pencurian dengan alat berat menjadi penyumbang naiknya angka kriminalitas itu. Kepolisian Republik Indonesia mencatat kenaikan kasus kriminalitas meningkat sebesar 11,80 persen dari pekan ke-15 hingga pekan ke-16 di tahun 2020.

Mirisnya diantara pelaku kejahatan adalah napi asimilasi yang terdampak pembebasan karena covid19 tahun ini. Meski persentasi jumlah napi asimilasi yang berulah sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan napi yang dibebaskan, namun tetap saja kasus kejahatan ini sangat meresahkan masyarakat apalagi di tengah masa PSBB dimana kebutuhan masyarakat lebih sulit terpenuhi.

Selain itu tercatat pula kasus tawuran yang marak terjadi di masa pandemi ini. Di Jakarta, terjadi beberapa kali tawuran diantaranya pada tanggal 15 april, 18 april, dan tanggal 20 april 2020. Ada yang tertabrak KRL saat sedang tawuran, dan ada yang harus dirawat karena perutnya tersabet celurit dan sebagainya. Kondisi sosial semakin miris, ketika diketahui pula bahwa seorang pria bunuh diri setelah sebulan terkena PHK (CNN Indonesia 21/4). Berita ini linear dengan banyaknya jumlah buruh yang diPHK sebab perusahaan tak sanggup membayar gaji dikarenakan kebijakan PSBB.

Sebagai pemimpin, pemerintah tidak boleh menganggap bahwa kasus – kasus tersebut sebagai hal biasa dan wajar sebab sebagai negara yang menganggap bahwa hukum adalah hakimnya, tentu tren kejahatan diharap semakin menurun dengan efek jera dari hukum yang berlaku. Namun yang terjadi malah sebaliknya, alasan lapas yang over capacity menghasilkan asimilasi napi berujung pada berulahnya kembali napi yang meresahkan.

Selain itu, tawuran sudah seperti “budaya” yang diwariskan sepanjang generasi. Penanganan pemerintah tak menyentuh akar masalah karena berorientasi pada dampak fisik semata. Jika didalami, penyebab tawuran berasal dari beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Keluarga, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik yang rusak menghasilkan pola pikir dangkal dan habit “jalan pintas” untuk mencapai kepuasan.

Penanganan negara terfokus pada aspek kuratif lewat pidana UU, sedang upaya pencegahan hanya diharapkan dari keluarga, sekolah dan lingkungan. Sementara problem keluarga, sekolah maupun lingkungan yang memicu perilaku kenakalan pemuda tidak tersentuh ayoman pemerintah. Solusi yang dilemparkan, “buntu” mengandalkan kesadaran agamis dan norma semata seraya kosongnya upaya sungguh-sungguh untuk menjaga generasi bangsa dari perilaku amoral.

Demikian pula keputusasaan masyarakat atas problem hidup mereka yang berujung pada tali gantungan atau segelas racun. Selama ini hanya berputar pada asumsi pendeknya jalan pikir dan tipisnya iman pelaku bunuh diri. Namun sesungguhnya himpitan ekonomi rakyat kecil akibat sistem sekuler-liberal yang diterapkan ini lah sumber masalahnya. Ditambah dengan opini sekuler sistem bahwa pemeliharaan iman rakyat tidak diurus negara melainkan diserahkan kepada individu masing-masing.

Perilaku kriminal, amoral, dan lemah iman sesungguhnya adalah masalah yang sangat penting untuk diselesaikan secara mendasar dan menyuluruh. Sebab masalah ini terus berulang dari hari ke hari yang mengindikasikan bangsa ini tak juga mampu bangkit dari keterpurukannya. Oleh sebab itu, masyarakat membutuhkan penanganan komprehensif yang mampu menghadirkan masyarakat yang maju.

Yaitu masyarakat yang memiliki keimanan kokoh, termasuk beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak dari sang Pencipta untuk menguji hamba-hambaNya untuk menyadarkan mereka bahwa segala sesuatu wajib mengikut aturanNya agar tak jadi mudharat. Masyarakat juga butuh solusi yang mampu menciptakan ketahanan mental dan fisik di tengah-tengah mereka untuk menjalani hidup saat kondisi pandemic, yakni pemenuhan kebutuhan pokok oleh negara secara adil dan merata serta tanpa urusan yang berbelit-belit.

Islam sebagai sistem kehidupan memuat seperangkat aturan yang mampu menghadirkan individu yang bertaqwa, menerapkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat, serta menjadikan negara sebagai pelaksana hukum-hukum syari’at secara adil dan menyejahterakan. Betapa tidak, Islam dengan institusinya yakni Khilafah adalah sistem terbaik yang pernah diterapkan kepada manusia sepanjang sejarah peradaban dunia.

Kemuliaan menghinggapi warga negaranya baik ketika di dunia maupun saat di akhirat kelak sebab mereka patuh kepada Tuhannya. Oleh sebab itu, kita wajib meyakini  bahwa seluruh problematika manusia dapat teratasi setelah Islam dijadikan solusi yang diterapkan serta berhenti berharap kepada sistem sekuler yang bermuka dua. Wallahu’alam bish showab.

Penulis : Rahmah Khairani, S.Pd (Aktivis dakwah muslimah  Medan dan  Pendidik)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.