20 Februari 2024

Oleh : Hafizah

Dimensi.id-Sore itu saat aku asyik  menemani si bungsu bermain putri ke- 4 yang saat ini berusia kurang dari 4 tahun namanya syahara Afni. Sebelum usai waktu ku menemaninya bermain  tiba tiba gawai ku berdering aku coba mencari sumber suara yang tidak lagi terdengar asing itu dan benar saja aku lupa meletakkan nya di atas lemari kecil bersama buku diary “kisah ku “.

Aku melihat ada nomer baru yang tertera pada layar gawai ku dari keterangan yang tertulis nomer tersebut tampaknya baru saja melakukan panggilan telepon, sebenarnya aku ingin sekali menelpon balik tapi sayang untuk saat ini aku tidak memiliki kuota apapun yang bisa ku gunakan untuk menghubungi kembali nomor tersebut.

 Semenit berlalu gawai ku kembali berdering ada panggilan masuk dari nomer yang sama seperti nomer yang menghubungi ku sebelumnya.

 Meskipun tidak ku ketahui siapa pemilik nomor tersebut aku tetap memilih untuk menjawab panggilan yang entah dari siapa, aku yakin nomer baru itu bukan dari laki laki karena memang untuk masalah nomer handphone pribadi ku saat ini

Tidak sembarang orang yang menyimpan selain dari anggota keluarga atau orang  yang masih memiliki hubungan sebagai kerabat dekat dengan kami serta beberapa teman sekelas ku terus terang aku memang tidak mengizinkan nya.

Bukanya apa tapi, aku hanya ingin belajar dari masalalu karena pernah bermudah mudah memberikan nomer handphone ku kepada teman putri lain yang belum pandai menjaga amanah sehingga ia memberikan nomer telpon ku kepada siapapun yang datang untuk meminta nya sejak hari itu  ada banyak nomer baru dari laki laki asing yang terus saja  berulang kali menghubungi dan meneror ku dalam tenggang waktu selama tiga bulan ah, rasanya menyebalkan sekali tindakan ceroboh ku tersebut.

Melihat ada panggilan masuk segera ku pilih menu berwarna hijau untuk menerima panggilan.

Saya : ” Assalamualaikum “

Laila :” waalaikumussalam, kak, ini Nur Laila. Gimana kabarnya kak?  Apakah Kakak masih di Takengon ?

Anak ini begitu excited dari suaranya aku langsung bisa menebak siapa yang sedang berbicara dengan ku di ujung telepon.

Saya :” oh iya dek Nur Laila rupanya! Iya dik alhamdulillah sehat, semoga adik sekeluarga pun demikian, ia kakak masih di Takengon Mungkin besok sore kakak akan pulang, ada yang bisa kakak bantu “.

Nur Laila : ” apa kakak punya waktu luang untuk besok siang? Terserah kakak jam berapa bisanya, aku ingin bertemu kakak sebentar saja pliis ya kak ya! Kaka juga pasti sedang merindukan aku kan?! karena semenjak libur sekolah yang sudah hampir 2 bulan ini kita belum pernah bertemu kembali meski hanya sekali” dengan suara memohon dan sedikit memaksa

Saya :”  iya dik, oh iya inshaallah kakak besok punya waktu luang setelah jam 14.00 – 16.00 wib, kalau adek mau kakak tunggu di taman kota dekat tugu aman Dimot depan kantor Bupati Aceh Tengah.

Dia menyambut tawaran ku dengan penuh antusias. Aku kenal betul anak ini memang biasanya sebelum penyebaran pandemi covid-19 sehebat ini Nur Laila sangat sering minta ikut bersama ku entah itu untuk sekedar jalan-jalan atau belajar sampai berjam jam bahkan bila cuaca terlihat sedang tidak bersahabat maka tidak jarang menginap di Rubin Inqilabiyah adalah salah satu pilihan alternatif kami  tentu dengan seizin ibu dan ayah nya.

Kedua orang tua Nur Laila Sangatlah baik dan mereka juga telah banyak membantu diriku dalam perjuangan ini (semoga Allah membalas amal perbuatan mereka dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi semoga Allah juga memberikan kebahagiaan dan nikmat nya ketaatan kepada Nya  serta melimpahkan kan rasa syukur atas mereka pada karunia Allah aaminn ) .

menunggu hingga aku selesai liqo yang berjam jam pun tidak menjadi masalah untuk nya, Laila sudah ku anggap seperti adik kandung ku sendiri sejak kami  berkenalan dua tahun silam. Beda usia kami hanya terpaut dua tahun saja jadi di saat aku berusia 20  tahun berstatus sebagai salah satu mahasiswi dari IAIN Gajah Putih Takengon kini Laila masih berusia 18 tahun dan menganyam pendidikan di salah satu SMK ternama di kota ini.

Meskipun pendidikan ku lebih tinggi tapi percayalah bahwa kami  masih sama sama belajar untuk Istiqomah sebagai pejuang Islam Kaffah, semoga kematian ini pun akan terasa manis ketika perjuangan ini diusaikan  hanya untuk menggapai ridhoNya saja aamiin.

Aku sendiri tidak tahu mengapa kami bisa sedekat ini apakah mungkin ini adalah konsekwensi dari keimanan yang berlandaskan perasaan, pemikiran, aturan serta tujuan yang sama? Mungkin saja inshaallah .

* * * *

Setelah aku menyelesaikan urusan ku tidak terasa kini waktu sudah pukul 13.40 dan itu artinya 20 menit lagi seharusnya kami sudah bertemu sesuai akad sore kemarin. Aku segera mengambil Smartphone yang ku letakan bersama buku “Nidzomul Islam” serta beberapa buku bacaan yang sewaktu waktu bisa aku baca jika sedang memiliki waktu luang yang tentunya bukan tentang dunia percintaan yang bisa  merangsang  gharizah nau tampa aturan seperti buku buku yang banyak diminati remaja masa kini yang mana bukunya bisa dijumpai dengan mudah dipasaran.

Setelah menemukan Smartphone, ku coba mengetik nama ‘Cahaya Malam’ di kotak pencarian kontak ku Tampa menunggu lama aku tekan menu panggilan, dalam waktu singkat aku bisa mendengar bunyi derik  pada  ponsel ku yang mengisyaratkan bahwa panggilan terhubung dan

Nur Laila : ” assalamualaikum kak ” suaranya terdengar begitu bersemangat

Saya :” waalaikumussalam dik, sudah sampai mana ?. (Tanya ku dengan ramah )

Nur Laila :” sebentar ya kak, kami masih di Mesir,  ini mau OTeWe ke taman kota kak, inshaallah kami segera menyusul “

Saya :” oh lagi di Mesir ya sudah, hati hati lho bawa kendaraan nya, Kaka tunggu ya ! (Jelas ku padanya )

Nur Laila : ” hehe iya kak, assalamualaikum kakak akoh ” (tampaknya ia bebicara sambil tertawa kecil  aku bisa tau dari suara nya ).

Tapi bagaimana pun anak  ini benar benar selalu bisa membuat aku tersenyum.

Saya :” waalaikumussalam ” aku menjawab nya sambil tersenyum pula tapi sayang kami berjauhan jadi hanya aku yang tau bahwa senyum ini bisa menyembuhkan sedikit luka yang entah sudah berapa kali tersayat.

* * *

Waktu menunjukan pukul 14. 55. Gawai yang ku simpan di ransel hitam  kini kembali berdering, ku tebak itu adalah panggilan dari si cahaya malam

Nur Laila :” assalamualaikum kak  “

Saya :” waalaikumussalam “

Nur : “kak coba tebak sekarang aku dimana ? “..

Saya :” di Mesir ? “

Nur Laila :” bukan kak ! Coba tebak lagi ?!.

Saya :” huuumm pasti lagi diii dimana ya ?! Entah dek, memang nya adek lagi dimana ?

Nur Laila : coba deh kakak berbalik ke belakang  ! “

aku mencoba bangkit dari bawah sebatang pohon yang tinggi berdaun rimbun nan teduh itu, ku coba memalingkan muka ku pada sisi taman kota yang kebetulan siang ini tidak ada sesiapa selain aku netra ku tidak menemukan orang yang sedang ku cari, sehingga aku mencoba berjalan beberapa langkah dari tempat aku berusaha berdiri guna memastikan bahwa anak itu memang telah sampai disini, namun tidak ku temukan sosok nya disana ..

Dan

“Taraaaa ” dia benar benar mengagetkan ku dengan kehadiran nya yang secara tiba tiba berdiri tepat dihadapan ku saat aku berbalik begitu saja ah Anak ini benar benar berniat mengagetkan aku. Ku lihat di smartphone ku tidak lagi terhubung dengan panggilan dari nomer handphone nya aku tidak tau pasti siapa yang mematikan nya terlebih dahulu.

Tadi  aku benar benar melonjak karena sedikit kaget oleh ulahnya gadis ini.

Nur Laila : ” haha kakak kaget kan?! ” Tanya nya dengan senyum penuh kemenangan

Saya :” ya Allah dik dirimu ini” ( ku tarik hidungnya karena sedikit geram )

Tampa aba aba ia langsung memeluk ku, Mungkin ini karena kerinduan yang sudah semenjak dua bulan lalu ditabung nya begitu pun aku. Kami tidak bisa keluar rumah menuju kota meskipun disini kala itu masih termasuk zona hijau untuk penyebaran pandemi covid-19 ini orang tua kami benar-benar ekstra memantau gerak geriknya kami jadi pertemuan yang biasa nya bisa terjadi 2 sampai 3 kali sepekan kini hanya bisa terbayar dengan pertemuan 2 bulan sekali. kami benar benar benar berharap pandemi covid-19 segera berlalu dengan izin Allah karena ada banyak rindu yang harus dituntaskan kepada para musyrifah daridan serta kerinduan terhadap saudara muslim kita yang lain .

Saya : ” lama tidak bertemu, dirimu semakin terlihat kehilangan beberapa kilogram lemak, karena merindukan kakak kah? ” tanya ku dengan nada bercanda tapi serius.

Nur Laila tidak menjawab sepatah katapun, aku mempersilakan nya untuk duduk disamping ku. Sesaat suasana tanpak hening tidak terdengar suara dari masing masing kami tapi syukurlah siang ini ada banyak kendaraan yang lalu lalang diperempatan jalan di depan taman kota ini jadi suasana tidak sehoror dalam adegan film Thailand “pee Mak hap” itu.

Aku sibuk mencari sebuah gantungan kunci yang akan ku hadiahkan kepada Laila gantungan kunci tersebut ku buat dari kain perca hasil belajar menjahit ku semalam.

Saat gantungan kuncinya ingin aku berikan tiba tiba aku melihat ada butir bening yang jatuh dari netra Laila. Aku tau dia sedang menyembunyikan sesuatu yang belum aku ketahui secara pasti. Melihat nya menangis membuat naluri seorang kakak ku hadir begitu saja  ku coba untuk segera merangkul pundaknya dan benar saja tangis Laila pecah tak terkendali  meskipun ada beberapa pasang mata yang tampak mencari jawaban dari kami berdua pun tidak lagi ku hiraukan.

Saya : “kakak kira canda mu yang begitu riang menandakan bahwa dirimu sedang baik baik saja dik, maaf kan kakak yang beberapa bulan belakangan ini tidak pernah bertukar kabar dengan mu, tenyata setelah 60 hari tidak bertemu bukan hanya rindu yang sedang kau simpan tapi air mata juga” .. melihat dia menangis seakan rasa empati ku pun menyeruak ada derai air mata di pipiku yang harus ku seka aku tidak ingin membuat nya merasa bersalah karena telah membuat aku menangis juga.

Ini adalah kali ketiga Laila menangis sesunggukan di pangkuan ku, tangis pertamanya adalah saat ia mendapati ayahnya bergelut dengan riba melalui hutang ke bank, tangis kedua nya adalah saat ayah nya tidak memberikan izin untuk Laila mengenakan jilbab ( red : gamis) dan kerudung panjang apalagi kaos kaki serta sebuah tas ransel yang berisi beberapa buku menjadi ‘costum’ yang sangat mengkhawatirkan

Dimata ayah Laila entah pemahaman dari media mana yang sudah berhasil mencekoki Pemikiran dari seorang ayah yang memiliki 4 putri ini  bahwa yang  berpakaian demikian adalah ciri dari teroris namun keistiqomahan nya kini berbuah manis setelah setahun ia dijadikan bahan bulliyan dan ejekan dari Nggota Keluarga nya kini tidak ada lagi yang berani berlaku demikian karena Allah telah meyakinkan dan meneguhkan hati ayah Laila bahwa yang dilakukan nya selama ini adalah keliru kini bila ada yang tidak suka dan senang merendahkan cara berpakaian Laila yang  terlihat aneh karena terdiri dari beberapa lapis pakaian maka ayah Laila akan pasang badan untuk membela Laila sungguh hasil yang manis dari  keteguhan yang luar biasa. Meskipun ayah Laila masih bergelut dengan dunia riba setidaknya pemahaman yang selalu Laila berikan kepada ayah nya

Tidak jarang Laila dicaci maki oleh ayah nya  karena tidak terima diberi tahu oleh anak kecil tapi itu dulu kini mulai memiliki efek tersendiri pelan tapi pasti ayah Laila mulai menyadari semua yang dikatakan Laila padanya di hari lalu “bahwa Riba adalah harta yang membawa petaka ”  kini ayah Laila berkomitmen untuk tidak lagi meminjam uang ke bank setelah hutang ini dilunasi .

Selain Laila adalah anak yang pintar ia juga anak yang taat semenjak ia memutuskan hijrah bersama salah satu ormas yang mengusung pembebasan umat dan penerapan Islam Kaffah Sebagai visi tertinggi nya.

Laila adalah anak yang baik hanya saja dulu ia tidak tau banyak tentang hukum Islam selain rukun iman dan rukun Islam. Tidak pernah sekalipun Laila bermudah mudah dekat dengan lelaki ajnabi meski dulu ia belum paham Islam kendatipun yang menjadi alasan utamanya saat itu adalah risih bila harus berhubungan dengan lelaki asing, beruntung sekali dirinya yang tidak pernah mengorbankan harga diri di hadapan Allah hanya demi sebuah nama dari seorang lelaki yang bukan sesiapa .

Keteguhan nya lah yang membuat ia begitu istimewa Dimata ku, selain Keluarga aku adalah tempat kembali nya pulang setelah berjibaku dengan sedikit pengorbanan waktu dan harta yang dia sumbangsih kan oleh nya di jalan Allah sungguh meskipun usianya lebih muda dariku namun, percayalah bahwa aku tidak lebih dewasa darinya .

Kini Laila masih meringkuk di pelukan ku, aku tidak ingin memaksakan nya untuk berkisah, biar dia sendiri saja yang akan memulai cerita nya aku hanya ingin menenangkan nya dengan cara ku sebagai kakak seorang kakak yang dipertemukan dengan Islam berdasarkan izin Allah itu saja.

* * *

Kini Laila mulai tidak terisak lagi, ku coba untuk memberanikan diri berbicara memecahkan kesunyian

Saya : ” dik Allah tidak akan membebani seseorang hamba diluar kesanggupan nya ” (aku mencoba memaksakan untuk sedikit tersenyum )

Nur Laila :” kak apakah aku buruk ? (Kini matanya menatap dengan tajam ke arah ku, dan air matanya kembali terjatuh meski tanpa suara tangis, ah aku benar benar rapuh dibuat nya )

Saya :” bukan dirimu yang buruk dik, hanya saja ada beberapa hal yang benat namun memang harus terjadi di waktu  yang salah “

Nur Laila : ” termasuk memiliki perasaan yang tepat di waktu yang salah? Demikian kah kak ?”( Kini ia mulai menunduk )

Aku diam tidak bisa berkata apa apa ada banyak kemungkinan yang sedang dipikirkan oleh otak ku tapi bagaimana aku bisa memastikan nya ? Apakah anak ini mulai mengangumi seorang lelaki di luar sana sangka ku padanya .

Nur Laila :” aku berjuang dengan susah payah menjelaskan kepada adik ku agar dia benar benar menjaga jarak dengan lelaki, aku tidak ingin dia hancur kak  huuu uu uu

Kini suara tangis nya semakin terdengar pilu, aku tidak bisa berkata apa apa karena aku pun sedang diposisi yang sama dengan nya, melihat tingkah adik ku yang terkadang Sulit diberi tahu membuat aku merasa lebih hancur dari pada Laila tapi bagaimana pun aku tidak mungkin memberi tahu nya dan bahkan tidak ada sesiapa pun yang tau selain aku dan Allah mengenai sayatan luka yang berulang kali hendak memenangkan ego dan amarah ku ini

Namun ku ingat aku masih punya Allah dan masih banyak orang diluar sana yang memerlukan telinga kita untuk didengarkan ada orang diluar sana yang masih memerlukan mata kita untuk dipinjamkan guna melihat dan ada banyak orang pula yang barangkali masih membutuhkan pundak ini untuk bersandar ..

Aku memang bukan seorang motivator tapi disaat sat genting seperti ini benar benar memaksa ku agar bisa memposisikan diri dengan baik layaknya seorang Kaka

Saya :” Laila sayang, dalam hidup ini tidak ada yang benar benar instan seperti keinginan kita, kalau lah semua bisa didapatkan dengan mudah lalu apa yang menjadi kan seseorang istimewa dan diberikan ganjaran surga. 

Kakak tau kamu lelah tapi ketahuilah bahwa kelelahan datang Mungkin karena kita belum lillah, Allah tidak melihat hasil dari perbuatan kita melainkan Allah ingin melihat seberapa sungguh usaha yang dilakukan untuk mencapai hasil tersebut, sesungguhnya pada hari kiamat kelak semua amal perbuatan akan diperlihatkan balasan nya meski hanya sebesar biji zaraah.

Laila ingat kah engkau pada kisah Rasulullah yang sangat mencintai pamannya yang bernama Abdul Mutalib kakek Rasulullah wafat dalam keadaan enggan masuk Islam dan memilih untuk berpegang teguh pada keyakinan sebelumnya

Meskipun Rasululullah telah membujuk nya dengan berbagai cara bukankah selama hidup paman Rasulullah tidak sedikit  memberikan sumbangsih untuk kehidupan dan dakwah Rasulullah bahkan tidak segan segan pasang badan saat Rasulullah direndahkan namun sayang kedudukan Muhammad sebagai Rasulullah pun tidak bisa memberikan hidayah kepada paman nya

Karena memang tugas manusia hanya untuk mengingat kan dan saling menasehati dalam kebajikan lagi taqwa dan pasal hidayah itu adalah kehendak Allah maka dari itu tidak heran rasanya bahwa imam Syafi’i pernah berkata ” andai hidayah itu bisa dibeli seperti buah maka akan ku beli satu keranjang dan akan ku bagi bagikan kepada orang yang kucintai Kat beliau.

Lalu apalah kedudukan kita sayang. Jangan bersedih karena ini bukan salahmu, ingat tugasmu hanya meluruskan jangan sampai patah. Berdoa lah kepada Allah sebagaimana teguhnya nabi  Yunus saat berdoa di dalam perut ikan paus atau belajar yakin kepada Allah seyakin nabi Ismail saat ingin dikaruniai seorang anak.

Kini sesaat suasana sana kambali hening Laila mulai sedikit lebih tenang, meski matanya masih terlihat mengembun, aku tidak menghapus air matanya barang setitik pun, aku ingin ia merasa bebas untuk menangis Tampa harus merasa malu karena biasanya seseorang akan lebih merasa tenang saat tangis nya bisa menderu dengan bebas. Laila adalah remaja yang hebat aku benar benar terunyuh melihat nya menangis sesunggukan Karana adik yang dia dia sayangi akhirnya Ketahuan bahwa belakang ini ia sedang dekat dengan seorang anak lelaki yang berusia 4 atau 5 tahun lebih tua darinya.

Wajar saja Laila begitu mengkhawatirkan kondisi adiknya, ia sangat takut jika sewaktu waktu adiknya bersikap semakin menjadi jadi lalu siapa yang harus disalahkan.

Laila memang berwatak lembut dan tidak jarang jika terjadi perselisihan diantara keduanya maka Laila lah yang harus  mengalah, entah sudah berapa kali Laila mengingat kan adiknya dengan lembut agar belajar untuk menutup aurat karena mengingat usia adiknya kini telah baligh, tidak jarang yang kita berikan rasa manis akan berbalas dengan sinis, adik nya Laila bukan lah tipe seorang gadis yang hatinya mudah ditaklukkan ia memiliki perinsip ” my life is my rules” dan Laila faham benar akan hal itu

Namun niat baik Laila tidak pernah surut sedikit pun, Layla yakin kelak adiknya akan menjadi seorang wanita yang sholiha meski semua memerlukannya waktu yang tidak sebentar, berulang kali Laila diabaikan oleh adiknya Tampa rasa bersalah namun bagaimana pun tidak pernah ada dendam yang Laila simpan untuk adiknya dengan dalih bahwa adiknya ” perlu waktu untuk memahami dan mengubah cara pandangnya terhadap Islam.

Aku pun pernah berada di masa masa seperti ini diabaikan, dijauhi dan bahkan dijatuhkan rasanya benar benar remuk hati jika bukan keluarga yang menjadi tempat bersandar lalu kemana lagi kita harus berlabuh tapi syukurlah Allah berjanji akan menguatkan orang orang yang berjuang dan berhijrah dijalan yang lurus karena Nya,

Kita dipertemukan dengan orang orang yang mau mengajari tentang arti islam yang sesungguhnya, Allah juga mempertemukan kita dengan orang orang yang mencintai kita karena Allah, itu adalah bagian dari pada bukti bahwa Allah begitu menyayangi kita, dan  kita tidak pernah sendiri.

Dunia dakwah bukanlah jalan untuk orang orang yang lemah ‘ keimanan nya ‘ karena memilih jalan dakwah sebagai poros hidup sama hal nya seperti memilih meninggalkan jalan aspal yang menuju lembah  mengalih pada jalan setapak yang menyuguhkan onak dan duri bahkan batu kerikil tajam yang siapa melukai kapan saja

Namun jalan tersebut pula lah yang mengantarkan musafir nya kesebuah pulau yang indah nan megah tidak semua orang yakin dengan pilihan nya bukan kah banyak orang yang memilih tersesat beramai ramai daripada menuju jalan yang benar seorang diri.

Kini Laila kembali memeluk ku dengan erat sambil mengucapkan terima kasih pada ku, jangan tanya terima kasih untuk apa karena aku sendiri tidak tahu  pasti mengapa ia berterimakasih pada kakak nya ini.  Aku tersenyum dengan senyuman terbaik yang ku punya

Melihat kondisi nya yang mulai membaik Kini ku lepaskan dekapan nya dari tubuh ku

Saya :” bagaimana, sudah merasa baikan ? ” Tanya ku guna meyakinkan

Nur Laila : dia hanya menganguk tak sepatah kata pun keluar dari mulut nya

Saya :” alhamdulillah, semoga tetap istiqamah ya dik !” Ucap ku untuk menguatkan nya.

Nur Laila : ” terimakasih ya kak, semoga Allah memperuntukan surga bagi mu “.

“” Untuk kali ini gantian boleh kan aku yang menangis karena tulus nya doa mu untuk ku ” tutur ku dalam hati

Kini setelah kerinduan kami tuntas kami akan kembali melanjutkannya perjalanan pada tujuan masing masig, di saat Laila menggenggam jemari ku sambil tersenyum sumringah seolah tidak sedang terjadi apa apa pada emosinya yang dari tadi naik turun

Nur Laila :” kak jaga diri baik baik ya, awas ketabrak nyamuk waktu pulang nanti katanya ” (sambil tertawa kecil ) … assalamualaikum kak katanya

Saya : ” waalaikumussalam ” jawab ku. Aku pun bergegas untuk mengemasi barang barang ku memastikan bahwa semua nya masih lengkap aku lupa kalau di tangan ku ada sebuah gantungan kunci yang tadi yang hendak ku hadiahkan untuk Laila

Aku segera meninggalkan tempat tersebut guna menyusul Laila yang jaraknya yang belum cukup jauh

Saya : ” Laila !” Aku sedikit berteriak karena suara bising dari kendaraan yang sibuk berlalu lalang di perempatan jalan tersebut.

Alhamdulilla Laila mendengar suara ku, dia menghentikan langkahnya nya sedangkan aku berjalan dengan langkah yang lebih cepat ke arah nya.

Saya :” ini gantungan kunci untuk mu hasil dari jahitan kakak sendiri ” (jelas ku ) dan ini buku diary kakak semasa hijrah seperti mu, kakak mengabadikan semua nya disini, bila dirimu sedang merasa tidak baik baik saja silahkan baca kisah ini, tapi ingat jangan menangis  sambil membaca nya nanti tinta dari tulisan nya bisa nge-blur lho ” aku hanya sedang belajar menjadi seseorang yang bisa bercanda nya dengan ringan namun tidak menyakiti perasaan siapapun sebwnarnya aku lah  yang harus berterimakasih kepada Laila karena darinya aku banyak belajar bagaimana menjadi seseorang yang tetap bahagia dihadapan orang ramai meski terkadang harus menjadi si cengeng saat sendirian, “doa ku menyetai mu dik” gumam ku di dalam hati .

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 15.45 dan sebentar lagi azan asar akan berkumandang bersahutan dengan lantunan yang indah menandakan telah masuk nya waktu untuk sholat bagi setiap muslim, karena telah lama tak berkunjung ke Takengon jadi untuk melepaskan kerinduan pada mesjid mesjid agung Ruhama yang berdiri megah di tengah kota, langit langit mesjid diukir sedemikian rupa menggunakan tulisan kaligrafi dan juga ukiran motif pakaian adat dari suku Gayo yang mendiami dataran tinggi Tanah Gayo ini selain karena keindahan nya mesjid ini juga menyimpan banyak kenangan yang layak untuk dikenang dalam sejarah kehidupan ku karena disini juga lah tempat aku diajarkan Islam pertama kali sungguh sebuah moment yang begitu indah, ah dasar aku yang perasaan nya begitu mudah tersentuh padahal bukan apa apa kata teman teman ku.

* * *

Sebelum adzan berkumandang aku memutuskan untuk segera berwudhu agar tidak perlu terburu buru, semua ku perhatikan dengan seksama begitu banyak hal yang telah berubah karena pengaruh tentara Allah yang bernama covid-19 ini meski bentuknya begitu kecil namun ada banyak fakta fakta yang tak terbantahkan oleh kehadiran covid-19 ini padahal masih beberapa bulan ia singgah  di bumi ini bahkan memilih untuk melakukan transit di negara tercinta yang kaya raya ini bernama Indonesia,  namun meskipun Indonesia kaya ternyata kekayaan nya yang ditaksir sekian ribu triliun bisa habis dengan waktu yang sangat singkat,

Meskipun awalnya kehadiran covid-19 dijadikan bahan candaan kini semua bagaikan sebuah mimpi seram yang menjadi nyata semua nya berlalu begitu cepat sehingga Indonesia belum sempat mempersiapkannya apapun untuk meladeninya selain lelucon yang akhirnya menelan banyak korban jiwa.

Pandemi ini memang luar biasa hebatnya ia mampu menunjukkan mana pemimpin yang bijaksana  dan mana pemimpin yang bajaksana bajaksini, entah sudah berapa banyak tenaga medis yang tumbang meninggal kan harumnya nama atas dasar pengabdian pedihnya disaat nekes berjibaku dengan kematian ada begitu banyak masyarakat yang tidak perduli dengan pengorbanan para dokter padahal dibalik itu semua ada anak anak yang terus menanti agar pintu yang terkunci dibuka oleh seorang wanita yang mereka panggil mama, ibu atau umi, ada pula diantara perawat yang harus menguasai kan kisahnya sebelum sempat menutup lembaran yang lama bagaikan tidak moment lahiran yang entah sudah berapa ditunggu oleh sepasang manusia mulia itu kini harus terkubur ikut bersama kematian yang membawa serta wanita yang merelakan nyawanya agar bisa melihat keluarga lain bahagia dengan kembali nya si pasien dalam keadaan sehat seperti sedia kala. Kau tidak menangis saat mengetahui faktanya ?

Kalau iya aku tau alasannya mungkin karena bukan keluarga mu yang menjadi salah satu pasien nya atau tenaga medis nya , iya kan ?. Ditengah huru hara negeri ini banyak orang orang yang dulunya dianggap bijak malah memilih Hura Hura sebagai jalan keluar nya, miris, sungguh !.

Dulu pelataran mesjid yang biasanya dipenuhi kendaraan mulai dari sepeda, sepeda motor, becak dan bahkan mobil disaat memasuki waktu sholat kini tidak lagi ada sesak dari ramainya halaman parkir tapi entah mengapa malah perasaan ku yang sesak karena kosong nya pelataran mesjid, tidak ada lagi suara kaki anak anak yang sibuk berlarian kesana kemari disaat orang tua mereka melaksanakan sholat, semua sajadah yang pernah terlentang panjang kini telah tersusun rapi dalam sebuah ruangan yang mungkin fungsi nya sama seperti meusium yakni untuk menyimpan.

Biasanya disaat adzan Dzuhur berkumandang ada pemandangan indah yang disuguhkan oleh siswa sekolah SMP 1 Takengon dengan pakaian putih Dongker nya mereka berduyun duyun datang ke mesjid untuk menunaikan salah satu kewajiban Sebagai muslim aku benar benar sangat merindukan pemandangan itu, sungguh!.

Tempat wudhu yang dibuat sedemikian luasnya dulu terasa begitu sempit tapi kini tempat itu menjadi luas karena hanya aku dan seorang ibu paruh baya yang sedang berwudhu disana.  Sedih sekali aku benar benar tidak bisa menahan air mata saat lantunan adzan diperdengarkan rasanya ingin sekali  bertemu dengan Rab ku menuntaskan kerinduan yang entah sejah kapan mulai tumbuh dan menenangkan semua gejolak jiwa ku. Aku benar benar lelah menyaksikan kedzaliman yang terus berlanjut  mereka begitu buruk ya Rabb mereka yang meminta agar ditunjukkan jalan yang lurus dalam setiap sholat nya namun saat ditawarkan syariat islam sebagai sebuah sistem dan ideologi untuk kepingan bumi ini mereka menolak dengan keras dan tidak segan segan intimidasi pun akan dilakukan

Ya Rabb aku benar benar lelah ya Rabb Usaikan lah perjuangan kami kelak dengan keruntuhan sistem kufur yang akan berganti dengan sistem Islam atau kematian yang manis karena tetap tegap berdiri dibarisan orang orang yang lantang menggenakan pembebasan umat ini aamiin.

Kini aku bergegas ke dalam masjid untuk sholat tahyatal mesjid terlebih dahulu dan kemudian sholat mesjamaah, aku memilih shof depan diantara  belasan wanita yang ikut sholat disini sampai usai. Ada begitu banyak doa yang ku pinta pada Allah termasuk ” semoga orang orang sholih yang saat ini bersama ku kelak ketika tidak menemui ku diantara keramaian Akhiar maka Meraka akan mencari ku serta memberi tahu Allah bahwa aku si buruk ini pernah belajar taat kepada- Nya bersama mereka” .

Setelah semua usai keluar dari mesjid dengan menenteng ransel hitam kesayangan yang dihadiahkan oleh seorang adik yang bernama Fitri Karina semoga kebaikan,rasa syukur serta kebahagiaan senantiasa dilimpahi kepada dirimu dik ..

Ku arahkan langkah kaki ini menuju parkiran mesjid guna mengambil kuda besi ku untuk mengantarkan ku pulang menuju keluarga yang sudah menanti kepulangan ku .. [S]

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.