20 Februari 2024
Individualisme
64 / 100

Dimensi.id-Masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan penemuan mayat satu keluarga di dalam satu rumah. Mirisnya, mayat yang ditemukan dalam kondisi sudah membusuk dan mengering. Hal ini terjadi di Kalideres, Jakarta Barat. Hasil otopsi menunjukkan bahwa tidak adanya sisa makanan di dalam lambung mayat. Ada kemungkinan bahwa sebelum tewas, keempat anggota keluarga tersebut tidak makan beberapa hari.

Hal mengejutkan lainnya adalah diprediksi, mayat yang ditemukan sudah berusia sekitar 3 minggu. Artinya, selama 3 minggu bahkan lebih tidak ada yang mengetahui kondisi keluarga tersebut (kompas.com/11/11/2022).

Kejadian di atas, disinyalir karena absennya masyarakat termasuk ketua RT (Rukun Tetangga) dengan kondisi satu keluarga yang telah 20 tahun tinggal di wilayah tersebut. Hal ini dapat disebabkan karena sikap individual di dalam masyarakat. Padahal, jika kondisi keluarga ini diketahui jauh hari sebelumnya, kemungkinan besar tewasnya semua anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut dapat dicegah.

Memang, individualisme atau pandangan untuk lebih mementingkan diri sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat sekuler. Sebab hubungan antar manusia dalam sistem ini lahir dari pemikiran pemisahan agama dalam kehidupan. Artinya, hubungan yang terjadi tidak berdasarkan akidah tertentu tetapi berdasarkan hal lain seperti ikatan kemaslahatan atau asas manfaat.

Sehingga pemikiran ini telah membuat individu dan masyarakat yang terbentuk di dalamnya menjadi sosok yang cenderung acuh dengan kondisi di sekitarnya. Terlebih lagi makna masyarakat di dalam sistem ini hanyalah sebagai kumpulan individu semata.

Pandangan sistem sekuler terhadap masyarakat berbeda dengan definisi masyarakat di dalam Islam. Islam memandang bahwa masyarakat merupakan sekumpulan individu yang hidup bersama di dalam suatu wilayah atau lingkungan dimana antara individu yang satu dengan yang lain terikat dengan peraturan, pemikiran, dan perasaan yang sama.

Baca Juga : Ibu Pertiwi Masih Bersusah Hati

Potret masyarakat di dalam sistem Islam adalah masyarakat yang melakukan interaksi sosial dilandasi dengan ikatan akidah Islam. Ikatan ini akan terus ada dimanapun muslim berada. Ikatan akidah Islam memandang bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lain laksana satu tubuh.

Hal ini seperti yang di sabdakan oleh Rasulullah Saw. “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan berempati ibarat satu tubuh. Dimana jika ada anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain turut merasakan (sakitnya) dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Mutafaq Alaih).

Jika ditelusuri lebih dalam, kejadian yang mengiris hati seperti di atas bukan hanya menunjukkan buramnya potret individualisme di dalam masyarakat. Namun ini juga termasuk buruknya kepengurusan negara terhadap rakyat. Hingga ditemukan sejumlah warga yang tewas tanpa diketahui khalayak umum. Penerapan sistem ekonomi yang buruk, ditambah sistem sosial yang minim empati membuat pemerintahan cenderung abai terhadap kondisi rakyatnya.

Dugaan kelaparan yang menimpa keluarga yang tewas merupakan bukti ketiadaan pemenuhan kebutuhan hidup yang dijamin oleh negara. Apalagi negara menerapkan sistem ekonomi kapitalistik yang membuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.

Oleh karena itu, solusi tuntas untuk permasalahan di atas tidak hanya dengan mengubah tatanan sistem sosial di dalam masyarakat. Namun harus ada tanggung jawab penuh dari negara sebagai pengurus rakyat. Semua itu akan dapat berjalan ketika pemerintah menjadikan mindset Islam sebagai pengatur dalam semua aspek kehidupan. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Firda Umayah

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.