20 Februari 2024
Impian Haris
58 / 100

Haris, remaja berusia 15 tahun itu menghapus air matanya. Ia ikhlas jika mulai esok ia tak bisa bertemu dengan teman-temannya. Setelah merapikan pakaian, ia lantas mencium tangan ibu tanda pamit kepadanya.

“Haris, jaga diri hati-hati ya. Kamu yang patuh sama Pak Santo. Ibu doain, Kamu bisa sukses dan cepat pulang ke rumah,” kata Ibu Haris memberikan pesan.

Haris hanya mengangguk. Ia jalan ke mobil bak terbuka milik pak Santo, suami dari majikan ibu. Ya, Haris putus sekolah karena harus bekerja di toko bangunan pak Santo di luar kota.

Kesulitan ekonomi membuat keluarganya harus banting tulang. Ibunya bekerja sebagai pembantu di rumah pak Santo. Sedangkan ia pun harus bekerja untuk membantu membiayai hidupnya.

Sebenarnya kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya juga banyak dialami oleh keluarga lain. Beban hidup yang semakin tinggi ditambah tidak adanya jaminan kesejahteraan dari pemerintah membuat masyarakat harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Setibanya di toko bangunan pak Santo, Haris tinggal di salah satu kamar toko bersama Mas Udin, pria berusia 21 tahun. Mas Udin adalah kasir toko yang telah lulus SMA.

“Mas, tolong Haris dibimbing. Dia kerja bagian pelayanan di toko mulai besok,” pesan pak Santo kepada mas Udin.

Mas Udin mengiyakan dan mengajak Haris untuk keliling toko bangunan menunjukkan berbagai hal. Haris dengan sigap menyimak dan menanyakan beberapa hal yang tidak ia ketahui.

Hari ini Haris mulai bekerja. Ia sangat rajin dan bertanggung jawab. Mas Udin juga membimbingnya seperti adiknya sendiri. Bahkan keduanya sering shalat berjamaah.

Haris merasa senang tempat kerjanya membuatnya nyaman. Namun ia juga merasa lelah. Bahkan masih teringat akan impiannya untuk melanjutkan sekolah.

Hari itu, Haris melihat mas Udin sibuk dengan beberapa buku yang asing ia lihat. Ia menanyakan perihal buku yang dibaca mas Udin. Rupanya, itu buku kuliah mas Udin.

Mas Udin saat ini kuliah di kampus terbuka khusus untuk para pekerja. Kuliahnya hanya hari Minggu saja. Ini dilakukan mas Udin sejak 4 bulan terakhir. Mas Udin menyisihkan uang gajian tiap bulan hingga bisa mendaftar sebagai mahasiswa baru jurusan pendidikan olahraga.

Karena ingat akan keinginan Haris, ia pun mengatakan bahwa ia masih ingin bersekolah. Ia ingin melanjutkan sekolahnya yang terputus ketika ia masuk ke kelas 9. Mas Udin tersenyum dan berkata, “Kamu bisa ikut kejar paket B, Haris.”

Haris yang masih bingung lantas menanyakan banyak hal kepada mas Udin. Setelah beberapa waktu, senyum Haris pun merekah. Ia bertekad akan mengikuti kejar paket B dan C  jika ia sudah lancar bekerja nanti.

Benar saja. Setiap bulan, Haris mulai menyingsihkan gajinya untuk melanjutkan sekolahnya. Ia juga menyisihkan gajinya untuk membelikan tiga adiknya peralatan sekolah atau hadiah yang mereka sukai.

Sulitnya hidup yang Haris alami sepeninggal ayahnya membuat ia memiliki tanggung jawab yang lebih sebagai anak tertua. Meskipun ia harus bersusah payah membanting tulang, ia bersyukur masih dikelilingi oleh orang-orang baik.

Selain mengikuti kejar paket, Haris juga memiliki impian untuk membuka usaha makanan sendiri. Hal ini agar ibunya tidak perlu repot menjadi pembantu di rumah pak Santo. Ia juga yakin bahwa setiap kesulitan pasti akan ada jalannya. Selama ia tetap berusaha dan tawakal kepada Allah Swt. [Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.