21 April 2024

Dimensi.id-Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi di berbagai wilayah di dunia membuat kepanikan tersendiri bagi masyarakat di seluruh dunia karena penyebaran penularannya yang sangat cepat sehingga dari hari ke hari jumlah pasien yang positif semakin bertambah dan banyak menimbulkan korban jiwa.

Di Indonesia  jumlah peningkatan pasien positif semakin bertambah perharinya sehingga para medis sebagai garda terdepan yang menangani pasien positif Covid-19 kewalahan dalam menangani pasein tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan para medis kewalahan dalam menangani pasien positif Covid-19 diantaranya kesiapan pemerintah dalam menangani pandemi global tersebut seperti penyediaan rumah sakit yang terbatas, jumlah tenaga medis yang masih minim, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang belum memadai serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk bekerjasama dalam menangani pandemi Covid-19 ini.

Jika faktor tersebut tidak segera diperbaiki maka penyebaran pandemi covid-19 ini akan sulit untuk memutus mata rantai penyebarannya justru akan semakin bertambah dari waktu ke waktu dan memunculkan masalah baru yaitu kepanikan masyarakat yang berlebihan.dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Akibat dari kepanikan masyarakat yang berlebihan tersebut ada beberapa warga masyarakat yang menolak perawat dan dokter dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur untuk tidak kos di lingkungan warga tersebut. Rasa takut dan kekhawatiran warga akan tertularnya Covid-19 mempengaruhi nurani para warga tersebut untuk bertindak tidak menyenangkan alias mengusir mereka dari tempat kos yang sudah mereka sewa.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, membenarkan adanya aduan dan keluh kesah dari paramedis tersebut. “Menurut saya tidak harus seperti itu. Justru di masa-masa begini ada perawat da nada dokter di lingkungan kita malah harusnya bersyukur. Bisa menjadi tempat bertanya dan konsultasi dalam bidang kesehatan” katanya.

Hal yang sama juga terjadi di Semarang yaitu penolakan jenazah perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4/2020) yang berujung pada permintaan maaf Gubernur Ganjar yang terkejut mendengar berita tersebut. Selain itu stigma negatif warga yang mengucilkan para ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) PDP yang berada di lingkungannya karena dapat menularkan virus Covid-19 tersebut. Ini menandakan masyarakat kehilangan nurani mereka tentang rasa kemanusiaan akibat kekhawatiran dan rasa takut berlebihan menangani pandemi Covid-19 ini.

Sejatinya mereka para medis dan pasien Covid-19 adalah manusia yang harus kita tolong agar dapat menghentikan penularannya apalagi para medis yang rentan sekali tertular karena menangani langsung pasiennya dan sampai saat ini banyak para medis yang meninggal akibat terpapar virus Covid-19 ini. Bayangkan jika mereka tidak ada pastinya korban jiwa akan semakin bertambah karena tidak ada penanganan. Bayangkan juga jika kita di posisi mereka yang rela meninggal demi merawat pasiennya, apakah kita sanggup? Oleh sebab itu mari kita saling tolong menolong dalam menangani pandemi covid-19 ini.

Pada dasarnya rasa khawatir dan ketakutan masyarakat itu timbul juga akibat dari pemerintah yang abai dan lamban dalam menangani pandemi ini, kurangnya peran pemerintah atau Negara dalam mengayomi mereka, memberikan jaminan keamanan dan ketersediaan pangan yang memadai serta memberikan fasilitas kesehatan yang memadai belum juga di lakukan pemerintah.

Pemerintah seakan – akan lepas tangan dalam mengurusi rakyatnya sehingga rakyat harus bertindak mandiri dalam menangani pandemi ini padahal peran pemerintah yang sangat penting dalam mengambil kebijakan untuk melanjutkan kelangsungan hidup rakyatnya bukan ketidakpastian kebijakan yang diambil saat ini sehingga membuat masyarakat sendiri yang bertindak tidak manusiawi.

Pada saat ini kita hidup dalam sistem kapitalisme yang penguasanya lebih mementingkan material ekonomi dari pada nyawa rakyatnya padahal dalam islam pemimpin muslim yang bertakwa akan senantiasa memperhatikan urusan dan kemaslahatan rakyatnya. Sebab dia takut kelak di hari Kiamat rakyatnya menuntut dirinya dihadapan Allah S.W.T atas kemaslahatan yang terabaikan. Dia pun sadar harus bertanggung jawab atas semua urusan rakyatnya di hadapan Allah S.W.T kelak termasuk urusan menjaga kesehatan masyarakat. Rasulullah S.A.W bersabda “Pemimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Pada saat kepemimpinan Khilafah Umar r.a pernah terjadi wabah Tha’un kemudian Khalifah Umar r.a melakukan metode karantina wilayah ditempat yang terkena wabah tersebut serta menjamin pelayanan kesehatan secara gratis untuk seluruh rakyat di wilayah tersebut. Negara harus mendirikan rumah sakit, laboratorium pengobatan dan fasilitas yang lainnya untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat agar wabah cepat berakhir. Negara pun wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyat khususnya kebutuhan pangan di wilayah tersebut.

Adapun orang – orang sehat di luar wilayah yang dikarantina tetap melanjutkan kerja mereka sehingga kehidupan sosial dan ekonomi tetap berjalan. Seandainya metode khilafah Umar r.a diterapkan di Indonesia Insya Allah masyarakat tidak akan memiliki rasa takut dan kekhawatiran yang berlebihan sehingga mempengaruhi nuraninya untuk bertindak tidak manusiawi karena sesungguhnya  Islam bukan hanya agama ritual saja akan tetapi terkandung aturan yang shahih di dalamnya.[ia]

Penulis : Lesa Mirzani, S.Pd

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.