4 Maret 2024
Hijab Abella
60 / 100

Gadis berhidung mancung dengan balutan “Coat” hitam itu masih setia duduk di salah satu kursi di pinggir sungai Seine. Semilir angin sore sesekali menyentuh balutan penutup wajahnya yang juga warna senada. Napasnya berhembuskan kalimat toyibah dalam lisannya.

Gadis berusia 21 tahun yang dikenal ramah itu masih setia menanti temannya. Teman seperjuangan yang selalu mendukungnya untuk mempelajari Islam lebih dalam.

“Hai Abella, kenapa kamu masih di sini?” Tanya Irene.

“Aku menunggumu,” jawab Abella.

“Lantas apa yang kau pikirkan selama menantimu?”, Tanya Irene kembali.

“Aku merindukan kedamaian masa lalu,” Jawab Abella.

“Kamu merindukan aku?”. Irene kembali bertanya.

Wajah Abella seketika tersenyum. Temannya Irene memang pandai menghibur hatinya.

Ya, Irene adalah teman kampus Abella. Dia adalah muslimah sama sepertinya. Irene sendiri memiliki arti damai. Oleh karena itu, Irene menghibur Abella dengan ungkapan namanya sendiri.

Sore itu, Abella pulang bersama Irene berjalan kaki menuju salah satu gedung apartemen. Irene tak lupa terus menguatkan Abella agar ia Istiqomah di dalam agama Islam. Sebab, menjadi muslim di negeri Eifel memang tidak mudah.

Jauh beberapa waktu silam, pemerintah Perancis dengan terang menghina Nabi Umat Islam, Muhammad Saw. Kebencian pemerintah dan sebagian warganya terhadap Islam terjadi karena adanya islamofobia.

Ketakutan akan ajaran dan umat Islam membuat sebagian rakyat Perancis enggan menerima keberadaan muslim. Tak peduli meskipun mereka adalah warga pribumi Perancis.

Abella dan Irene adalah sebagian kecil dari mualaf yang berhasil bertahan menggunakan hijab mereka hingga saat ini. Namun, dalam hati kecil Abella ia merindukan hijab lamanya yang kini tersimpan dalam lemari.

“Abella, keluar dan makanlah,” kata Mama Abella.

“Ya, Mama,” sahut Abella.

Abella bergegas mengembalikan penutup wajah berwarna hitam yang sempat ia gunakan dulu ke dalam lemari.

Malam itu, seperti biasa, Abella makan malam bersama keluarganya yang berbeda agama. Saat jamuan makan, Abella tetap berusaha ceria sebagaimana mestinya. Namun, Mama Abella tak tahu betul kegundahan hatinya.

“Abel, sudahlah. Jangan kau sesali penutup wajah itu. Bukankah masih baik kau bisa menggunakan penutup kepala saat kau keluar rumah?”. Ucap Mama menguatkan Abella.

Abella hanya mengangguk. Ia lantas berterima kasih kepada Mama dan kakak perempuannya. Sebab keduanya masih menerimanya tinggal di rumah bersama.

Setelah makan malam, Abella kembali ke kamar untuk belajar. Ia menyadari bahwa tak mudah menjadi muslim di negeri yang sarat akan “misigonis”. Ia pun berusaha ikhlas untuk tidak lagi memakai cadarnya yang sempat ia gunakan meski hanya beberapa saat kala itu.

Abella memahami bahwa cadar telah lama dilarang oleh pemerintahnya. Ia juga tahu bahwa cadar hanyalah sebuah kebolehan bukan kewajiban seperti “Khimar” dan “jilbab”.

Ketika malam itu Abella hendak tidur, gawai di dalam tas ranselnya berbunyi. Abella membaca pesan dalam gawainya dengan seksama. Ia mengatur napasnya karena tak menyangka isi pesan yang ia terima.

“Assalamualaikum, Abella. Besok kau tak akan bisa mengikuti lomba memanah. Karena pemerintah Perancis telah menetapkan larangan penggunaan hijab di bidang olahraga”.

Begitulah isi pesan Irene sahabatnya. Abella hanya bisa pasrah sembari memohon kepada Allah Swt agar senantiasa menjadikannya Istiqomah dalam hijabnya. Ia juga selalu berharap suatu saat nanti Islam akan bersinar di bumi Eifel yang ia tinggali kini.[Dms]

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.