22 Februari 2024

Dimensi.id-Mendung tak berarti hujan, meski saat ini hujan itu sangat kami harapkan. Mengingat sumur
yang masih menguning dan airnya semakin berkurang, bagaimanakah lagi di kampung. Kulihat para pemuda masih sibuk memperbaiki parit dari 2 hari yang lalu dibongkar.

Tanpa berfikir bagaimana kami akan melintas, bahkan tadi pagi becak tetangga nyaris terperosok kedalamnya. Kemarin pun aku melihat diantara para pekerja itu ada seorang ibu paruh baya, tak kalah dengan anak muda dia memakai Tenaganya untuk membongkar parit. Lagi-lagi ku bertanya kemana pemerintah sebenarnya, dia biarkan kami seperti ini.

Sebelumnya parit itu sudah pernah diperbaiki, namun seperti biasa kerjaan yang ngasal tanpa maksimal menghabiskan dana rakyat. Semua orang tahu bahwa dana itu dipangkas hingga mengerucut, sehingga orang seperti kami hanya mendapatkan “incitnya” (sisanya).

Bahkan dana PKH yang sering diributkan itu tidak semua orang merasakannya. Malah yang mendapatkan itu adalah orang-orang yang lebih punya dari kami. Kali ini pun sama yang bekerja untuk pembuatan parit adalah mereka yang merasa berhak atas wilayah itu.

Aku merasa seperti ada preman juga di lingkup daerah ku tinggali ini. Satu keluarga besar mereka disana yang bekerja, sedangkan orla disingkirkan. Kukira penjajahan sudah tidak ada lagi, penduduk desa bisa apa? seperti itu juga ketika mengantri minyak dan gas.

Mereka seperti merasa punya hak atas tanah nenek moyangnya. Kudengar mamak berbicara sekilas tentang parit itu, tentang anak tetangga yang sedang libur sekolah. Berharap bisa mencari sedikit uang jajan dari sana, sejak ayahnya merantau ke negeri jiran hanya mamaknya yang mencari nafkah, menjadi buruh cuci dan kadang menjaga anak orang.

“Kop jeheut awak nyan, si fadal ie kerja hanjeut, di peugah Cuma deong-dong manteng” (jahat sekali mereka, si fadal kerja gak di kasih katanya Cuma berdiri aja) keluhan mamak merasa aneh sekali
“Maka jih mak, lon hantem kerja ngen awak nyan, lagee nyan dipeulaku” (makanya mak, saya gak mau kerja sama mereka, seperti itu diperlakukan) jawab si adek Didesa ini sejak awal kurasa sangat aneh, penduduknya kaku sekali jangankan menyapa tetangganya, tersenyum pun disini dianggap aneh. Tapi jika urusan perut mereka tak berfikir

orang lain, akan diambil semua hingga tak bersisa. Ah…kenapa aku harus terjebak didaerah ini, masyarakatnya aneh dan kepo urusan orang lain saja. Bahkan disebut kampungnya pencuri dan yang mirisnya yang mengatakan itu aparat keamanannya. Tepok jidatlah…***[S]

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Editor : Azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.